Khichdi atau khichri adalah hidangan tradisional khas Asia Selatan yang dibuat dari campuran nasi dan lentil (dal) yang dimasak bersama hingga lembut. Hidangan ini memiliki banyak variasi resep yang berbeda-beda di setiap daerah, baik dalam jenis lentil yang digunakan maupun dalam tambahan bumbu dan bahan pelengkapnya. Beberapa varian yang populer antara lain bajra khichri, yang menggunakan biji bajra, serta mung dal khichri, yang memakai kacang hijau kupas sebagai bahan utama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Khichdi atau khichri adalah hidangan tradisional khas Asia Selatan yang dibuat dari campuran nasi dan lentil (dal) yang dimasak bersama hingga lembut. Hidangan ini memiliki banyak variasi resep yang berbeda-beda di setiap daerah, baik dalam jenis lentil yang digunakan maupun dalam tambahan bumbu dan bahan pelengkapnya. Beberapa varian yang populer antara lain bajra khichri, yang menggunakan biji bajra (sejenis millet), serta mung dal khichri, yang memakai kacang hijau kupas sebagai bahan utama.[1]
Di India bagian utara, khichdi memiliki nilai budaya tersendiri karena sering disajikan sebagai makanan padat pertama untuk bayi, mengingat teksturnya yang lembut dan mudah dicerna. Selain itu, hidangan ini juga kerap dikonsumsi saat seseorang dalam masa pemulihan kesehatan, karena dianggap bergizi, ringan di perut, dan menenangkan. Dalam banyak rumah tangga India, khichdi juga menjadi makanan rumahan yang sederhana .[1][2]
Kata khichdi berasal dari bahasa Sanskerta khiccā (खिच्चा), yang merujuk pada hidangan berbahan dasar nasi dan kacang-kacangan.[3][4]
Perbedaan transliterasi dalam penulisan kata khicṛī terletak pada konsonan ketiganya, yang diucapkan sebagai bunyi lipatan retrofleks [ɽ]. Dalam bahasa Hindi, bunyi tersebut dilambangkan dengan huruf Devanagari ⟨ड़⟩, sedangkan dalam aksara Urdu menggunakan huruf Persia-Arab ⟨ ڑ ⟩. Dalam fonologi bahasa Hindustan, bunyi retrofleks ini berasal dari fonem /ɖ/ yang muncul di antara dua vokal.[5] Oleh karena itu, huruf Devanagari ⟨ड⟩ yang melambangkan /ɖ/ diadaptasi menjadi ⟨ड़⟩ dengan penambahan tanda diakritik di bawahnya untuk menunjukkan sifat retrofleks. Sementara itu, dalam aksara Urdu, huruf ⟨ر⟩ (/r/) dimodifikasi dengan diakritik di atasnya untuk menandai kualitas retrofleks.
Perbedaan fonologis dan etimologis tersebut menyebabkan munculnya dua bentuk ejaan dalam bahasa Inggris, yakni khichri yang mencerminkan pelafalan aslinya, dan khichdi yang mempertahankan bentuk etimologisnya.
Raja Yunani Seleukos I Nikator, selama kampanyenya di India pada tahun 305–303 SM, mencatat bahwa hidangan berupa nasi yang dimasak bersama kacang-kacangan merupakan makanan yang populer di kalangan masyarakat anak benua India. Geografer Yunani Strabo juga menulis bahwa makanan pokok masyarakat India terutama terdiri atas bubur nasi dan minuman fermentasi berbahan dasar beras, yang kini dikenal sebagai arak.[6]
Pada abad ke-14, pelancong asal Maroko Ibn Battuta menyebut khichdi sebagai hidangan khas India yang dibuat dari campuran nasi dan kacang hijau (mung). Catatan serupa ditemukan dalam karya Afanasiy Nikitin, seorang penjelajah Rusia yang mengunjungi anak benua India pada abad ke-15, yang turut menggambarkan kepopuleran hidangan ini.[6]
Pada masa Dinasti Mughal, khichdi menjadi makanan yang sangat digemari, terutama oleh Kaisar Jahangir. Naskah Ain-i-Akbari, dokumen abad ke-16 yang disusun oleh wazir Kaisar Akbar, yakni Abu’l-Fazl, mencantumkan resep khichdi dengan tujuh variasi berbeda. Selain itu, terdapat pula kisah anekdot terkenal yang mengaitkan hidangan ini dengan Akbar dan penasihat istananya, Birbal.
Hidangan kedgeree dalam kuliner Anglo-India diperkirakan berasal dari khichri, yang kemudian mengalami adaptasi sesuai selera masyarakat Inggris.[7]