"Kerusakan tambahan", juga disebut, "kerusakan kolateral" adalah istilah untuk setiap kematian, cedera, atau kerusakan lain yang tidak diinginkan dan tidak disengaja yang terjadi, terutama pada warga sipil, sebagai akibat dari suatu kegiatan. Istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan operasi militer, tetapi sekarang juga digunakan dalam konteks nonmiliter untuk merujuk pada dampak yang tidak diinginkan dari suatu tindakan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

"Kerusakan tambahan", juga disebut, "kerusakan kolateral" (bahasa Inggris: collateral damagecode: en is deprecated ) adalah istilah untuk setiap kematian, cedera, atau kerusakan lain yang tidak diinginkan dan tidak disengaja yang terjadi, terutama pada warga sipil, sebagai akibat dari suatu kegiatan. Istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan operasi militer,[1] tetapi sekarang juga digunakan dalam konteks nonmiliter untuk merujuk pada dampak yang tidak diinginkan dari suatu tindakan.[2][3]

Sejak pengembangan amunisi berpemandu presisi pada tahun 1970-an, angkatan bersenjata sering kali mengklaim telah berupaya keras untuk meminimalkan kerusakan tambahan.[4]
Para pengkritik penggunaan istilah "kerusakan tambahan" menganggapnya sebagai eufemisme yang merendahkan martabat warga sipil yang terbunuh atau terluka selama pertempuran, yang digunakan untuk mengurangi persepsi akan kesalahan pimpinan militer dalam mencegah jatuhnya korban dari pihak warga sipil.[5][6][7][8]
Kerusakan tambahan tidak termasuk korban sipil yang disebabkan oleh operasi militer yang ditujukan untuk meneror atau membunuh warga sipil musuh (misalnya, pengeboman Chongqing selama Perang Dunia II dan serangan Rusia terhadap infrastruktur Ukraina yang secara terbuka digambarkan sebagai "balasan" dan dimaksudkan untuk "membuat kota tidak dapat dihuni").[9][10][11][12]