Ruang hampa atau angkasa gelap adalah ruang kosong di antara filamen galaksi. Keduanya merupakan salah satu struktur berskala besar di alam semesta. Isi dari khali sering kali hanya beberapa galaksi atau sama sekali tidak ada.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Ruang hampa atau angkasa gelap (bahasa Inggris: void, dark spacecode: en is deprecated ) adalah ruang kosong di antara filamen galaksi.[1] Keduanya (filamen dan void) merupakan salah satu struktur berskala besar di alam semesta. Isi dari khali sering kali hanya beberapa galaksi atau sama sekali tidak ada.
Kebanyakan khali memiliki diameter sekitar 35 hingga 489 juta tahun cahaya, terutama untuk ruang hampa besar yang berupa tidak adanya gugus besar.
Ada beberapa metode untuk menemukan khali. Metode ini biasanya berupa algoritme yang dapat menyurvei langit berskala besar. Meskipun sudah ada beberapa survei-survei galaksi secara luas seperti Sloan Digital Sky Survey, 2dFGRS, 2MRS, dan 6dFGS, astronom masih kesulitan untuk mencari deskripsi yang sederhana agar nanti dapat meningkatkan presisi pencarian ruang hampa oleh prob antariksa.
Selama dekade terakhir, beberapa algoritma telah dibuat untuk mencari khali. Semua algoritma yang dibuat ini pada dasarnya jatuh ke dalam tiga kelas:[2]
Kelas pertama mencoba menemukan khali berdasarkan kepadatan galaksi lokal, sehingga nantinya ditemukan tempat yang kepadatannya lebih renggang.[3][4][5] Algoritma VoidFinder adalah salah satu algoritma yang menggunakan kelas algoritma ini. Diperkenalkan pada tahun 1997 oleh El-Ad dan Piran, cara kerjanya yaitu mengambil beberapa galaksi di sebuah katalog, Kemudian menggunakan Perkiraan Tetangga Terdekat untuk menghitung kepadatan kosmisnya.[6] Ukuran minimum yang ditentukan algoritma agar dianggap khali adalah sebesar 10 Mpc. Hal ini digunakan untuk menghindari kesalahan sampel.
Kelas kedua mencoba menemukan khali dengan mengenali struktur geometrinya yang ditunjuk oleh galaksi disekitarnya. Pada tahun 2008, Mark Neyrink dari Universitas Hawaii memperkenalkan sebuah algoritma yang cara kerjanya seperti ini. Neyrink menamainya algoritma ZOBOV (ZOnes Bordering On Voidness). Algoritma ini memanfaatkan diagram Voronoi untuk menghitung kepadatan dan menghitung kemungkinan adanya khali yang muncul dari fluktuasi Poisson. Ketika algoritma ini unggul dalam menentukan bentuk dan karakteristik ruang hampa, algoritma ini dikritik karena sering menemukan ruang hampa yang kecil dan tidak terlalu signifikan.[7]
Pendekatan yang dilakukan oleh algoritma kelas ketiga cukup berbeda dari kedua algoritma di atas. Jika khali dideksripsikan dengan pendekatan Euler, maka kelas ketiga menggunakan pendekatan Lagrangian untuk mendeskripsikan khali (deskripsi khali akan berpengaruh pada penemuan khali nantinya). Khali didefinisikan sebagai ruang di mana materi-materi melarikan diri (jika energi gelap dipertimbangkan di sini), maka bidang perpindahannya akan dihitung untuk memperkirakan posisi khali secara dinamis.[2]