Lintasan satwa liar atau koridor satwa liar, koridor habitat, atau koridor hijau adalah wilayah habitat yang menghubungkan populasi satwa liar yang dipisahkan oleh aktivitas atau struktur manusia. Hal ini memungkinkan pertukaran individu antar populasi, yang dapat membantu mencegah efek negatif perkawinan sekerabat, yaitu mengurangi keragaman genetik melalui hanyutan genetik dalam populasi terisolasi. Lintasan satwa liar juga dapat membantu memfasilitasi pembentukan kembali populasi yang telah berkurang atau dihilangkan karena kejadian acak. Hal ini berpotensi memoderasi beberapa efek terburuk dari fragmentasi habitat, di mana urbanisasi dapat memecah area habitat, menyebabkan hewan kehilangan habitat aslinya dan kemampuan untuk berpindah antar wilayah untuk menggunakan semua sumber daya yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Fragmentasi habitat akibat pembangunan manusia merupakan ancaman yang terus meningkat terhadap keanekaragaman hayati dan lintasan satwa liar adalah mitigasi yang mungkin dilakukan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: Name-year "Harvard" references to nowhere. (April 2022) |

Lintasan satwa liar atau koridor satwa liar, koridor habitat, atau koridor hijau (Bahasa Inggris: wildlife corridor)[1] adalah wilayah habitat yang menghubungkan populasi satwa liar yang dipisahkan oleh aktivitas atau struktur manusia (seperti jalan, pembangunan, atau penebangan). Hal ini memungkinkan pertukaran individu antar populasi, yang dapat membantu mencegah efek negatif perkawinan sekerabat, yaitu mengurangi keragaman genetik melalui hanyutan genetik dalam populasi terisolasi. Lintasan satwa liar juga dapat membantu memfasilitasi pembentukan kembali populasi yang telah berkurang atau dihilangkan karena kejadian acak (seperti kebakaran atau penyakit). Hal ini berpotensi memoderasi beberapa efek terburuk dari fragmentasi habitat,[2] di mana urbanisasi dapat memecah area habitat, menyebabkan hewan kehilangan habitat aslinya dan kemampuan untuk berpindah antar wilayah untuk menggunakan semua sumber daya yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.[3] Fragmentasi habitat akibat pembangunan manusia merupakan ancaman yang terus meningkat terhadap keanekaragaman hayati dan lintasan satwa liar adalah mitigasi yang mungkin dilakukan.

Tujuan utama penerapan koridor satwa liar adalah untuk meningkatkan keanekaragaman hayati. Ketika wilayah daratan dipecah oleh campur tangan manusia, jumlah populasi menjadi tidak stabil dan banyak spesies hewan dan tumbuhan menjadi terancam punah. Dengan menghubungkan kembali fragmen tersebut, fluktuasi populasi dapat menurun drastis. Koridor dapat berkontribusi pada tiga faktor yang menstabilkan populasi antara lain:
Rosenberg dkk. (1995) [4] adalah yang pertama kali merumuskan konsep koridor satwa liar. Pada masa awal penelitian tentang koridor, definisi "koridor biologis" sering kali samar dan tidak konsisten, mengakibatkan kebingungan mengenai bentuk dan fungsi yang tepat. Melalui upaya Rosenberg dkk, mereka mengembangkan sebuah model konseptual yang menyoroti peran koridor satwa liar sebagai jalur yang memfasilitasi pergerakan hewan, tanpa harus terpaku pada persyaratan vegetasi asli atau karakteristik habitat tertentu.[5]