Kuil Asymun adalah sebuah tempat ibadah kuno yang dipersembahkan kepada Asymun, dewa penyembuhan Fenisia. Kuil ini terletak di dekat Sungai Awali, 2 kilometer (1,2 mi) di timur laut Sidon di bagian barat daya Lebanon. Situs ini didiami sejak abad ke-7 SM hingga abad ke-8 M, yang mengindikasikan adanya hubungan terpadu dengan kota Sidon di dekatnya. Meskipun awalnya dibangun oleh raja Sidon Eshmunazar II pada era Akhemeniyah untuk merayakan pulihnya kekayaan dan status kota tersebut, kompleks kuil ini diperluas secara besar-besaran oleh Bodashtart, Yatonmilk, dan para raja sesudahnya. Karena ekspansi yang berkelanjutan tersebut merentang selama berabad-abad di tengah silih bergantinya kemerdekaan dan hegemoni asing, tempat suci ini menampilkan kekayaan gaya dan pengaruh arsitektur serta dekoratif yang beragam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

𐤁𐤕 𐤀𐤔𐤌𐤍 | |
Takhta Astarte di Kuil Asymun | |
| Lokasi | Bustan asy-Syaikh, dekat Sidon, Lebanon |
|---|---|
| Koordinat | 33°35′08″N 35°23′53″E / 33.58556°N 35.39806°E / 33.58556; 35.39806[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kuil_Asymun¶ms=33_35_08_N_35_23_53_E_type:landmark <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">33°35′08″N</span> <span class=\"longitude\">35°23′53″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">33.58556°N 35.39806°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">33.58556; 35.39806</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt6\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kuil_Asymun&params=33_35_08_N_35_23_53_E_type:landmark\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">33°35′08″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">35°23′53″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">33.58556°N 35.39806°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">33.58556; 35.39806</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> |
| Sejarah | |
| Pendiri | Eshmunazar II, Bodashtart |
| Didirikan | Abad ke-7 SM |
| Ditinggalkan | Abad ke-4 M |
| Budaya | Fenisia, Akhemeniyah, Helenistik dan Romawi |
| Catatan situs | |
| Ditemukan | 1900 |
| Tanggal ekskavasi |
|
| Arkeolog | |
| Kondisi | Reruntuhan |
| Pemilik | Pemerintah Lebanon |
| Pengelola | Direktorat Jenderal Purbakala[1] |
| Akses umum | Ya (berbayar) |
| Architecture | |
| Gaya arsitektur | Fenisia, Akhemeniyah, Helenistik dan Romawi |
Kuil Asymun (Arab: معبد أشمونcode: ar is deprecated ) adalah sebuah tempat ibadah kuno yang dipersembahkan kepada Asymun, dewa penyembuhan Fenisia. Kuil ini terletak di dekat Sungai Awali, 2 kilometer (1,2 mi) di timur laut Sidon di bagian barat daya Lebanon. Situs ini didiami sejak abad ke-7 SM hingga abad ke-8 M, yang mengindikasikan adanya hubungan terpadu dengan kota Sidon di dekatnya. Meskipun awalnya dibangun oleh raja Sidon Eshmunazar II pada era Akhemeniyah (ca 529–333 SM) untuk merayakan pulihnya kekayaan dan status kota tersebut, kompleks kuil ini diperluas secara besar-besaran oleh Bodashtart, Yatonmilk, dan para raja sesudahnya. Karena ekspansi yang berkelanjutan tersebut merentang selama berabad-abad di tengah silih bergantinya kemerdekaan dan hegemoni asing, tempat suci ini menampilkan kekayaan gaya dan pengaruh arsitektur serta dekoratif yang beragam.
Tempat suci ini terdiri dari sebuah esplanade dan pelataran agung yang dibatasi oleh dinding teras batu kapur besar yang menopang sebuah podium monumental; podium ini dulunya dipuncaki oleh kuil marmer Asymun yang bergaya Yunani-Persia. Tempat suci ini memiliki serangkaian bak ablusi ritual yang dialiri oleh kanal-kanal air dari Sungai Asclepius (Awali modern) dan dari mata air "YDLL" yang keramat;[nb 1] instalasi-instalasi ini digunakan untuk tujuan terapeutik dan penyucian yang menjadi ciri khas kultus Asymun. Situs tempat suci ini telah menghasilkan banyak artefak berharga, terutama yang bertuliskan teks Fenisia, seperti Prasasti Bodashtart dan Prasasti Asymun, yang memberikan wawasan berharga mengenai sejarah situs tersebut dan sejarah Sidon kuno.
Kuil Asymun mengalami pemugaran pada masa awal Kekaisaran Romawi dengan penambahan jalan berkolonade, tetapi mengalami kemunduran akibat gempa bumi dan tenggelam dalam kelenyapan seiring Kekristenan menggantikan politeisme, serta balok-balok batu kapurnya yang besar digunakan untuk mendirikan bangunan-bangunan di kemudian hari. Situs kuil ini ditemukan kembali pada tahun 1900 oleh para pemburu harta karun lokal yang memancing keingintahuan para sarjana internasional. Maurice Dunand, seorang arkeolog Prancis, mengekskavasi situs ini secara menyeluruh dari tahun 1963 hingga pecahnya Perang Saudara Lebanon pada tahun 1975. Setelah berakhirnya permusuhan dan mundurnya Israel dari Lebanon Selatan, situs ini direhabilitasi dan didaftarkan ke dalam daftar tentatif Situs Warisan Dunia.
Asymun atau Eshmun dalam transliterasi bahasa Inggris (bentuk Latinisasi dari Fenisia 𐤀𐤔𐤌𐤍) adalah dewa penyembuhan dan pembaruan hidup Fenisia; ia adalah salah satu ilah terpenting dari panteon Fenisia dan ilah laki-laki utama Sidon. Awalnya merupakan ilah alam, dan dewa vegetasi musim semi, Asymun disetarakan dengan dewa Babilonia Tammuz. Perannya kemudian meluas di dalam panteon Fenisia, dan ia memperoleh atribut surgawi dan kosmis.[2] Mitos Asymun dikisahkan oleh filsuf Neoplatonis Suriah abad keenam Damaskios dan Patriark Konstantinopel abad kesembilan, Photios. Mereka menuturkan bahwa Asymun, seorang pemuda dari Beirut, sedang berburu di hutan ketika Astarte melihatnya dan terpesona oleh ketampanannya. Sang dewi terus mendesaknya dengan pengejaran asmaranya hingga Asymun mengebiri dirinya sendiri dengan sebuah kapak dan mati. Dewi yang berduka itu menghidupkan kembali Asymun dan membawanya ke surga di mana ia menjadikannya dewa surga.[nb 2][3]
Dari perspektif sejarah, penyebutan tertulis pertama tentang Asymun berasal dari tahun 754 SM, tanggal penandatanganan perjanjian antara raja Asyur Ashur-nirari V dan Mati'el, raja Arpad; Asymun tampil dalam teks tersebut sebagai pelindung perjanjian.[4] Asymun diidentifikasikan dengan Asklepios sebagai akibat dari pengaruh Helenik atas Fenisia; bukti paling awal dari penyamaan ini ditunjukkan oleh koin-koin dari Amrit dan Akko dari abad ketiga SM. Fakta ini dicontohkan oleh nama-nama yang dihelenisasi dari sungai Awali yang dijuluki Asclepius fluvius, dan hutan-hutan di sekitar Kuil Asymun, yang dikenal sebagai hutan Asklepios.[2]
Pada abad ke-9 SM, raja Asyur Ashurnasirpal II menaklukkan pegunungan Lebanon dan kota-kota pesisirnya. Para penguasa baru memungut upeti dari Sidon, bersama dengan setiap kota Fenisia lainnya. Pembayaran ini memicu pencarian Sidon akan cara-cara baru penyediaan perbekalan dan mendorong emigrasi serta ekspansi Fenisia, yang memuncak pada abad ke-8 SM.[4] Ketika raja Asyur Sargon II mangkat pada tahun 705 SM, Raja Luli bergabung dengan bangsa Mesir dan Yehuda dalam pemberontakan yang gagal melawan kekuasaan Asyur,[5] namun terpaksa melarikan diri ke Kition (Larnaca modern di Siprus) seiring kedatangan tentara Asyur yang dipimpin oleh Sanherib, putra dan penerus Sargon II. Sanherib mendudukkan Ittobaal di takhta Sidon dan memberlakukan kembali upeti tahunan.[5][6] Ketika Abdi-Milkutti naik ke takhta Sidon pada tahun 680 SM, ia juga memberontak melawan bangsa Asyur. Sebagai tanggapan, raja Asyur Esarhadon mengepung kota tersebut. Abdi-Milkutti ditangkap dan dipenggal pada tahun 677 SM setelah pengepungan selama tiga tahun, sementara kotanya dihancurkan dan dinamai ulang menjadi Kar-Ashur-aha-iddina (pelabuhan Esarhadon). Wilayah Sidon dilucuti, yang kemudian dianugerahkan kepada Baal I, raja saingannya dari Tirus, dan vasal setia Esarhadon.[4][7][8] Baal I dan Esarhadon menandatangani sebuah perjanjian pada tahun 675 di mana nama Asymun tampil sebagai salah satu dewa yang diseru sebagai penjamin perjanjian tersebut.[nb 3][3][9]

Sidon kembali ke tingkat kemakmuran lamanya ketika Tirus dikepung selama 13 tahun (586–573 SM) oleh Nebukadnezar II.[10] Kendati demikian, raja Sidon masih ditahan dalam pengasingan di istana Babilonia.[4][11] Sidon merebut kembali kedudukan lamanya sebagai kota utama Fenisia di Kekaisaran Akhemeniyah (ca529–333 SM).[4][11][12] Eshmunazar I, seorang imam Astarte dan pendiri dinasti yang menyandang namanya, menjadi raja sekitar masa penaklukan Akhemeniyah atas Levant. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa, pada saat kemunculan dinasti Eshmunazar, sudah terdapat ruang kultus di situs kuil tersebut, tetapi belum ada bangunan monumental. Pada mulanya, pusat peribadatan mungkin berupa sebuah gua atau mata air.[13] Pada tahun-tahun berikutnya, Xerxes I menganugerahi raja Eshmunazar II dengan Dataran Sharon[nb 4] atas pengerahan armada Sidon dalam layanannya selama Perang Yunani-Persia.[4][11][12] Eshmunazar II memamerkan kekayaan yang baru diperolehnya dengan membangun banyak kuil untuk dewa-dewa Sidon. Prasasti yang ditemukan pada sarkofagus sang raja mengungkapkan bahwa ia dan ibunya, Amoashtart, membangun kuil-kuil untuk para dewa Sidon,[4] termasuk Kuil Asymun di dekat "sumber Ydll di dekat bak penampung".[14][15]

Sebagaimana dibuktikan oleh Prasasti Bodashtart pada fondasi podium monumental tersebut, pembangunan podium tempat suci tidak dimulai hingga masa pemerintahan Raja Bodashtart.[16] Kumpulan prasasti pertama hanya memuat nama Bodashtart, sementara kumpulan kedua memuat namanya dan nama putra mahkota Yatonmilk.[4][17] Tiga puluh prasasti fondasi telah diketahui hingga saat ini;[18] prasasti-prasasti tersebut ditemukan tersembunyi di bagian dalam podium. Praktik penyembunyian prasasti secara sengaja ini dapat ditelusuri kembali ke akar Mesopotamia, dan memiliki kesejajaran dalam bangunan-bangunan kerajaan Akhemeniyah di Persia dan Elam.[19] Sebuah prasasti Fenisia, yang terletak 3 kilometer (1,9 mi) di hulu kuil dan berasal dari tahun ke-7 pemerintahan Bodashtart, menyinggung pekerjaan penyaluran air dari sungai Awali ke sumber "Ydll" yang digunakan untuk penyucian ritual di kuil tersebut.[4][20]
Tempat suci Asymun mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada abad ke-4 SM, yang meruntuhkan kuil marmer di puncak podium; struktur ini tidak dibangun kembali, tetapi banyak kapel dan kuil yang kemudian ditambahkan di dasar podium.[21][22] Situs kuil ini tetap menjadi tempat ziarah pada masa antikuitas klasik selama awal Kekaisaran Romawi dan hingga munculnya Kekristenan, ketika kultus Asymun dilarang selama Penganiayaan kaum pagan di akhir Kekaisaran Romawi dan sebuah gereja Kristen dibangun di situs kuil di seberang jalan Romawi dari podium tersebut.[22][23] Sebuah kolonade Romawi dibangun pada abad ketiga, kemungkinan oleh kaisar Septimius Severus, dan keberadaan sebuah Vila Romawi menunjukkan periode pentingnya kembali kota tersebut secara relatif selama periode akhir Fenisia di bawah kekuasaan Romawi. Lebih lanjut, di dalam situs kuil Fenisia yang asli, bangsa Romawi menambahkan tangga prosesi, bak-bak untuk ablusi, dan sebuah nymphaeum dengan mozaik bergambar, yang sebagian besar masih utuh. Patung-patung kecil tiga nimfa yang telah aus berdiri di relung-relung air mancur Romawi.[24] Gempa bumi lain melanda Sidon sekitar tahun 570 M; Antoninus dari Piacenza, seorang peziarah Kristen Italia, menggambarkan kota tersebut sebagian berupa reruntuhan. Selama bertahun-tahun setelah hilangnya kultus Asymun, situs tempat suci ini digunakan sebagai tambang batu:[22] Emir Fakhr-al-Din II menggunakan balok-balok masifnya untuk membangun jembatan di atas sungai Awali pada abad ke-17.[25] Situs ini kemudian tenggelam dalam kelenyapan hingga abad ke-19[22]

Antara tahun 1737 dan 1742, Richard Pococke, seorang antropolog Inggris, berkeliling Timur Tengah dan menulis tentang apa yang ia kira sebagai reruntuhan dinding pertahanan yang dibangun dengan balok-balok batu 37-meter (121 ft) di dekat sungai Awali. Ketika orientalis Prancis Ernest Renan mengunjungi daerah tersebut pada tahun 1860, ia memperhatikan bahwa kepala jembatan Awali dibangun dari balok-balok yang dirustikasi dengan halus yang berasal dari struktur sebelumnya. Ia juga mencatat dalam laporannya, Mission de Phénicie, bahwa seorang pemburu harta karun lokal memberitahunya tentang sebuah bangunan besar di dekat jembatan Awali.[26] Penemuan tersebut dilakukan pada tahun 1900 oleh empat pekerja yang sedang mengambil balok-balok dari kuil atas nama tokoh terkemuka Druze Nassib Jumblatt. Mereka memperhatikan bahwa balok-balok tertentu memiliki prasasti dengan ukiran yang dicat merah. Seorang pedagang barang antik lokal membeli tiga dari batu-batu tersebut, semuanya dengan prasasti yang sama. Karena ukuran balok yang sangat besar, balok-balok tersebut dipotong hingga setebal 15 atau 20 cm saja, dan beberapa batu juga dipotong menjadi dua atau tiga bagian.[27] Otoritas Utsmaniyah mengutus Theodore Makridi, kurator Museum Konstantinopel, yang membersihkan sisa-sisa kuil antara tahun 1901 dan 1903.[26] Wilhelm Von Landau juga mengekskavasi situs tersebut antara tahun 1903 dan 1904.[4] Pada tahun 1920, Gaston Contenau memimpin tim arkeolog yang kembali mensurvei kompleks kuil tersebut.[26] Ekskavasi arkeologis ekstensif pertama yang menyingkap sisa-sisa Kuil Asymun dilakukan oleh Maurice Dunand antara tahun 1963 dan 1975.[4][28] Bukti arkeologis menunjukkan bahwa situs tersebut didiami dari abad ketujuh SM hingga abad kedelapan M.[29]
Selama Perang Saudara Lebanon dan pendudukan Israel di Lebanon Selatan (1985–2000), situs kuil tersebut terbengkalai dan dirambati oleh pertumbuhan vegetasi liar;[30] situs ini kemudian dibersihkan dan dipulihkan kembali ke kondisi semula setelah penarikan mundur pasukan Israel. Kini, tempat suci Asymun dapat dikunjungi sepanjang tahun tanpa dipungut biaya; tempat ini dapat diakses melalui jalur keluar dari jalan raya utama Lebanon Selatan di dekat pintu masuk utara Sidon. Situs ini memiliki kepentingan arkeologis khusus karena merupakan situs Fenisia yang paling lestari di Lebanon;[31] situs ini ditambahkan ke dalam kategori Budaya pada Daftar Tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1 Juli 1996.[29] Dalam kesusastraan, kuil Asymun tampil dalam novel karya Nabil Saleh tahun 2009, The Curse of Ezekiel, sebagai latar tempat Bomilcar jatuh cinta dan menyelamatkan putri Chiboulet dari niat jahat salah satu imam kuil tersebut.[32] Situs ini ditambahkan ke Daftar Tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO pada 11 Juli 2019, dalam kategori Budaya.[33] Selama invasi Israel ke Lebanon tahun 2024, UNESCO memberikan perlindungan yang ditingkatkan kepada 34 situs budaya di Lebanon termasuk tempat suci Asymun untuk melindunginya dari kerusakan.[34][35]
Sejumlah teks kuno menyebutkan Kuil Asymun dan lokasinya. Prasasti Fenisia pada sarkofagus Eshmunazar II, seorang raja Sidon,[nb 5] memperingati pembangunan sebuah "rumah" bagi "pangeran suci" Asymun oleh sang raja dan ibunya, ratu Amashtart, di "sumber Ydll dekat bak penampung".[36] Dionysius Periegetes, seorang Penulis perjalanan Yunani kuno, mengidentifikasi kuil Asymun di tepi Sungai Bostrenos, dan Antonin de Plaisance, seorang peziarah Kristen Italia abad ke-6 M mencatat kuil tersebut berada di dekat sungai Asclepius fluvius.[4][37][38][39] Strabo[nb 6] dan sumber-sumber Sidon lainnya mendeskripsikan tempat suci tersebut serta "hutan-hutan keramat" Asklepios di sekitarnya, nama Asymun yang dihelenisasi, dalam teks-teks tertulis.[4] Terletak sekitar 40 kilometer (25 mi) di selatan Beirut dan 2 kilometer (1,2 mi) di timur laut Sidon, Kuil Asymun berdiam di tepi selatan sungai Awali modern, yang sebelumnya disebut sebagai Bostrenos atau Asclepius fluvius dalam teks-teks kuno. Kebun jeruk, yang dikenal sebagai Bustan asy-Syaikh (Arab: بستان الشيخcode: ar is deprecated , kebun Syekh), menempati "hutan keramat" Asklepios yang kuno tersebut dan menjadi lokasi piknik musim panas favorit bagi penduduk setempat.[4][40]
Dibangun di bawah kekuasaan Babilonia (605–539 SM),[4] monumen tertua di situs ini adalah bangunan piramidal yang menyerupai ziggurat serta mencakup jalur landai akses menuju bak penampung air.[41] Pecahan dari kuil awal bergaya Babilonia bertahan hingga masa modern; peninggalan ini mencakup basis kolom marmer berbentuk torus dengan profil hias, kolom-kolom bersegi, dan kepala tiang protome banteng. Kuil bergaya Babilonia tersebut dibongkar sekitar pertengahan abad ke-4 SM.[42] Sisa-sisa dari kuil yang dihancurkan itu dilemparkan ke dalam sebuah favissa yang hanya berisi material yang berasal dari abad ke-5 dan paruh pertama abad ke-4 SM.[19][42]
Struktur piramidal tersebut ditimpa pada periode Persia oleh podium batu ashlars masif yang dibangun dari balok-balok batu kapur bertonjolan kasar yang berukuran lebar lebih dari 3 meter (9,8 ft) dan tebal 1 meter (3,3 ft), yang disusun dalam lapis-lapis setinggi 1-meter (3,3 ft). Podium ini berdiri setinggi 22 meter (72 ft), menjorok 50 meter (160 ft) ke dalam lereng bukit, dan memamerkan fasad selebar 70-meter (230 ft).[12][41] Teras di atas podium tersebut dulunya tertutup oleh kuil marmer gaya Yunani-Persia yang dibangun dengan ordo Ionia sekitar tahun 500 SM.[42] Kuil marmer tersebut telah berkurang menjadi hanya beberapa pecahan batu yang tersisa akibat pencurian.[41][43] Selama periode Helenistik, tempat suci ini diperluas dari dasar podium melintasi lembah.[42] Di dasar timur podium berdiri sebuah kapel besar, berukuran 105 x 115 meter (344 ft × 377 ft), yang berasal dari abad ke-4 SM.[28][44] Kapel ini dihiasi dengan kolam berlantai batu dan sebuah "Takhta Astarte" batu besar yang diukir dari satu balok granit bergaya Mesir;[4][21][28] takhta ini diapit oleh dua figur sfinks dan dikelilingi oleh dua patung singa. Takhta tersebut, yang didedikasikan bagi dewi Sidon Astarte, bersandar pada dinding kapel, yang diperindah oleh patung relief adegan perburuan.[4][28] Bak Astarte yang dulunya penting kehilangan fungsinya selama abad ke-2 M dan tertimbun oleh tanah serta pecahan patung.[44] Bagian dasar barat memuat kapel abad ke-4 SM lainnya – yang berpusat pada sebuah kepala tiang yang dipuncaki protome banteng – yang masih tersimpan dan terawat di Museum Nasional Beirut.[4][28]
Dikenal luas sebagai "Tribun Asymun" karena bentuknya, altar Asymun adalah struktur marmer putih yang berasal dari abad ke-4 SM. Altar ini memiliki panjang 215 meter (705 ft), lebar 226 meter (741 ft), dan tinggi 217 meter (712 ft).[4][28][45] Digali pada tahun 1963 oleh Maurice Dunand, altar ini berdiri di atas batur batu kapur yang dilapisi balok-balok marmer yang bersandar pada dinding penahan.[46] Altar ini dihiasi dengan patung relief gaya Helenistik dan dibingkai oleh profil hias dekoratif,[4][28] yang salah satunya membagi altar menjadi dua register dengan komposisi simetris.Register atas menggambarkan 18 dewa Yunani,[nb 7] termasuk dua kusir kereta yang mengelilingi dewa Yunani Apollo, yang digambarkan sedang memainkan kithara (sejenis lira). Register bawah menghormati Dionisos, yang memimpin thiasos-nya (rombongan ekstatiknya) dalam sebuah tarian diiringi musik dari pemain seruling dan kithara.[46] Tribun ini dipamerkan di Museum Nasional Beirut.[47]
{{Cite book |last1=Stucky |first1=Rolf A. |url=https://books.google.com/books?id=DrUOAQAAMAAJ |title=Das Eschmun-Heiligtum von Sidon: Architektur und Inschriften |trans-title=The Eshmun Sanctuary of Sidon: Architecture and Inscriptions |last2=Stucky |first2=Sigmund |last3=Loprieno |first3=Antonio |last4=Mathys |first4=Hans-Peter |last5=Wachter |first5=Rudolf |date=2005 |publisher=Vereinigung der Freunde antiker Kunst |isbn=9783909064199 |language=de |page=91 |access-date=July 31, 2023 |archive-date=July 31, 2023 |archive-url=https://web.archive.org/web/20230731205556/https://books.google.com/books?id=DrUOAQAAMAAJ&newbks=0 |url-status=live }}</ref>"},"image2":{"wt":"Istanbul img 4995.jpg"},"alt2":{"wt":"Tampilan tiga perempat dari sarkofagus marmer hias yang berbentuk kuil Yunani."},"header":{"wt":"Kuil Asymun kedua yang bergaya klasik"}},"i":0}}]}' id="mwAqY"/>Di timur laut situs, sebuah kuil lain dari abad ke-3 SM berdiri bersebelahan dengan kapel Astarte. Fasadnya yang berukuran 22-meter (72 ft) dibangun dengan balok batu kapur besar dan menampilkan dekorasi relief dua register yang mengilustrasikan sebuah pesta pora mabuk demi menghormati Dionisos, dewa anggur Yunani. Di antara relief kuil tersebut, satu relief memperlihatkan seorang pria yang mencoba menangkap seekor ayam jantan besar yang merupakan hewan kurban umum bagi Asymun-Asklepios.[22][49] Kompleks Kuil Asymun terdiri dari sebuah instalasi hidraulik rumit yang menyalurkan air dari mata air "Ydll", yang tersusun atas sistem saluran air yang pelik, serangkaian bak penampung, bak ablusi suci, dan kolam berlantai batu. Sistem ini menunjukkan pentingnya ablusi ritual dalam kultus terapeutik Fenisia.[42] Peninggalan kemudian berasal dari zaman Romawi dan mencakup jalan berkolonade yang dijajari toko-toko. Dari kolom-kolom marmer besar yang membatasi jalan Romawi tersebut, hanya pecahan dan basisnya yang tersisa. Bangsa Romawi juga membangun tangga monumental yang dihiasi pola mosaik yang mengarah ke puncak podium. Di sebelah kanan jalan Romawi, dekat pintu masuk situs, berdiri sebuah nymphaeum dengan relung-relung tempat patung para nimfa pernah berdiri. Lantai nymphaeum tersebut tertutup oleh mosaik yang menggambarkan para Maenad. Di seberang jalan berkolonade, menghadap ke nymphaeum, terdapat reruntuhan sebuah Vila Romawi; hanya halaman vila tersebut yang bertahan bersama dengan sisa-sisa mosaik yang menggambarkan empat musim. Di sebelah kanan tangga prosesi Romawi berdiri sebuah altar kubik, yang juga merupakan konstruksi Romawi. Struktur periode Romawi lainnya mencakup dua kolom dari portico besar yang mengarah ke kolam-kolom dan instalasi kultus lainnya.[4][25][50]
Kultus Asymun menempati posisi yang istimewa di Sidon mengingat ia merupakan dewa utama pasca-500 SM. Selain tempat suci ekstramural di Bustan asy-Syaikh, Asymun juga memiliki sebuah kuil di dalam kota. Kuil Asymun ekstramural dikaitkan dengan penyucian dan penyembuhan; ablusi penyucian ritual dilaksanakan di bak-bak suci tempat suci yang disuplai oleh air mengalir dari Sungai Asklepios dan mata air "Ydll" yang dianggap memiliki karakter sakral dan kualitas terapeutik.[3][51] Atribut penyembuhan Asymun dipadukan dengan kekuatan penyubur milik permaisuri ilahinya, Astarte; nama yang disebut terakhir ini memiliki kapel aneks dengan kolam berlantai batu yang keramat di dalam kompleks tempat suci Asymun.[51] Para peziarah dari seluruh dunia kuno berbondong-bondong ke Kuil Asymun, meninggalkan jejak-jejak nazar devosi mereka dan bukti kesembuhan mereka.[52][53] Terdapat bukti bahwa sejak abad ke-3 SM dan seterusnya telah ada upaya untuk menghelenisasi kultus Asymun dan mengasosiasikannya dengan mitra Yunaninya, Asklepios, tetapi tempat suci tersebut tetap mempertahankan fungsi kuratifnya.[54]


Terlepas dari elemen dekoratif besar, hiasan dinding ukir, dan mozaik yang dibiarkan in situ, banyak artefak dipulihkan dan dipindahkan dari Kuil Asymun ke Museum Nasional Beirut, Louvre, atau berada dalam penguasaan Direktorat Jenderal Purbakala Lebanon. Beberapa temuan kecil ini mencakup koleksi ostrakon bertulis yang digali oleh Dunand yang memberikan contoh langka tulisan kursif Fenisia di daratan utama Fenisia.[28] Salah satu ostrakon yang ditemukan memuat nama Fenisia teoforik "grtnt" yang menunjukkan bahwa pemujaan dewi bulan Tanit terjadi di Sidon.[nb 8][55] Sejumlah pecahan patung nazar seukuran aslinya yang berupa anak-anak kecil yang berbaring menyamping dan memegang hewan peliharaan atau benda kecil juga ditemukan di situs kuil; di antara yang paling terkenal adalah Bocah Kuil Baalshillem, sebuah patung anak kerajaan yang memegang seekor merpati dengan tangan kanannya. Kepala bocah itu dicukur, dadanya telanjang, dan tubuh bagian bawahnya dibalut kain besar. Batur patung ini bertuliskan dedikasi dari Baalshillem II,[nb 9][56] seorang raja Sidon kepada Asymun, yang mengilustrasikan pentingnya situs ini bagi monarki Sidon.[7][28][53] Patung-patung nazar ini tampaknya sengaja dipecahkan setelah didedikasikan kepada Asymun dan kemudian dibuang secara seremonial ke dalam kanal suci, mungkin mensimulasikan pengorbanan anak yang sakit tersebut. Semua patung ini merepresentasikan anak laki-laki.[54] Sebuah patung dada Kouros batu kapur 315 cm × 27 cm (124 in × 11 in) yang berasal dari abad ke-6 SM ditemukan di situs tersebut, tetapi tidak seperti kouros Yunani kuno, figur ini tidak telanjang.[45] Di antara temuan penting lainnya adalah sebuah plakat emas yang memperlihatkan ular yang melingkar pada sebuah tongkat, simbol Helenik dari Asymun.[21] dan sebuah altar granit yang memuat nama Firaun Mesir Achoris terungkap di tempat suci Asymun. Hadiah ini membuktikan hubungan baik antara Firaun dan raja-raja Sidon.[57][58] Reputasi tempat suci ini menjangkau tempat yang jauh. Peziarah Siprus dari Paphos meninggalkan tanda bakti mereka untuk Astarte pada sebuah stele marmer yang bertuliskan bahasa Yunani dan Silabari Siprus di kuil Astarte; stele ini sekarang berada dalam pengawasan Direktorat Jenderal Purbakala Lebanon.[52]
Para pemburu harta karun telah memburu Kuil Asymun sejak zaman dahulu;[26] sekitar tahun 1900, artefak yang memuat prasasti Fenisia dari situs kuil tersebut menemukan jalannya ke pasar barang antik Beirut di mana benda-benda itu memancing minat otoritas Utsmaniyah dan mendorong serangkaian penggalian arkeologis.[59] Selama perang saudara, atas permintaan direktur jenderal purbakala Lebanon saat itu Maurice Chehab, Maurice Dunand memindahkan lebih dari 2000 artefak dari Sidon ke ruang bawah tanah di kastil tentara salib Byblos, 30 kilometer (19 mi) di utara Beirut. Pada tahun 1981, depot tersebut dijarah dan sekitar 600 patung serta elemen arsitektur dicuri dan diselundupkan keluar dari Lebanon. Rolf Stucky, mantan direktur Institut Arkeologi Klasik Basel menegaskan dalam sebuah konferensi di Beirut pada Desember 2009 perihal keberhasilan identifikasi dan pengembalian delapan patung ke museum nasional Lebanon.[59][60]