Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kotrimoksazol

Trimetoprim/sulfametoksazol (TMP/SMX), atau kotrimoksazol, adalah antibiotik digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri. Obat ini terdiri dari satu bagian trimetoprim dan lima bagian sulfametoksazol. Obat ini diindikasikan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, infeksi kulit akibat Staphylococcus aureus yang resisten metisilin, diare pelancong, infeksi saluran pernapasan, kolera, dan lainnya. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati dan mencegah pneumonia pneumocystis dan toksoplasmosis pada pasien HIV/AIDS. Obat ini dapat diminum atau diberikan secara intravena.

Wikipedia article
Diperbarui 27 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kotrimoksazol
Kotrimoksazol
Trimetoprim (atas) dan sulfametoksazol (bawah)
Kombinasi dari
TrimetoprimInhibitor Dihidrofolat reduktase
SulfametoksazolAntibiotik sulfonamida
Data klinis
Nama dagangBactrim, Cotrim, Primadex, Septra, lainnya
Nama lainTemplat:Infobox drug/localINNvariants
AHFS/Drugs.commonograph
Kategori
kehamilan
  • AU: C
    Rute
    pemberian
    Oral, intravena[1]
    Kode ATC
    • J01EE01 (WHO)
    Status hukum
    Status hukum
    • AU: S4 (Prescription only)
    • CA: ℞-only
    • UK: POM (Hanya resep)
    • US: ℞-only
    Pengenal
    Nomor CAS
    • 8064-90-2
    PubChem CID
    • 358641
    DrugBank
    • DB00440
    ChemSpider
    • 318412
    ChEBI
    • CHEBI:3770
    CompTox Dashboard (EPA)
    • DTXSID0032233 Sunting di Wikidata
      (verify)

    Trimetoprim/sulfametoksazol (TMP/SMX), atau kotrimoksazol, adalah antibiotik digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri.[1] Obat ini terdiri dari satu bagian trimetoprim dan lima bagian sulfametoksazol.[2] Obat ini diindikasikan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, infeksi kulit akibat Staphylococcus aureus yang resisten metisilin, diare pelancong, infeksi saluran pernapasan, kolera, dan lainnya.[1][2] Obat ini dapat digunakan untuk mengobati dan mencegah pneumonia pneumocystis dan toksoplasmosis pada pasien HIV/AIDS.[1] Obat ini dapat diminum atau diberikan secara intravena.[1]

    Efek samping yang umum terjadi antara lain mual, muntah, ruam, dan diare.[1] Efek samping yang lebih berat seperti reaksi alergi parah dan infeksi akibat Clostridium difficile terkadang dapat terjadi.[1] Pasien yang sedang hamil di trimester akhir tidak direkomendasikan untuk menerima obat ini.[1] Obat ini aman digunakan pada pasien yang sedang menyusui selama bayi memiliki kondisi yang sehat.[3] TMP/SMX bersifat bakterisida.[1] TMP/SMX bekerja dengan menghambat sintesis folat pada bakteri.[1]

    TMP/SMX pertama kali dipasarkan pada tahun 1974.[4] Obat ini terdapat dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[5] Obat ini tersedia dalam bentuk generik.[2]

    Indikasi

    Ko-trimoksazol awalnya diklaim lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan sulfametoksazol atau trimetoprim saja dalam mengobati infeksi bakteri, tetapi hal ini masih diperdebatkan.[6] Karena memiliki angka kejadian efek samping yang lebih tinggi, penggunaannya telah dibatasi hanya untuk keadaan tertentu di berbagai negara.[7] Obat ini efektif untuk infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, infeksi ginjal dan saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, infeksi kulit, sepsis, dan infeksi lain yang disebabkan oleh organisme sensitif. Ko-trimoksazol dapat mengurangi risiko kekambuhan retinokoroiditis.[8] Karena resistensi antibiotik yang semakin meluas membuat kotrimoksazol lebih sering digunakan saat ini.[9]

    Kepekaan

    Kotrimoksazol efektif untuk infeksi akibat organisme berikut:[10][11]

    • Acinetobacter spp.
    • Aeromonas hydrophila
    • Alcaligenes xylosoxidans
    • Bartonella henselae
    • Bordetella pertussis (pertusis)
    • Brucella spp.
    • Burkholderia cepacia
    • Burkholderia mallei
    • Burkholderia pseudomallei (melioidosis)
    • Chlamydia trachomatis (infeksi Chlamydia)
    • Chryseobacterium meningosepticum
    • Citrobacter spp.
    • Enterobacter spp.
    • Escherichia coli
    • Haemophilus influenzae
    • Hafnia alvei
    • Kingella spp.
    • Klebsiella granulomatis
    • Klebsiella pneumoniae
    • Legionella spp.
    • Listeria monocytogenes (listeriosis)
    • Moraxella catarrhalis
    • Morganella morganii
    • Mycobacterium tuberculosis (tuberkulosis)
    • Neisseria gonorrhoeae (gonore)
    • Neisseria meningitidis (meningokokus)
    • Nocardia spp.
    • Plesiomonas shigelloides
    • Pneumocystis jirovecii
    • Proteus mirabilis
    • Proteus vulgaris
    • Providencia rettgeri
    • Providencia stuartii
    • Salmonella typhi (demam tifoid)
    • Salmonella non-typhi
    • Serratia spp.
    • Shigella spp.
    • Staphylococcus aureus
    • Staphylococcus epidermidis
    • Staphylococcus saprophyticus
    • Stenotrophomonas maltophilia
    • Streptococcus agalactiae
    • Streptococcus faecalis
    • Streptococcus pneumoniae
    • Streptococcus pyogenes
    • Streptococcus viridans
    • Toxoplasma gondii (toksoplasmosis)
    • Tropheryma whippelii (Penyakit Whipple)
    • Vibrio cholerae (kolera)
    • Yersinia enterocolitica
    • Yersinia pestis (pes bubo)
    • Yersinia pseudotuberculosis

    Beberapa organisme yang resisten terhadap kotrimoksazol adalah Pseudomonas aeruginosa, mycoplasma,[11] dan Francisella tularensis (organisme penyebab tularemia).[12][13]

    Kehamilan dan menyusui

    Kotrimoksazol dikontraindikasikan pada pasien hamil, walau kategori kehamilan di Australia adalah C dan di Amerika kategori adalah D.[10] Penggunaan kotrimoksazol selama trimester pertama (selama organogenesis) dan 12 minggu sebelum kehamilan dapat menyebabkan cacat pada janin.[10] Penggunaan kotrimoksazol juga meningkatkan risiko persalinan prematur (nisbah jangkaan: 1,51) dan berat bayi saat lahir yang rendah (nisbah jangkaan: 1,67).[14][15] Penelitian pada hewan juga menunjukkan hal yang serupa.[16] Kotrimoksazol juga terdapat dalam ASI dan karena hal itu tidak disarankan untuk menyusui selama pengobatan dengan kotrimoksazol.[10]

    Bayi

    Penggunaan kotrimoksazol pada bayi berusia kurang dari 2 bulan tidak disarankan karena adanya risiko efek samping.[17][18]

    Reaksi merugikan obat

    Kontraindikasi

    Kontraindikasi kotrimoksazol antara lain:[10][19]

    • Hipersensitivitas terhadap komponen obat
    • Kehamilan
    • Kerusakan hati yang parah
    • Gangguan hematologi yang parah dan porfiria (karena adanya sulfonamida).
    • Gangguan ginjal berat (CrCl <15 ml/menit)
    • Neonatus selama 6 minggu pertama. Kecuali untuk pengobatan/profilaksis pneumositosis jiroveci (P. carinii) pada bayi berumum 4 minggu ke atas.

    Efek samping

    Efek samping yang terjadi antara lain:[16]

    • Mual
    • Muntah
    • Pusing
    • Sakit kepala
    • Depresi
    • Bingung
    • Trombositopenia
    • Uremia pada pasien dengan gangguan ginjal
    • Gangguan sumsum tulang belakang
    • Hilang nafsu makan
    • Tidak sadarkan diri

    Referensi

    1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Co-trimoxazole". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-09-06. Diakses tanggal Aug 1, 2015.
    2. 1 2 3 Hamilton, Richart (2015). Tarascon Pocket Pharmacopoeia 2015 Deluxe Lab-Coat Edition. Jones & Bartlett Learning. hlm. 105. ISBN 9781284057560.
    3. ↑ "Sulfamethoxazole / trimethoprim Pregnancy and Breastfeeding Warnings". Diarsipkan dari asli tanggal 6 September 2015. Diakses tanggal 31 August 2015.
    4. ↑ Oxford Handbook of Infectious Diseases and Microbiology. OUP Oxford. 2009. hlm. 56. ISBN 9780191039621. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-24.
    5. ↑ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.
    6. ↑ Brumfitt, W; Hamilton-Miller, JM (December 1993). "Reassessment of the rationale for the combinations of sulphonamides with diaminopyrimidines". Journal of Chemotherapy. 5 (6): 465–9. doi:10.1080/1120009X.1993.11741097. PMID 8195839.
    7. ↑ "Co-trimoxazole use restricted". Drug Ther Bull. 33 (12): 92–3. December 1995. doi:10.1136/dtb.1995.331292. PMID 8777892.
    8. ↑ Pradhan E, Bhandari S, Gilbert RE, Stanford M (2016). "Antibiotics versus no treatment for toxoplasma retinochoroiditis". Cochrane Database Syst Rev. 5 (5): CD002218. doi:10.1002/14651858.CD002218.pub2. PMID 27198629. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
    9. ↑ "Potential of old-generation antibiotics to address current need for new antibiotics". Expert Rev Anti Infect Ther. 6 (5): 593–600. October 2008. doi:10.1586/14787210.6.5.593. PMID 18847400.
    10. 1 2 3 4 5 "Bactrim, Bactrim DS (trimethoprim/sulfamethoxazole) dosing, indications, interactions, adverse effects, and more". Medscape Reference. WebMD. Diarsipkan dari asli tanggal 16 January 2014. Diakses tanggal 13 January 2014.
    11. 1 2 Wormser, GP; Keusch, GT; Heel, RC (December 1982). "Co-trimoxazole (trimethoprim-sulfamethoxazole): an updated review of its antibacterial activity and clinical efficacy". Drugs. 24 (6): 459–518. doi:10.2165/00003495-198224060-00002. PMID 6759092.
    12. ↑ "TULAREMIA" (PDF). Infectious Disease Epidemiology Section. Louisiana Office of Public Health. 17 July 2011. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 February 2014. Diakses tanggal 12 February 2014.
    13. ↑ Harik, NS (1 July 2013). "Tularemia: Epidemiology, Diagnosis, and Treatment" (PDF). Pediatric Annals. 42 (7): 288–292. doi:10.3928/00904481-20130619-13. PMID 23805970. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 February 2014.
    14. ↑ Yang, J; Xie, RH; Krewski, D; Wang, YJ; Walker, M; Wen, SW (May 2011). "Exposure to trimethoprim/sulfamethoxazole but not other FDA category C and D anti-infectives is associated with increased risks of preterm birth and low birth weight". International Journal of Infectious Diseases. 15 (5): e336 – e341. doi:10.1016/j.ijid.2011.01.007. PMID 21345707.
    15. ↑ Santos, F; Sheehy, O; Perreault, S; Ferreira, E; Berard, A (October 2011). "Exposure to anti-infective drugs during pregnancy and the risk of small-for-gestational-age newborns: a case–control study". BJOG. 118 (11): 1374–1382. doi:10.1111/j.1471-0528.2011.03041.x. PMID 21749628.
    16. 1 2 "BACTRIM®" (PDF). TGA eBusiness Services. Roche Products Pty Limited. 18 September 2012. Diakses tanggal 13 January 2014.
    17. ↑ "Bactrim Dosage Guide". Minars Dermatology (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-04-19.
    18. ↑ "Drugs & Medications". www.webmd.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-04-19.
    19. ↑ "Co-Trimoxazole Tablets 80/400mg - Summary of Product Characteristics (SPC)". electronic Medicines Compendium. Actavis UK Ltd. 17 October 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 13 January 2014. Diakses tanggal 13 January 2014.

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Indikasi
    2. Kepekaan
    3. Kehamilan dan menyusui
    4. Bayi
    5. Reaksi merugikan obat
    6. Kontraindikasi
    7. Efek samping
    8. Referensi

    Artikel Terkait

    Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan

    perusahaan asal Indonesia

    Melioidosis

    "fase intensif" (paling sering seftazidima) diikuti dengan pengobatan kotrimoksazol selama beberapa bulan. Bahkan jika dirawat dengan cermat, sekitar 10%

    Listeria

    ampisillin, vankomisin, siprofloksasin, linezolid, azitromisin, dan kotrimoksazol. Kasus listeriosis pertama didokumentasikan pada tahun 1924. Pada akhir

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026