Komarudin adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea Selatan. Nama asli Komarudin adalah Yang Chil-seong (양칠성), sedangkan nama Jepangnya Shichisei Yanagawa (梁川七星).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Komarudin | |
| Hangul | 코마루딘code: ko is deprecated |
|---|---|
| Alih Aksara | Komarudin |
| McCune–Reischauer | K'omarudin |
| Nama lahir | |
| Hangul | 양칠성code: ko is deprecated |
| Hanja | 梁七星code: ko is deprecated |
| Alih Aksara | Yang Chilseong |
| McCune–Reischauer | Yang Ch'ilsŏng |
Komarudin (29 Mei 1919 – 21 Mei 1949) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea Selatan.[1][2][3] Nama asli Komarudin adalah Yang Chil-seong (양칠성),[1] sedangkan nama Jepangnya Shichisei Yanagawa (梁川七星).
Yang Chil-seong lahir pada tanggal 29 Mei 1919 di Kabupaten Wanju, Provinsi Jeolla Utara, Korea. Pada masa penjajahan Jepang atas Korea, ia terkena wajib militer dan dikirim ke Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Jepang. Pada tahun 1942, ia ditugaskan sebagai penjaga kamp tahanan perang Sekutu di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, baik Korea maupun Indonesia berada di bawah pendudukan Kekaisaran Jepang.
Setelah Jepang menyerah dan Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945, Korea dan Indonesia sama-sama menyatakan kemerdekaan mereka. Namun, alih-alih kembali ke tanah kelahirannya, Yang Chil-seong memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Ia mengganti namanya menjadi Komarudin dan menikah dengan seorang wanita Indonesia.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer untuk kembali menguasai Indonesia, Komarudin bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia bersama dua orang mantan tentara Jepang yang juga tidak pulang ke negaranya, yakni Hasegawa (yang kemudian berganti nama menjadi Abubakar) dan Masahiro Aoki (dikenal sebagai Usman). Mereka bertiga dikenal memiliki kemampuan tempur yang sangat baik.
Komarudin dan rekan-rekannya bergabung dengan pasukan gerilya bernama Pasukan Pangeran Papak di bawah komando Mayor Kosasih, yang bermarkas di Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) dan berbasis di Wanaraja, Garut. Mereka terlibat dalam berbagai pertempuran melawan tentara Belanda, termasuk dalam peristiwa Bandung Lautan Api.
Salah satu aksi penting Komarudin adalah menggagalkan upaya pasukan Belanda merebut wilayah Wanaraja dengan menghancurkan Jembatan Cimanuk, yang merupakan jalur strategis di kawasan tersebut.
Usai Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Yang Chil-seong dan beberapa rekan Korea lainnya tergabung dengan satu pasukan Jepang pimpinan Masharo Aoki. Lewat suatu pertempuran di wilayah Majalaya (Kabupaten Bandung), pasukan tersebut berhasil ditawan oleh Pasukan Pangeran Papak, suatu laskar yang berasal dari Garut. Mereka kemudian dibawa ke Garut dan pada 1946 atas inisiatif Aoki mereka lantas memutuskan untuk bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak pimpinan Mayor S.M. Kosasih dan menyatakan diri untuk agama Islam.[4] Bersama Pasukan Pangeran Papak, Yang Chil-seong aktif menghadapi militer Belanda di Garut dan sekitarnya. Pada 1948, PPP meleburkan diri dengan organ-organ laskar lainnya di Garut. Mereka lantas membentuk Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Letnan Satu R.Djoeana Sasmita, yang bermarkas di Legok Dora, Gunung Galunggung .[4] Yang Chil-seong memiliki kemampuan bertempur yang baik, terutama dalam bidang sabotase[4] Dia tercatat pernah menggagalkan upaya Belanda merebut Wanaraja dengan menghancurkan Jembatan Cimanuk.
Ketika Belanda menguasai Wanaraja (Garut) sebagai basis Pasukan Pangeran Papak, Yang Chil-seong dan kawan-kawannya meluputkan diri ke wilayah pegunungan Galunggung. Di sana mereka membangun basis perlawanan yang baru. Namun karena suatu pengkhianatan, pada 26 Oktober 1948, basis MBGG diserang secara mendadak oleh pasukan Belanda dari 3-14-RI dan berhasil menangkap Yang Chil-seong beserta tiga kawannya yang lain. Setelah melalui pengadilan panjang, pada 21 Mei 1949, Komarudin, Abubakar(Hasegawa), dan Usman(Masahiro Aoki) dieksekusi di Kerkhoff, Garut.[4] Sementara itu, Djoeana mendapat hukuman penjara seumur hidup di LP Cipinang.[3] Mereka dimakamkan di TPU Pasir Pogor, lalu tahun 1975 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan TenjolayaGarut.[2]
Sebelumnya hanya terdapat sedikit informasi mengenai kehidupan Yang Chil-seong di Indonesia. Informasi mengenai Komarudin yang ternyata merupakan orang Korea berhasil diungkap oleh peneliti Jepang bernama Utsumi Aiko .[1] Utsumi berhasil mewawancarai teman-teman seperjuangan Yang Chil-seong yang masih hidup.[4] Pada bulan Juli 1995, pemerintah Indonesia dan perwakilan Korea Selatan mengadakan upacara penggantian batu nisan Komarudin secara militer.[4] Sejak saat itu Komarudin dianggap sebagai salah satu tokoh pejuang yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia.[4]