Luak Kubuang Tigo Baleh adalah wilayah budaya yang secara resmi dianggap sebagai luak keempat atau yang termuda setelah tiga luak lainnya. Luak ini terletak di dataran rendah dan kaki gunung Talang, sebelah selatan Luak Tanah Data, yaitu di wilayah kabupaten Solok dan kota Solok sekarang ini. Luak ini dibentuk pada masa agak belakangan, bukan pada masa pemerintahan Adityawarman.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Luak Kubuang Tigo Baleh (Indonesia: Luak Kubung Tiga Belas) adalah wilayah budaya yang secara resmi dianggap sebagai luak keempat atau yang termuda setelah tiga luak lainnya. Luak ini terletak di dataran rendah dan kaki gunung Talang, sebelah selatan Luak Tanah Data, yaitu di wilayah kabupaten Solok dan kota Solok sekarang ini. Luak ini dibentuk pada masa agak belakangan, bukan pada masa pemerintahan Adityawarman.
Setiap luak di Minangkabau memiliki gunungnya masing-masing. Luak Tanah Datar dengan gunung Marapinya, Agam dengan gunung Singgalang, Limo Puluah dengan gunung Sago, sedangkan luak Kubuang Tigo Baleh dengan Gunung Talang nya.
Luhak ini kelak menjadi cikal bakal Kabupaten Solok, dan memang dalam Tambo Minangkabau, ia dinyatakan sebagai Kubuang Tigo Baleh.[1] Luak ini berdiri dilatarbelakangi oleh masalah politik di Luak Tanah Data di mana terdapat sikap oposisi dari tiga belas orang Datuk yang tergolong kerabat atau orang disegani luhak tanah datar. Para Datuk ini mempunyai perbedaan pandangan yang tajam mengenai suatu masalah politik dan adat yang tidak membawa suatu kesepakatan.
Diduga waktu itu, Minangkabau diperintah oleh seorang raja yang masih kental dipengaruhi budaya aristokrat/feodalisme, terbukti dari titah rajanya yang melegenda dalam ingatan masyarakat Solok hingga hari ini, di mana nama 'Luak Kubuang Tigo Baleh' ini berasal dari titah yang berbunyi "... Ku buang tigo baleh ninik mamak ini .. " (Kuusir 13 ninik mamak ini). Maksudnya "saya usir tiga belas (datuk yang berseberangan dengan pendapat saya) ini, supaya jangan lagi tinggal di Luak Tanah Data. [butuh rujukan] Maka Datuk yang tiga belas orang itu melakukan migrasi ke arah selatan Tanah Data melewati perbukitan di pinggir danau Singkarak yang kemudian terkenal dengan nama kabupaten dan kota Solok sekarang ini. Mereka membawa serta anak kemenakan dan kaum menurut sukunya masing-masing. Mereka menyebar hampir ke seluruh dataran Solok.
Sekitar tahun 1818, Thomas Stamford Raffles tiba di daerah ini. Di daerah yang disebutkan sebagai Desa Tiga Blas,[2] ia menyebutkan telah sampainya pengaruh Kaum Padri yang merupakan bagian dari gerakan pembaharuan agama islam dengan tokoh yang ia sebut di sana, Tuanku Pasaman.[3] Pada beberapa tempat yang belum mendapat pengaruh gerakan tersebut, ada semacam kebiasaan adat lama seperti perempuan dewasa yang membelah tengah rambutnya dan yang berusia lebih muda mengepang rambutnya.[3]
Selain berunding dengan para pemuka setempat, Raffles membawa dari mereka surat untuk disampaikan kepada Kerajaan Inggris sebagai suatu dokumen politik. Penghidupan rakyat berasal dari pertanian. Kala itu, dikatakan daerah ini sebagai daerah penghasil emas. Namun, Raffles tak melihat tanda-tanda itu. Tambang-tambang itu berjarak 2-3 hari perjalanan dan beberapa lainnya 10-12 hari perjalanan ke arah tenggara.[2]
Ketika Raffles datang ke tempat ini, setelah mendengar informasi yang ia dapat, perkiraan "longgar bahwa populasi daerah ini tidak kurang dari 80.000 jiwa".[4]
Di kemudian hari keturunan dari 13 leluhur itu berkembang sehingga membentuk 13 nagari yang terletak di kota Solok dan kabupaten Solok sekarang ini. Konfederasi Kubuang Tigo Baleh (Kubung Tiga Belas) terdiri dari 13 nagari sebagai berikut:
Solok, Guguak, Koto Anau, Saok Laweh dan Panyakalan merupakan penganut Lareh Bodi Caniago. Sementara Di Koto Anau duduk seorang raja Datuak Bagindo Yang Pituan yang menerapkan sistem Lareh Koto Piliang. Salayo dan beberapa nagari lainnya, yaitu Cupak, Gantuang Ciri, Kinari dan Muaro Paneh juga menganut kelarasan Lareh Koto Piliang.
Di kemudian hari Salayo pecah menjadi 2 nagari yaitu Salayo dan Koto Baru. Koto Baru sendiri memiliki masyarakat yang lebih egaliter dan tidak terlalu kaku dibanding Salayo, walaupun dulunya satu nagari. Koto Baru sempat puluhan tahun menjadi ibu kota Kabupaten Solok. Koto Baru dan Salayo memiliki dialek yang mirip yang menjadikan mereka sebagai ikon dialek urang Solok.
Guguak pecah menjadi nagari Koto Gadang Guguak, Koto Gaek Guguak dan Jawi-jawi Guguak. Ditambah pula nagari Batang Baruih dan Aia Batumbuak.
Koto Anau berkembang menjadi nagari Koto Gadang Koto Anau, Limau Lunggo, Koto Laweh, Batu Bajanjang, Batu Banyak dan Sungai Janiah. Ditambah pula nagari Salayo Tanang Bukik Sileh, Kampuang Batu Dalam dan Simpang Tanjuang Nan IV.
Kinari pecah menjadi nagari Kinari, Parambahan dan Dilam.
Muaro Paneh berkembang menjadi nagari Muaro Paneh dan Bukik Tandang.
Selain itu ada pula nagari Koto Hilalang.
Selain berkembang di beberapa nagari di kabupaten Solok, keturunan dari Kubuang Tigo Baleh juga menyebar hingga ke Banda Sapuluah di bagian selatan kabupaten Pasisia Salatan, yang berbatasan dengan Kurinci (Jambi) dan provinsi Bengkulu serta ke XI Koto Tarusan, Bayang, Lumpo dan Salido (bagian utara kabupaten Pesisir Selatan), serta sebagian menyebar ke Pauah dan Lubuk Kilangan di wilayah Kota Padang sekarang.
Perpindahan ini berlangsung bersamaan waktunya dengan migrasi para leluhur Alam Surambi Sungai Pagu dari Luak Tanah Data yang diperkirakan terjadi sekitar abad 12 hingga 13 Masehi.