Laylā binti Ṭarīf adalah seoarang penyair dan pejuang wanita Arab dan seorang Khawarij, sebuah kelompok yang terkenal fanatik dan oposisi sengit Kekhalifahan yang ada, memercayai bahwa pemimpin komunitas Muslim tidak hanya terbatas kepada laki-laki Arab dari Suku Quraisy saja. Sebagai kelompok yang memiliki wanita yang berperang bersama Nabi Muhammad, Khawarij memandang bahwa perempuan juga wajib berperang, dan Layla binti Tarif adalah contoh yang nyata. Layla adalah saudara wanita dari pemimpin Khawarij, Al-Walid bin Tarif al-Shaybani. Setelah kematina Al-Walid, Layla mengambil alih kepemimpinan tentaranya dan berperang pada dua pertempuran sebelum klannya memaksa Layla untuk turun dari kepemimpinan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Layla bint Tarif di en .wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan. (Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel) |
Laylā binti Ṭarīf (bahasa Arab: لَيلْى بنت طريفcode: ar is deprecated ; meninggal 815 M) adalah seoarang penyair dan pejuang wanita Arab dan seorang Khawarij, sebuah kelompok yang terkenal fanatik dan oposisi sengit Kekhalifahan yang ada, memercayai bahwa pemimpin komunitas Muslim tidak hanya terbatas kepada laki-laki Arab dari Suku Quraisy saja.[1] Sebagai kelompok yang memiliki wanita yang berperang bersama Nabi Muhammad, Khawarij memandang bahwa perempuan juga wajib berperang, dan Layla binti Tarif adalah contoh yang nyata.[2] Layla adalah saudara wanita dari pemimpin Khawarij, Al-Walid bin Tarif al-Shaybani (meninggal 795). Setelah kematina Al-Walid, Layla mengambil alih kepemimpinan tentaranya dan berperang pada dua pertempuran sebelum klannya memaksa Layla untuk turun dari kepemimpinan.[3]
Sebagaimana diterjemahkan oleh al-Udhari, syair Layla tentang saudara laki-lakinya yang gugur:[4]
Di bukit Nubatha berdiri sebuah pusara tinggi setinggi gunung, tamunya adalah jiwa yang dermawan dengan keinginan yang teguh dan pikiran yang tanggap.
Dia adalah lelaki muda yang hidupnya bersih dan hartanya didapat dari pedang dan tombak.
Kami merindukannya seperti musim semi, Aku berharap kami bisa menebusnya dengan ribuan bangsawan kami.
Pohon tua, engkau masih mempunyai daun-daunmu, apakah engkau merindukan Ibnu Tarif?
Semoga Allah memberikannya keselamatannya, karena tidak ada tuan (orang) yang lolos dari takdirnya.
Puisinya dipengaruhi penyair perempuan terdahulu, al-Khansa.[5]