Kim Al Ghozali AM adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui sejumlah karyanya berupa puisi, esai, cerpen, artikel, dan resensi buku. Tulisannya dipublikasikan di pelbagai media, baik media cetak, majalah sastra, jurnal, dan media online. Selain itu ia aktif bergiat di sebuah komunitas sastra yang ada di Denpasar, Jatijagat Kampung Puisi (JKP-109), bersama Wayan Jengki Sunarta, Mira MM Astra dan rekan-rekannya yang lain. Ia pun pernah bergiat di Malam Puisi Indonesia di Bali, sebuah acara baca puisi setiap akhir bulan dengan peserta para muda milenial.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Februari 2023) |
Kim Al Ghozali AM (lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 12 Desember 1991; umur 31 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui sejumlah karyanya berupa puisi, esai, cerpen, artikel, dan resensi buku. Tulisannya dipublikasikan di pelbagai media, baik media cetak (lokal dan nasional), majalah sastra, jurnal, dan media online. Selain itu ia aktif bergiat di sebuah komunitas sastra yang ada di Denpasar, Jatijagat Kampung Puisi (JKP-109), bersama Wayan Jengki Sunarta, Mira MM Astra dan rekan-rekannya yang lain. Ia pun pernah bergiat di Malam Puisi Indonesia di Bali,[1] sebuah acara baca puisi setiap akhir bulan dengan peserta para muda milenial.
Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, Jawa Timur, pada 12 Desember 1991. Ia mukim di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP 109). Di Denpasar ia pun banyak bersentuhan kreatif dengan Sastrawan-Pelukis Frans Nadjira dan Penyair Umbu Landu Paranggi, dua sastrawan yang dianggap mahaguru dalam kesusastraan Indonesia di Bali.
Di samping menulis puisi, ia menulis cerpen, novel, esai/artikel, dan resensi buku.[2][3][4] Biografinya tercatat dalam buku: Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017. Beberapa kali ia diundang dalam festival sastra, seperti Kemah Sastra Nasional di Banyuwangi tahun 2018, Festival Puisi Bangkalan 2 tahun 2017,[5] Festival Sastra Basabasi di Yogyakarta tahun 2017,[6] dan membaca puisi di Festival Anti Korupsi 2017 di Denpasar.[7][8] Buku Puisinya, Api Kata (Basabasi, 2017) masuk daftar panjang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017.[9] Selain itu puisi-puisinya juga masuk nominasi Penghargaan Sastra Litera 2018,[10] dan Penghargaan Puisi Pilihan Penyair Muda Indonesia Basabasi 2018.