Kima raksasa merupakan hewan dari kelas Bivalvia yang artinya biota ini bertubuh lunak dan dilindungi sepasang cangkang bertangkup seperti kerang lainnya. Kima bernapas dengan menggunakan insang, alat gerak berupa kaki perut yang dimodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis melekatkan diri pada substrat berbatu dengan organ yang disebut byssus. Mereka hidup di perairan terumbu karang di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia, dan memiliki umur rata-rata di alam liar lebih dari 100 tahun. Kerang ini termasuk spesies rentan pada daftar merah IUCN. Kerang ini diburu diambil dagingnya, juga diambil cangkangnya yang indah. Kima memiliki peran penting dalam ekosistem karena ia menjadi filter alami air laut dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota terumbu karang. Keberadaan kima juga mengindikasikan bahwa air laut tersebut masih baik kualitasnya atau belum tercemar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kima raksasa | |
|---|---|
| kima raksasa difoto di karang penghalang besar pada tahun 2002 | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Domain: | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | Tridacna gigas |
| Sinonim[3] | |
|
Chama gigantea Perry, 1811 | |
Kima raksasa (Tridacna gigas) merupakan hewan dari kelas Bivalvia yang artinya biota ini bertubuh lunak dan dilindungi sepasang cangkang bertangkup seperti kerang lainnya. Kima bernapas dengan menggunakan insang, alat gerak berupa kaki perut yang dimodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis melekatkan diri pada substrat berbatu dengan organ yang disebut byssus. Mereka hidup di perairan terumbu karang di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia, dan memiliki umur rata-rata di alam liar lebih dari 100 tahun. Kerang ini termasuk spesies rentan pada daftar merah IUCN. Kerang ini diburu diambil dagingnya, juga diambil cangkangnya yang indah. Kima memiliki peran penting dalam ekosistem karena ia menjadi filter alami air laut dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota terumbu karang. Keberadaan kima juga mengindikasikan bahwa air laut tersebut masih baik kualitasnya atau belum tercemar.

Ukuran cangkang kima raksasa bisa mencapai 120 cm dan berat lebih dari 200 kg. Rekor spesimen Tridacna gigas terbesar, dipegang oleh cangkang kima asal Indonesia, tepatnya dari Pantai Barat Tapanuli, Sumatra Utara yang ditemukan 1817. Ukuran panjang cangkang kima tersebut mencapai 137 cm dengan berat sekitar 250 kg. Saat ini, cangkang kima pemegang rekor itu, menjadi koleksi sebuah museum di Irlandia Utara. Rekor untuk spesimen kima terberat, menjadi milik cangkang yang berasal dari Pulau Ishagaki, Jepang. Kima tersebut memiliki panjang cangkang 115 cm dengan berat 333 kg. Mantelnya memiliki sistem sirkulasi khusus yang menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae, makhluk hidup bersel tunggal yang berfotosintesis.[4][5]
Zooxanthellae dan kima memiliki hubungan simbiosis mutualisme di mana zooxanthellae mendapatkan bahan mentah dan tempat bernaung dari kima sedangkan kima mendapatkan keuntungan tambahan nutrisi yang disalurkan melalui sistem saringan makanan. Meskipun lingkungan perairan di sekitar kima sangat miskin unsur hara, kerang raksasa ini masih dapat tumbuh dengan baik.
Kima dewasa bersifat menetap di dasar perairan, sebagian besar sumber makanan didapat dari zooxanthellae dan sisanya dari filter feeding. Pada siang hari, kima membuka cangkangnya agar zooxanthellae mendapatkan sinar matahari. Pada saat mendapatkan gangguan, kima akan merespons dengan menutup cangkangnya secara perlahan. Beberapa jenis kima juga akan menyemprotkan air untuk mengusir ikan-ikan predator saat menarik mantelnya ke dalam cangkang.[6]
Pada waktu masih muda kima semuanya berkelamin jantan, tetapi setelah dewasa kima raksasa ini segera berubah menjadi hermafrodit. Setiap satu individu dapat menghasilkan sperma dan sel telur, tetapi proses pematangan keduanya tidak terjadi secara bersamaan, sehingga pembuahan dari satu individu tidak terjadi. Sifat pemijahan ini secara alami menguntungkan karena dapat menghindari terjadinya pembuahan sendiri yang dapat menghasilkan keturunan yang inferior.
Kima tersebar di perairan hangat di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia yang meliputi Teluk Benggala dan Laut Andaman, Laut China Selatan hingga Filipina dan Jepang, seluruh Kepulauan Indonesia dan Australia Utara hingga Kepulauan Fiji. Kima raksasa menghuni perairan terumbu karang, dan laguna dangkal dan kedalaman maksimal mencapai 20 meter.[7]
IUCN mencantumkan kerang raksasa sebagai daftar "rentan".[8] Ada kekhawatiran di antara kalangan konservasionis tentang apakah mereka yang menggunakan spesies sebagai sumber penghidupan terlalu banyak mengeksploitasinya. Angka di alam liar terus berkurang dengan panen yang ekstensif untuk makanan dan perdagangan akuarium. Di Indonesia kima raksasa merupakan spesies dilindungi sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 Tentang: Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa.