Ki Purbo Asmoro adalah salah satu dalang wayang kulit terkemuka Indonesia yang banyak dikenal karena kekuatan vokal, serta keberaniannya melakukan pembaruan tanpa meninggalkan pakem tradisi pedalangan. Ki Purbo Asmoro yang lulus dan menjadi dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta ini tumbuh dalam lingkungan budaya Jawa yang kental, sehingga pagelaran wayang tidak sekadar menjadi seni pertunjukan, melainkan menjadi jalan hidupnya. Ki Purbo Asmoro dikenal luas sebagai dalang yang menguasai berbagai gaya pedalangan, terutama gaya Surakarta, dengan cengkok sabet yang tegas dan dialog yang mantab.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Ki Purbo Asmoro (lahir di Pacitan, 17 Desember 1961- ) adalah salah satu dalang wayang kulit terkemuka Indonesia yang banyak dikenal karena kekuatan vokal, serta keberaniannya melakukan pembaruan tanpa meninggalkan pakem (pedoman standar) tradisi pedalangan. Ki Purbo Asmoro yang lulus dan menjadi dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta ini tumbuh dalam lingkungan budaya Jawa yang kental, sehingga pagelaran wayang tidak sekadar menjadi seni pertunjukan, melainkan menjadi jalan hidupnya. Ki Purbo Asmoro dikenal luas sebagai dalang yang menguasai berbagai gaya pedalangan, terutama gaya Surakarta, dengan cengkok sabet yang tegas dan dialog yang mantab.[1]
Keistimewaan pedalangan Ki Purbo Asmoro terletak pada kemampuannya mengolah lakon-lakon klasik dengan pendekatan kontekstual. Dia kerap menyisipkan kritik sosial, refleksi moral, dan pesan kebangsaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Meskipun menampilkan banyak kritik, tutur bahasa, struktur adegan, serta nilai filosofis dari wayang yang ditampilkan tetap dijaga dengan disiplin yang kuat / tinggi. Hal ini membuat pertunjukannya dapat dinikmati baik oleh kaum penonton tua maupun pemirsa generasi muda.
Sebagai akademisi dan pendidik seni, Ki Purbo Asmoro juga berperan penting dalam pewarisan tradisi pedalangan. Kebanyakan pagelaran wayang kulit yang disajikannya selain sebagai penguatan nilai konservasi dan pelestarian budaya, juga sebagai upaya untuk mendekatkan diri dan membaur dengan masyarakat di sekitarnya. Selain aktif mengajar dan menulis, dia sering berdiskusi tentang estetika wayang serta filsafat Jawa. Dengan dedikasi tersebut, Ki Purbo Asmoro tidak hanya tampil sebagai seniman panggung, tetapi juga sebagai penjaga dan pengembang warisan budaya Nusantara, terutama wayang kulit.[2][3]