Eufemisme atau bahasa halus adalah penghalusan makna kata yang dianggap tabu oleh masyarakat. Eufemisme digunakan untuk menggantikan atau menutupi kata dan ungkapan lain yang dianggap tabu, kasar, dan tidak pantas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Eufemisme atau bahasa halus adalah penghalusan makna kata yang dianggap tabu oleh masyarakat. Eufemisme digunakan untuk menggantikan atau menutupi kata dan ungkapan lain yang dianggap tabu, kasar, dan tidak pantas.[1]
Menurut KBBI edisi III 2001, eufemisme merupakan ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, dianggap dapat merugikan atau tidak menyenangkan.
Eufemisme digunakan sebagai ungkapan yang dapat menggantikan sesuatu yang dianggap tidak berkenan, untuk menghindari rasa malu, menghindari kata yang dapat membuat orang lain tersinggung. Sehingga dalam berkomunikasi dapat memberi kesan sopan dan dapat menghindari ungkapan yang tidak menyenangkan.[2]
Eufemisme adalah bentuk penggunaan bahasa yang bertujuan untuk menghaluskan makna suatu ungkapan agar terdengar lebih sopan, tidak menyinggung, atau lebih dapat diterima oleh masyarakat. Dalam praktiknya, eufemisme diwujudkan melalui berbagai cara, seperti penggunaan metafora, singkatan, kata serapan, atau istilah asing untuk menggantikan kata yang dianggap kasar, tabu, atau sensitif. Fungsi utama eufemisme tidak hanya sebatas menjaga kesantunan berbahasa, tetapi juga mencakup diplomasi, penyamaran informasi, pendidikan bahasa, hingga menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Fenomena eufemisme menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis, menyesuaikan diri dengan konteks sosial, budaya, serta kebutuhan komunikasi penggunanya.[3]
Kata eufemisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu "eu" (bagus) dan "phemoo" (berbicara). Eufemisme berarti berbicara dengan ungkapan yang baik dan sopan.[2]
Penggunaan eufemisme dapat dilihat dari kalimat berikut ini:[4]