Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kuñjarakarna

Kuñjarakarna adalah sebuah teks prosa Jawa Kuno yang menceritakan seorang yaksa, semacam raksasa yang bernama Kunjarakarna. Cerita ini berdasarkan agama Buddha Mahayana.

Wikipedia article
Diperbarui 11 November 2022

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Naskah nipah Kuñjarakarna yang disimpan di Universitas Leiden sebagai naskah Orientalis 2266, halaman 1 verso.

Kuñjarakarna adalah sebuah teks prosa Jawa Kuno yang menceritakan seorang yaksa, semacam raksasa yang bernama Kunjarakarna. Cerita ini berdasarkan agama Buddha Mahayana.

Ringkasan

Pada suatu hari Kuñjarakarna bertapa di gunung Mahameru supaya pada kelahiran berikutnya ia bisa berreinkarnasi sebagai manusia berparas baik. Maka datanglah ia menghadap Wairocana.

Maka ia diperbolehkan menjenguk neraka, tempat batara Yama. Di sana ia mendapat kabar bahwa temannya Purnawijaya akan meninggal dalam waktu beberapa hari lagi dan disiksa di neraka.

Kunjarakarna menghadap Wairocana untuk meminta dispensasi. Akhirnya ia diperbolehkan memberi tahu Purnawijaya. Purnawijaya terkejut ketika diajak melihat neraka. Lalu ia kembali ke bumi dan berpamitan dengan istrinya.

Akhirnya ia mati tetapi hanya disiksa selama 10 hari dan bukannya ratusan tahun. Lalu ia diperbolehkan kembali. Cerita berakhir dengan bertapanya Kunjarakarna dan Purnawijaya di lereng gunung Mahameru.

Amanat cerita: barangsiapa mendengarkan dan tahu akan hukum dharma, maka ia akan diselamatkan.

Contoh teks cerita

Jawa Kuno[1]Terjemahan
tan asuwé ring awan,Maka tak lama mereka berada di jalan
dhateng ta ya ring bumipata<l>a, hana ta ya srijati dumilah sadakala lonya sêndriya, sêndriya ngaranya, sôlih ing mata tumingal, hana ta babahan kapanggiha denira sang Kuñjarakarna, inĕbnya tambaga, lereganya salaka, tuwin ku<ñ>cinya mas,Dan sampailah di dunia bawah. Maka adalah sebuah pohon jati yang senantiasa menyala. Tebal batangnya satu indera. Maksudnya hanya satu pemandangan mata. Lalu sang Kuñjarakarna melihat ada pintu, panelnya dari tembaga, lacinya dari perak, dan kuncinya dari emas.
ta<m>bak lalénya w<e>si, ikang hawan sad<e>pa saroh lonya,temboknya dari besi, jalannya selebar satu depa dan satu roh
inurap rinata-rata ginomaya ring tahining le<m>bu kanya,dibersihkan, diratakan dan dibersihkan dengan tinja sapi perawan betina
tinaneman ta ya handong bang, kayu puring, kayu masedhang asinang, winoran asep dupa, mrabuk arum ambunika sinawuran kembang ura, pinujan kembang pupungon,diberi tanaman andong merah, puring dan pohon-pohon yang sedang berbunga harum. Berbaurlah dengan asap dupa, harum semerbuk dan ditebar dengan bungan sebaran. Bunga-bunga yang sedang berkembang diberikan sebagai kehormatan
ya ta matanyan maruhun-ruhunan ikang watek papa kabèh winalingnyaitulah sebab para orang berdosa berbondong-bondong semua. Salah pikiran mereka,
dalan maring swarga ri hidhepnyadikira jalan menuju ke sorga.

Catatan kaki

  1. ↑ Teks diambil dari Van der Molen (1983:148). Ejaan teks dialihaksarakan secara kritis.

Daftar pustaka

  • (Jawa) (Belanda) J.H.C. Kern, 1901, Kuñjarakarna, Amsterdam
  • (Jawa) (Belanda) W. van der Molen, 1983, Javaanse tekstkritiek, Leiden:KITLV. VKI 102

Lihat pula

  • Kakawin Kuñjarakarna
  • Carita Purnawijaya

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Ringkasan
  2. Contoh teks cerita
  3. Catatan kaki
  4. Daftar pustaka
  5. Lihat pula

Artikel Terkait

Kakawin Kuñjarakarna

manuskrip lontara kakawin

Aksara Kawi

aksara Jawa kuno

Angling Dharma

timur laut. Letaknya setelah relief Tantri Kamandaka dan sebelum relief Kuñjarakarna. Walaupun demikian, relief Angling Dharma yang dipahat di Candi Jago

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026