Kuinina, kinina atau kina adalah alkaloid kristal putih alami yang memiliki rasa pahit dan mempunyai sifat antipiretik, antimalaria, analgesik, serta antiinflamasi. Senyawa stereoisomer dari kuinidina ini merupakan pengobatan efektif pertama untuk malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan mulai digunakan pada sekitar abad ke-17. Pengobatan malaria dengan kuinina tetap menjadi pilihan hingga 1940-an sampai digantikan oleh obat-obatan lain. Perolehan kuinina dari kulit pohon kina pertama kali ditemukan oleh suku Indian Quechua di Peru dan dibawa ke Eropa pertama kali oleh Yesuit.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Data klinis | |
|---|---|
| Kategori kehamilan | |
| Rute pemberian | Oral, intravenous |
| Kode ATC | |
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | 76 to 88% |
| Pengikatan protein | ~70% |
| Metabolisme | Hepatic (mostly CYP3A4 and CYP2C19-mediated) |
| Waktu paruh eliminasi | ~18 hours |
| Ekskresi | Renal (20%) |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| DrugBank | |
| ChemSpider | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.004.550 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C20H24N2O2 |
| Massa molar | 324.417 g/mol |
| Titik leleh | 177 °C (351 °F) |
Kuinina, kinina atau kina adalah alkaloid kristal putih alami yang memiliki rasa pahit dan mempunyai sifat antipiretik (penawar panas), antimalaria, analgesik (penawar sakit), serta antiinflamasi. Senyawa stereoisomer dari kuinidina ini merupakan pengobatan efektif pertama untuk malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan mulai digunakan pada sekitar abad ke-17. Pengobatan malaria dengan kuinina tetap menjadi pilihan hingga 1940-an sampai digantikan oleh obat-obatan lain. Perolehan kuinina dari kulit pohon kina pertama kali ditemukan oleh suku Indian Quechua di Peru dan dibawa ke Eropa pertama kali oleh Yesuit.