Kuadran Mare Boreum merupakan salah satu dari 30 peta kuadran Mars yang digunakan oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melalui Program Riset Astrogeologi. Kuadran ini dikenal pula sebagai MC-1. Penamaannya berasal dari istilah lama untuk wilayah yang kini disebut Planum Boreum, yaitu dataran luas yang mengelilingi lapisan es kutub utara Planet Mars.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kuadran Mare Boreum merupakan salah satu dari 30 peta kuadran Mars yang digunakan oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melalui Program Riset Astrogeologi. Kuadran ini dikenal pula sebagai MC-1 (Mars Chart-1).[1] Penamaannya berasal dari istilah lama untuk wilayah yang kini disebut Planum Boreum, yaitu dataran luas yang mengelilingi lapisan es kutub utara Planet Mars.[2]
Kuadran Mare Boreum mencakup seluruh wilayah Mars di utara garis lintang 65°. Di dalamnya terdapat lapisan es kutub yang menampilkan pola spiral dengan diameter sekitar 1.100 kilometer (680 mil). Wahana Mariner 9 pada tahun 1972 menemukan sabuk bukit pasir yang mengelilingi endapan es kutub, dengan lebar mencapai 500 kilometer (310 mil) di beberapa bagian. Sabuk ini diperkirakan merupakan salah satu lapangan bukit pasir terbesar di Tata Surya.[3] Lapisan es tersebut dikelilingi oleh dataran luas Planum Boreum dan Vastitas Borealis. Di dekat kutub terdapat lembah besar bernama Chasma Boreale, yang diduga terbentuk akibat pencairan air dari lapisan es.[4] Tetapi, hipotesis lain menyatakan bahwa lembah tersebut terbentuk oleh proses erosi akibat angin dari wilayah kutub yang sangat dingin.[5][6] Fitur permukaan lain yang menonjol di kuadran ini adalah kenaikan halus yang dahulu dikenal sebagai Olympia Planitia. Pada musim panas, muncul cincin gelap di sekitar lapisan es residual yang disebabkan oleh keberadaan bukit pasir.[7] Kawah besar seperti Lomonosov dan Korolev serta kawah kecil seperti Stokes menjadi ciri khas wilayah ini.
Wahana antariksa Phoenix mendarat di Vastitas Borealis, dalam wilayah kuadran Mare Boreum, pada koordinat 68,218830° LU dan 234,250778° BT pada 25 Mei 2008.[8] Misi ini bertujuan untuk menganalisis sampel tanah guna mendeteksi keberadaan air dan menilai potensi kelayakan Mars bagi kehidupan mikroba. Wahana tersebut beroperasi selama sekitar lima bulan sebelum dinonaktifkan akibat kondisi musim dingin yang ekstrem.[9]
Analisis hasil penelitian Phoenix yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa sampel tanah mengandung senyawa klorida, bikarbonat, magnesium, natrium, kalium, kalsium, serta kemungkinan sulfat. Nilai pH tanah diperkirakan sekitar 7,7 ± 0,5. Senyawa perklorat (ClO₄⁻), yaitu oksidator kuat pada suhu tinggi, juga terdeteksi. Penemuan ini dianggap signifikan karena perklorat dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar roket dan sumber oksigen bagi eksplorasi manusia di masa depan. Meskipun bersifat toksik bagi sebagian bentuk kehidupan, beberapa mikroorganisme diketahui mampu menggunakan perklorat sebagai sumber energi melalui proses reduksi anaerob. Campuran perklorat dengan air juga dapat menurunkan titik beku secara drastis, memungkinkan terbentuknya air cair dalam kondisi ekstrem di Mars. Fenomena ini diperkirakan berperan dalam pembentukan alur permukaan atau lurah melalui proses pencairan es dan erosi tanah pada lereng curam.[10]
Misi Phoenix memberikan bukti langsung keberadaan air dalam bentuk es di wilayah ini, memperkuat dugaan bahwa bagian utara Mars menyimpan sejarah geologi yang dipengaruhi oleh aktivitas air.[11]