Kuburan imperium adalah julukan yang diberikan kepada negara Afganistan. Julukan ini berakar dari banyaknya kekuatan adidaya yang tak mampu meraih kemenangan militer di Afganistan di zaman modern, termasuk Inggris, Uni Soviet, dan yang terbaru, Amerika Serikat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Kuburan imperium (bahasa Inggris: Graveyard of empirescode: en is deprecated ) adalah julukan yang diberikan kepada negara Afganistan. Julukan ini berakar dari banyaknya kekuatan adidaya yang tak mampu meraih kemenangan militer di Afganistan di zaman modern, termasuk Inggris, Uni Soviet, dan yang terbaru, Amerika Serikat.[2][3]
Sepanjang sejarah, kekuatan-kekuatan besar dunia telah menyerbu Afganistan tanpa mampu mempertahankan pemerintahan jangka panjang yang stabil. Contoh modernnya termasuk Britania Raya selama Perang Britania Raya–Afganistan Pertama, Kedua, dan Ketiga (1839–1842, 1878–1880, 1919); Uni Soviet dalam Perang Soviet–Afganistan (1979–1989); dan Amerika Serikat dalam Perang di Afganistan (2001–2021).[2][3][4] Kesulitan menaklukkan Afganistan berhubungan dengan masalah yang dihadapi penjajah ketika menghadapi medan pegunungan yang berbahaya, kondisi gurun, musim dingin yang berat, taktik gerilya, struktur qalat (benteng),[5] loyalitas kesukuan yang sangat mengakar,[6] persaingan sesama imperium yang sama-sama ingin menguasai Afganistan, dan hal-hal lain yang disebabkan oleh interaksi dengan negara-negara tetangganya—seperti hubungan dengan Pakistan, tempat para mujahidin lokal memperoleh perlindungan.[7]
Frasa tersebut, yang merujuk pada Afghanistan, tampaknya tidak muncul sebelum artikel tahun 2001 karya Milton Bearden yang dimuat di majalah Foreign Affairs.[8][9] Istilah ini juga telah diterapkan pada Mesopotamia.[10] Di tempat lain, frasa yang sangat mirip, "kuburan bangsa-bangsa dan imperium", telah digunakan sebagai kiasan untuk menggambarkan Kitab Yesaya di Perjanjian Lama.[11]
Antropolog Thomas Barfield mencatat bahwa narasi Afganistan sebagai negara yang tak terkalahkan telah dimanfaatkan oleh Afganistan sendiri untuk menghalau penjajah.[12] Pada bulan Oktober 2001, selama invasi Afganistan oleh Amerika Serikat, pendiri dan pemimpin Taliban, Mohammed Omar, mengancam Amerika Serikat dengan nasib yang sama seperti yang dialami Inggris dan Uni Soviet.[13]
Presiden AS Joe Biden merujuk pada julukan tersebut saat menyampaikan pernyataan publik setelah jatuhnya Kabul pada tahun 2021 sebagai bukti bahwa komitmen lebih lanjut dari kehadiran militer Amerika tidak akan memperkuat Republik Islam Afganistan dalam menghadapi Taliban.[14]
Koresponden luar negeri The New York Times Rod Nordland, menyatakan bahwa "sebenarnya, tidak ada kerajaan besar yang hancur hanya karena Afganistan."[15] Dosen Sekolah Staf dan Komando Gabungan, Patrick Porter, menyebut atribusi tersebut sebagai "ekstrapolasi yang salah dari sesuatu yang benar – bahwa memang terdapat kesulitan taktis dan strategis."[6]
Imperium Inggris tidak runtuh setelah Perang Inggris-Afganistan Ketiga,[16] sementara kejatuhannya lebih karena Perang Dunia II.[6]
Meski Perang Soviet-Afganistan merupakan faktor utama dalam pembubaran Uni Soviet, pihak pejuang di Afganistan juga dibantu oleh pihak asing, terutama Amerika.[17][7] Lebih lanjut, ada alasan untuk meyakini bahwa Uni Soviet akan runtuh terlepas dari kampanye tersebut.[16] Meskipun demikian, narasi tersebut memungkinkan argumen dari analogi dan tesis "sejarah berulang", yang terbukti diterima di kalangan sejarawan, penulis, dan pakar politik.[16][17]