Krisis konstitusional Gambia 2016-2017 terjadi setelah hasil pemilu presiden 1 Desember 2016 menunjukkan bahwa Adama Barrow secara tak terduga berhasil mengalahkan petahana Yahya Jammeh. Jammeh sebelumnya telah menjabat selama 22 tahun dan pada awalnya menerima kemenangan lawannya. Namun, delapan hari kemudian, ia menolak hasil pemilu ini dan mengajukan banding kepada Mahkamah Agung. Ia meminta agar hasil pemilu dibatalkan. Akibatnya terjadilah krisis konstitusional di Gambia. Pada tanggal 17 Januari, satu hari sebelum mandat kepresidenannya berakhir, Jammeh bahkan menyatakan keadaan darurat selama 90 hari. Untuk menjustifikasi tindakan tersebut, Jammeh mengklaim telah terjadi intervensi asing selama proses pemilu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Krisis konstitusional Gambia 2016-2017 | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Presiden Yahya Jammeh kalah dalam pemilu tetapi menolak mundur, sehingga memicu krisis konstitusional. | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
Tentara bayaran asing[4] |
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
1.733 tentara bayaran asing[4] |
| ||||||
| Korban | |||||||
| 26.000–45.000 terusir[14][15] | |||||||
Krisis konstitusional Gambia 2016-2017 terjadi setelah hasil pemilu presiden 1 Desember 2016 menunjukkan bahwa Adama Barrow secara tak terduga berhasil mengalahkan petahana Yahya Jammeh. Jammeh sebelumnya telah menjabat selama 22 tahun dan pada awalnya menerima kemenangan lawannya. Namun, delapan hari kemudian, ia menolak hasil pemilu ini dan mengajukan banding kepada Mahkamah Agung. Ia meminta agar hasil pemilu dibatalkan. Akibatnya terjadilah krisis konstitusional di Gambia. Pada tanggal 17 Januari, satu hari sebelum mandat kepresidenannya berakhir, Jammeh bahkan menyatakan keadaan darurat selama 90 hari.[16] Untuk menjustifikasi tindakan tersebut, Jammeh mengklaim telah terjadi intervensi asing selama proses pemilu.[17]
Setelah perwakilan dari ECOWAS gagal meyakinkan Jammeh untuk mundur, pasukan Senegal, Nigeria dan Ghana memasuki Gambia pada tanggal 19 Januari 2017 untuk memaksanya mundur dan memberlakukan hasil pemilu. Pada hari yang sama, Adama Barrow disumpah sebagai presiden di kedutaan besar Gambia di Dakar, Senegal.[18] Dua hari kemudian, Jammeh secara resmi mundur dari jabatan kepresidenannya dan melarikan diri ke Guinea Khatulistiwa.