Ketika dua atau lebih monomer berbeda bersatu untuk dipolimerisasi, hasilnya disebut sebagai kopolimer dan prosesnya disebut sebagai kopolimerisasi. Monomernya biasanya memiliki ikatan rangkap dua atau tiga yang mengalami reaksi silang dengan molekul lain untuk membentuk ikatan tunggal baru antara monomer. Ikatan rangkap dua yang berpartisipasi dalam reaksi polimerisasi meliputi ikatan rangkap C=C, ikatan rangkap C=N, dan ikatan rangkap C=O. ikatan rangkap tiga yang berpartisipasi dalam polimerisasi biasanya dapat mencakup ikatan rangkap karbon-karbon dan ikatan rangkap tiga karbon-nitrogen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suatu polimer yang terdiri dari lebih dari satu monomer.
Catatan: Kopolimer yang diperoleh dari kopolimerisasi dari dua spesi monomer
terkadang diistilahkan sebagai bipolimer, mereka yang diperoleh dari tiga monomer
disebut terpolimer, untuk empat monomer kuaterpolimer, dsb. [1]Kopolimer bergantian (alternating): Suatu kopolimer yang terdiri dari makromolekul
yang terdiri dari dua spesi satuan monomer dalam urutan bergantian.Catatan: Kopolimer bergantian dapat dianggap sebagai suatu homopolimer
yang berasal dari suatu monomer implisit atau hipotesis.[1]Kopolimer blok: Suatu bagian makromolekul, terdiri dari banyak satuan penyusun,
yang memiliki setidaknya satu fitur yang tidak ada dalam bagian yang berdekatan.[1]Kopolimer graft: Suatu makromolekul dengan satu atau lebih spesi blok yang
terhubung dengan rantai utama sebagai rantai samping, rantai samping ini
memiliki bagian penyusun atau konfigurasi yang berbeda dengan yang terdapat
dalam rantai utama.[2]
Ketika dua atau lebih monomer berbeda bersatu untuk dipolimerisasi, hasilnya disebut sebagai kopolimer dan prosesnya disebut sebagai kopolimerisasi. Monomernya biasanya memiliki ikatan rangkap dua atau tiga yang mengalami reaksi silang dengan molekul lain untuk membentuk ikatan tunggal baru antara monomer. Ikatan rangkap dua yang berpartisipasi dalam reaksi polimerisasi meliputi ikatan rangkap C=C, ikatan rangkap C=N, dan ikatan rangkap C=O. ikatan rangkap tiga yang berpartisipasi dalam polimerisasi biasanya dapat mencakup ikatan rangkap karbon-karbon (gugus etilena) dan ikatan rangkap tiga karbon-nitrogen (gugus nitril).
Kopolimer komersial yang relevan termasuk akrilonitril butadiena stiren (ABS), kopolimer stirena/butadiena (SB, karet nitril, stirena-isoprena-stirena SIS) dan etilen-vinil asetat.

Karena kopolimer terdiri dari setidaknya dua jenis satuan penyusun (juga unit struktural), kopolimer dapat diklasifikasikan berdasarkan bagaimana satuan-satuan ini disusun sepanjang rantai.[3] Hal ini termasuk:
Kopolimer juga dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan keberadaan atau pengaturan cabang dalam struktur polimer. Kopolimer linier terdiri dari satu rantai utama sedangkan kopolimer bercabang terdiri dari rantai utama tunggal dengan satu atau lebih rantai sisi polimer.
Kopolimer spesial lainnya adalah kopolimer bintang, kopolimer sikat, dan kopolimer sisir. Dalam kopolimer gradien komposisi monomer berubah secara bertahap sepanjang rantai.
Suatu kopolimer berulang memiliki rumus: -A-B-A-B-A-B-A-B-A-B-, atau -(-A-B-)n-. Rasio molar monomer dalam polimer mendekati satu, yang terjadi ketika rasio reaktivitas r1 & r2 mendekati nol, seperti diberikan oleh persamaan Mayo–Lewis atau disebut pula persamaan kopolimerisasi:[8]
di mana r1 = k11/k12 & r2 = k22/k21
Kopolimerisasi digunakan untuk memodifikasi sifat plastik manufaktur untuk memenuhi kebutuhan spesifik, misalnya untuk mengurangi kristalinitas, memodifikasi suhu transisi gelas atau untuk meningkatkan kelarutan. Hal ini merupakan cara untuk memperbaiki sifat mekanik, dalam teknik yang dikenal sebagai ketangguhan karet. Fase elastomer dalam matriks kaku bertindak sebagai penahan retak, sehingga meningkatkan penyerapan energi saat material terkena dampak misalnya. Akrilonitril butadiena stiren adalah contoh yang umum.
| Akrilonitril butadiena stiren | |
|---|---|