Perumahan berpagar, disebut juga perumahan berbenteng, komunitas berpagar atau kompleks perumahan tertutup adalah sejenis kompleks perumahan yang memiliki pintu masuk yang diawasi atau dijaga secara ketat untuk pejalan kaki dan kendaraan, dan seringkali dicirikan oleh pembatas tertutup berupa tembok dan pagar. Perumahan tertutup biasanya terdiri dari jalan-jalan perumahan kecil dan mencakup berbagai fasilitas bersama. Untuk kompleks yang lebih kecil, fasilitas ini mungkin hanya mencakup taman atau area umum lainnya. Untuk komunitas yang lebih besar, mungkin saja penduduk dapat tetap berada di dalam komunitas untuk sebagian besar aktivitas sehari-hari. Perumahan berpagar adalah jenis pengembangan kepentingan bersama, tetapi berbeda dari komunitas terencana.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Perumahan berpagar, disebut juga perumahan berbenteng, komunitas berpagar atau kompleks perumahan tertutup (bahasa Inggris: gated/walled communitycode: en is deprecated ) adalah sejenis kompleks perumahan yang memiliki pintu masuk yang diawasi atau dijaga secara ketat untuk pejalan kaki dan kendaraan, dan seringkali dicirikan oleh pembatas tertutup berupa tembok dan pagar. Perumahan tertutup biasanya terdiri dari jalan-jalan perumahan kecil dan mencakup berbagai fasilitas bersama. Untuk kompleks yang lebih kecil, fasilitas ini mungkin hanya mencakup taman atau area umum lainnya. Untuk komunitas yang lebih besar, mungkin saja penduduk dapat tetap berada di dalam komunitas untuk sebagian besar aktivitas sehari-hari. Perumahan berpagar adalah jenis pengembangan kepentingan bersama, tetapi berbeda dari komunitas terencana.
Karena alasan sosio-historis, di negara maju perumahan berpagar terutama terdapat di Amerika Serikat.[1]
Mengingat perumahan berpagar secara spasial merupakan jenis enklave, Setha M. Low, seorang antropolog, berpendapat bahwa perumahan berpagar memiliki efek negatif terhadap modal sosial bersih dari komunitas yang lebih luas di luar perumahan berpagar tersebut.[2] Beberapa kompleks perumahan berpagar, yang biasanya disebut "perumahan berpagar dengan penjaga", dijaga oleh petugas keamanan (satpam) swasta dan sering kali menjadi tempat tinggal bagi harta benda bernilai tinggi, dan/atau didirikan sebagai desa pensiunan.

Selain jasa penggerbang, banyak kompleks perumahan berpagar menyediakan fasilitas lain. Fasilitas ini dapat bergantung pada sejumlah faktor termasuk lokasi geografis, komposisi demografis, struktur komunitas, dan biaya komunitas yang dikumpulkan. Jika terdapat sub-asosiasi yang tergabung dalam asosiasi induk, asosiasi induk tersebut dapat menyediakan banyak fasilitas. Secara umum, semakin besar asosiasi, semakin banyak fasilitas yang dapat disediakan.
Fasilitas juga bergantung pada jenis perumahan. Misalnya, komunitas rumah keluarga tunggal mungkin tidak memiliki kolam renang umum, karena pemilik rumah individu memiliki kemampuan untuk membangun kolam renang pribadi mereka sendiri. Di sisi lain, kondominium mungkin menawarkan kolam renang komunitas, karena unit-unit individu tidak memiliki pilihan untuk memasang kolam renang pribadi.
Fasilitas umum yang ditawarkan dapat mencakup satu atau lebih hal berikut:

Para pendukung kompleks perumahan berpagar (dan pada tingkat yang lebih rendah, jalan buntu) berpendapat bahwa pengurangan atau pengecualian orang-orang yang hanya lewat, atau lebih umum, semua orang non-lokal, membuat setiap "orang asing" jauh lebih mudah dikenali di lingkungan lokal yang tertutup, dan dengan demikian mengurangi bahaya kejahatan. Namun, beberapa berpendapat bahwa, karena hanya sebagian kecil dari semua orang non-lokal yang melewati daerah tersebut adalah calon penjahat, peningkatan lalu lintas seharusnya meningkatkan, bukan mengurangi, keamanan dengan adanya lebih banyak orang di sekitar yang kehadirannya dapat mencegah perilaku kriminal atau yang dapat memberikan bantuan selama suatu insiden.[3]
Kritik lain adalah bahwa komunitas berpagar menawarkan rasa aman yang semu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keamanan di perumahan berpagar mungkin lebih ilusi daripada kenyataan dan bahwa perumahan berpagar di daerah pinggiran kota Amerika Serikat tidak memiliki tingkat kejahatan yang lebih rendah daripada perumahan serupa yang tidak berpagar.[4]
Dalam makalahnya, Vanessa Watson memasukkan perumahan berpagar ke dalam kelas "fantasi perkotaan Afrika": upaya untuk membangun kembali kota-kota Afrika seperti Dubai atau Singapura. Dalam analisis Watson, perencanaan kota semacam ini mengutamakan ruang eksklusif dan tertutup yang membatasi peluang interaksi antar kelas yang berbeda, sementara memperburuk marginalisasi kaum miskin perkotaan.[5]
Sebuah studi yang dilakukan oleh Breetzke, Landman & Cohn (2014) menyelidiki pengaruh perumahan berpagar terhadap risiko individu menjadi korban pencurian di Afrika Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas berpagar tidak hanya tidak mampu mengurangi pencurian, tetapi bahkan memfasilitasi aktivitas kriminal. Baik untuk komunitas berpagar maupun daerah sekitarnya, kepadatan pencurian ditemukan empat kali lebih tinggi daripada di Tshwane. Tingkat kejahatan tidak menurun di daerah yang jauh dari perumahan berpagar. Selain itu, risiko pencurian yang tinggi ditemukan konsisten baik pada siang maupun malam hari. Karena penelitian tentang pengaruh perumahan berpagar di Afrika Selatan ini mencerminkan korelasi negatif antara penggunaan perumahan berpagar dan pencegahan kejahatan, efektivitas perumahan berpagar diragukan.[6]
Sejumlah kecil kompleks perumahan tertutup telah lama dibangun untuk warga asing di berbagai negara di dunia:
Di Indonesia, beberapa kompleks perumahan tertutup merupakan perumahan mewah (dengan luas hingga 740 meter persegi (8000 kaki persegi)), dan beberapa lainnya sangat terjangkau (dengan luas lahan mulai dari 40 hingga 120 meter persegi). Sejak tahun 2000, sebagian besar kawasan perumahan baru yang dibangun oleh pengembang swasta sebagian besar terdiri dari kompleks perumahan tertutup. Contohnya termasuk kawasan perumahan Bumi Serpong Damai di Tangerang Selatan, Kompleks Perumahan Tropicana di Kota Tangerang, Telaga Golf Sawangan dan Pesona Khayangan di Depok, dan Sentul City di Kabupaten Bogor. Komunitas berpagar di Indonesia masih mengizinkan orang luar untuk menggunakan beberapa fasilitas di dalam komunitas karena ada peraturan bahwa fasilitas sosial di perumahan harus diserahkan kepada pemerintah daerah untuk digunakan oleh masyarakat.[7]
==Bacaan lebih lanjut==