Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) merupakan perhelatan debat untuk mahasiswa di Indonesia yang pertama kali diadakan pada tahun 2018. Mulanya perlombaan ini menggunakan parlementer asia 3 vs 3. Namun sejak 2021, kompetisi ini menggunakan format debat parlementer Inggris. Masing-masing universitas mengirimkan 2 mahasiswa dan 1 juri N-1 dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang dipilih melalui seleksi tingkat LLDIKTI.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) merupakan perhelatan debat untuk mahasiswa di Indonesia yang pertama kali diadakan pada tahun 2018. Mulanya perlombaan ini menggunakan parlementer asia 3 vs 3. Namun sejak 2021, kompetisi ini menggunakan format debat parlementer Inggris (yang melibatkan 4 tim dalam satu debat). Masing-masing universitas mengirimkan 2 mahasiswa dan 1 juri N-1 dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang dipilih melalui seleksi tingkat LLDIKTI.
KDMI pertama kali dilaksanakan pada tahun 2018 menggunakan format parlementer asia hingga tahun 2020. Jumlah universitas yang dapat berpartisipasi pada format ini ialah sekitar 30 universitas. Sejak 2021, KDMI bertransisi menggunakan format debat parlementer Inggris dengan jumlah 2 pembicara per tim dan melibatkan 112 universitas dalam pelaksanaannya. Lomba ini dinaungi oleh Pusat Prestasi Nasional dan Balai Pengembangan Talenta Indonesia.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa utama lomba debat ini. Topik yang disediakan oleh Dewan Juri Inti memiliki keragaman dari isu-isu domestik sampai mancanegara. Kategori pratama pertama kali diperkenalkan pada tahun 2023.
Sejak tahun 2025, KDMI kembali dinaungi oleh Belmawa, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi[1].
| Tahun | Tuan Rumah | Pembicara Terbaik Terbuka | Finalis Tim Terbuka | Pembicara Terbaik Pratama | Finalis Tim Pratama | Dewan Juri Inti | Mosi Babak Final |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 2025 | Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah |
|
Juara 1: Universitas Presiden
Juara 2: Institut Pertanian Bogor Juara 3: Universitas Bangka Belitung Juara 4: Universitas Sunan Kalijaga |
|
Juara 1: Universitas Negeri Padang
Juara 2: Universitas Sumatera Utara Juara 3: Universitas Negeri Manado Juara 4: Universitas Negeri Medan |
|
Mosi Kategori Terbuka:
Dewan ini akan secara aktif mendorong kembali tumbuhnya budaya membaca fiksi sastrawi sebagai upaya peningkatan literasi yang harus dimiliki masyarakat saat ini. Mosi Kategori Pratama: Dewan ini berpandangan bahwa terdapat lebih banyak manfaat dalam dominansi penggunaan basisdata akses terbuka (misalnya, ArXiv) sebagai repositori keluaran akademik, alih-alih basisdata akses tertutup (misalnya, JSTOR) |
| 2024 | Universitas Ciputra, Surabaya |
|
Juara 1: Universitas Telkom
Juara 2: Universitas Diponegoro Juara 3: Universitas Hasanuddin Juara 4: Universitas Airlangga |
|
Juara 1: Universitas Nusa Cendana
Juara 2: Universitas Negeri Medan Juara 3: Institut Teknologi & Bisnis Sabda Setia Juara 4: Universitas Atma Jaya Yogyakarta |
Muhammad Akbar Walenna, Gabriel Charlotte Wajong, Jeanne Sanjaya, Meganusa Prayudi Ludvianto | Regionalisasi bahasa adalah upaya untuk meningkatkan derajat pengaruh kedaerahan dalam penggunaan bahasa yang luas digunakan, seperti bahasa Indonesia di Indonesia atau bahasa Inggris secara global.
Prestise dalam sosiolinguistik merujuk pada tingkat pamor atau keunggulan suatu ragam bahasa dibandingkan dengan dialek lain dalam komunitas yang sama. Ragam bahasa dengan prestise tinggi dianggap lebih "benar" atau lebih baik oleh masyarakat. Misalnya, dialek Jakarta atau aksen Jawa dalam bahasa Indonesia, serta aksen “posh English” yang umum digunakan darah biru monarki Inggris. Contoh-contoh di atas dianggap memiliki prestise tinggi karena banyak digunakan di pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan, serta oleh orang-orang terkenal. Dewan ini mendukung regionalisasi bahasa[2] |
| 2023 | Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten[3] |
|
Juara 1: Universitas Gadjah Mada
Juara 2: Universitas Padjajaran Juara 3: Universitas Negeri Malang |
|
Juara 1: Universitas Negeri Semarang
Juara 2: |
Citra Dewi Harmia, Feliani, Leonardus Hans, Muh. Batara Mulya, Shannon | |
| 2022 |
|
Juara 1: Universitas Gadjah Mada
Juara 2: Universitas Airlangga Juara 3: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Juara 4: Universitas Lambung Mangkurat |
Citra Dewi Harmia, Furqanul Hakim, Retno Anjani Dian Shinta Wulandari, dan Hans Giovanny Yosua[4] | "Subversi Budaya” merupakan bentuk pemberontakan untuk merobohkan struktur kekuasaan yang mendominasi. Dalam hal ini struktur kekuasaan yang dimaksud adalah budaya kelas menengah ke atas. Kelas tersebut kerap kali memamerkan kemewahan dan gaya hidup elitis yang eksklusif. Hal in telah menciptakan perlawanan budaya dari kelas menengah ke bawah yang juga menginginkan wadah ekspresi identitas.
Perlawanan tersebut muncul secara terbatas pada kelas tertentu, tetapi belum menjadi sebuah sub-budaya baru. Contoh tapi tidak terbatas pada: Citayem Fashion Week, Kelompok Punk, Gaya Harajuku Dewan ini menyesalkan tren subversi budaya urban | |||
| 2019 | Universitas Airlangga[5], Surabaya |
|
Juara 1: Institut Pertanian Bogor
Juara 2: Universitas Negeri Malang Juara 3 bersama: Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Islam Sunan Agung |