Selat Hormuz, yang merupakan sebuah titik penting perdagangan global, yang mengalami gangguan geopolitik dan ekonomik sejak tanggal 28 Februari 2026, setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang juga mencakup pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan misil dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat, daerah Israel, dan negara-negara didekat Teluk Persia lain, sementara Korps Garda Revolusi Iran memberi peringatan yang melarang kapal untuk melewati selat ini, yang mengakibatkan hambatan di lalu lintas pelayaran.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bagian dari Serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran 2026 | |
Citra satelit Selat Hormuz | |
| Tanggal | 28 Februari 2026 (2026-02-28) – sekarang (1 bulan, 3 minggu dan 6 hari) |
|---|---|
| Lokasi | Selat Hormuz, Teluk Persia dan Teluk Oman |
| Penyebab | Serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran 2026 |
| Peserta/Pihak terlibat | Iran, Amerika Serikat, Israel, perusahaan pelayaran |
| Hasil |
|
| Korban | |
| 1 kapal tunda tenggelam setidaknya 12 kapal dagang rusak, 7 di antaranya ditinggalkan[1] 12 pelaut tewas atau hilang 1 pekerja pelabuhan tewas dan 2 luka-luka di Bahrain | |
Selat Hormuz, yang merupakan sebuah titik penting perdagangan global, yang mengalami gangguan geopolitik dan ekonomik sejak tanggal 28 Februari 2026, setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang juga mencakup pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan misil dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat, daerah Israel, dan negara-negara didekat Teluk Persia lain, sementara Korps Garda Revolusi Iran memberi peringatan yang melarang kapal untuk melewati selat ini, yang mengakibatkan hambatan di lalu lintas pelayaran.
Peringatan dan serangan terhadap kapal-kapal yang terjadi kemudian menyebabkan penurunan tajam dalam lalu lintas maritim, dengan lalu lintas kapal tanker turun pertama kali sekitar 70% dan lebih dari 150 kapal berlabuh di luar selat untuk menghindari risiko. [2] [3] Tidak lama setelah itu lalu lintas turun ke nol.Gangguan ini mempengaruhi sekitar 20% dari pasokan minyak harian dunia dan volume gas alam cair (LNG) yang signifikan, mendorong perusahaan pengiriman besar untuk menangguhkan operasi di daerah itu.[4][5] Harga minyak dan gas naik di tengah kekhawatiran kekurangan pasokan tong berkepanjangan; harga Minyak mentah Brent melebihi $ 100 per barel pada 8 Maret 2026 untuk pertama kalinya dalam empat tahun, naik menjadi US $ 126 per barel di puncaknya.[3][6][7][8] Penutupan selat Hormuz digambarkan sebagai gangguan terbesar terhadap suplai energi semenjak krisis energi 1970 dan gangguan terbesar sepanjang sejarah pasar minyak global.