Kura-kura Sungai Kalimantan atau Bajuku adalah spesies kura-kura dalam famili Bataguridae. Spesies ini merupakan monotipe dalam genus Orlitia. Kura-kura ini dapat ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Bajuku sering keliru disebut sebagai Biuku atau Byuku, yang sebenarnya mengarah pada kura-kura tuntong sungai.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kura-kura Byuku | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Reptilia |
| Ordo: | Testudines |
| Subordo: | Cryptodira |
| Superfamili: | Testudinoidea |
| Famili: | Geoemydidae |
| Genus: | Orlitia Gray, 1873 |
| Spesies: | O. borneensis |
| Nama binomial | |
| Orlitia borneensis Gray, 1873 | |
| Sinonim[3] | |
| |
Kura-kura Sungai Kalimantan atau Bajuku (Orlitia borneensis) adalah spesies kura-kura dalam famili Bataguridae. Spesies ini merupakan monotipe dalam genus Orlitia.[3] Kura-kura ini dapat ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Bajuku sering keliru disebut sebagai Biuku atau Byuku, yang sebenarnya mengarah pada kura-kura tuntong sungai.
Spesies ini merupakan kura-kura air tawar terbesar di Asia Tenggara, dengan panjang maksimum mencapai 80 cm dan berat maksimum hingga 50 kg. Hewan ini hidup di danau besar, rawa, dan sungai yang alirannya lambat. Spesies yang sebagian besar bersifat piscivor (pemakan ikan) ini memiliki karapas berwarna cokelat tua atau hitam yang halus dan berbentuk oval, serta plastron berwarna cokelat kekuningan pucat hingga putih kusam. Kepalanya kuat dengan rahang yang kokoh dan moncong yang sedikit menonjol; kepala individu dewasa berwarna cokelat tua hingga hitam secara seragam, sedangkan individu muda memiliki pola gelap dengan garis pucat yang memanjang dari mulut hingga bagian belakang kepala.[4] Spesies ini sesekali memakan buah yang jatuh dan dapat pula mengonsumsi vertebrata lain yang tersedia. Spesies ini diekspor dalam jumlah besar dari Indonesia karena dagingnya yang sangat dihargai, dan meskipun langka, spesies ini tidak dilindungi di Malaysia.[5] Perusakan habitat untuk perkebunan kelapa sawit serta perburuan untuk perdagangan obat tradisional Tionghoa juga turut menyebabkan statusnya menjadi Kritis menurut IUCN.[4]