Ledre merupakan jajanan khas sekaligus identitas Bojonegoro yang telah resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Status ini diberikan oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek pada tahun 2021 sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa Timur. Ledre memiliki cita rasa cenderung manis, renyah, dan memiliki aroma khas pisang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Ledre | |
|---|---|
Ledre adalah jajanan khas Bojonegoro yang sering dijadikan oleh-oleh. | |
| Nama lain | kue semprong pisang, endre-endre, emping gulung |
| Jenis | Kue |
| Sajian | Makanan ringan |
| Tempat asal | Indonesia |
| Daerah | Bojonegoro |
| Suhu penyajian | Suhu ruangan |
| Bahan utama | Pisang raja, Tepung beras, tapioka, telur, gula, santan |
| 405 kkal (1696 kJ) | |
Ledre merupakan jajanan khas sekaligus identitas Bojonegoro yang telah resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Status ini diberikan oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek pada tahun 2021 sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa Timur. Ledre memiliki cita rasa cenderung manis, renyah, dan memiliki aroma khas pisang.[1]
Ledre adalah camilan tradisional yang diciptakan oleh Mak Min Tjie pada tahun 1943 sebagai solusi menghadapi kelaparan di masa penjajahan Jepang. Nama "Ledre" diambil dari istilah edre-edre yang berarti diorak-arik, sesuai teknik pembuatannya. Meski awalnya berbahan dasar tepung beras dan gaplek dengan bentuk lembaran lipat, kini Ledre telah berevolusi menjadi camilan berbentuk gulungan kecil yang lebih modern.[2]
Seiring waktu, penganan Ledre telah mengalami transformasi signifikan, baik dari segi varian rasa maupun bentuk. Jika awalnya hanya berbahan gaplek, kini tersedia beragam pilihan rasa seperti pisang, cokelat, dan berbagai macam buah. Bentuknya pun berkembang dari model lipatan menjadi bentuk gulung dan mini.[2]
Meskipun sempat mencapai puncak popularitas pada tahun 1970-1980 dan sempat meredup, Ledre kembali diminati sejak awal tahun 2000-an. Namun, Ny. Seger selaku ahli waris dari Mak Min Tjie, menegaskan bahwa ibundanyalah pionir asli penganan ini. Beliau menyayangkan banyaknya pihak yang mencoba mengklaim hak cipta atas penemuan Ledre, yang memicu reaksi keras dari keluarga besar Mak Min Tjie.[2]
Keistimewaan Ledre terletak pada standar pembuatannya yang ketat, mulai dari penggunaan gula pasir hingga wajan baja kuno yang diwariskan lintas generasi. Makanan ini bukan hanya pendamping teh, melainkan simbol sejarah kemiskinan masa lalu dan pengikat kasih sayang antar-keluarga. Melalui sepotong Ledre, warisan budaya dan nilai silaturahmi terus terjaga dari nenek moyang hingga generasi saat ini.[2]
Ledre dimasak secara tradisional menggunakan wajan baja, arang, dan alat perata kayu bernama lethok. Akibat kelangkaan gaplek sebagai bahan utama, ledre kini dibuat dari campuran tepung beras, tapioka, telur, pisang raja, dan santan. Varian rasanya pun terus berkembang melalui penambahan berbagai bahan perasa.[3]
Ledre pisang merupakan sumber energi tinggi. Berdasarkan data Komposisi Gizi TKPI, dalam setiap 100 gram bahan yang dapat dimakan (BDD 100%) terkandung air sebanyak 3,6 gram dan energi sebesar 405 kilokalori. Kandungan zat gizinya meliputi protein 4,8 gram, lemak 5,1 gram, karbohidrat 84,9 gram, serat 0,4 gram, serta abu 1,6 gram. Selain itu, bahan pangan ini mengandung sejumlah mineral, yaitu kalsium 59 miligram, fosfor 124 miligram, dan besi 2,6 miligram. Dari segi vitamin dan senyawa karotenoid, terdapat beta-karoten 4 mikrogram, total karoten 7.330 mikrogram, tiamin (vitamin B1) 0,41 miligram, serta tidak mengandung vitamin C (0 miligram).[4][5]
Pada tahun 2021 Pemerintah Indonesia telah menetapkan Ledre sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Penetapan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No SK: 372/M/2021, dengan kode referensi AA001380.[6]