Rafflesia hasseltii atau dikenal dengan nama umum kerubut, ambai-ambai, adalah spesies tumbuhan parasit dari genus Rafflesia yang dapat ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatra, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Rafflesia hasseltii | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Malpighiales |
| Famili: | Rafflesiaceae |
| Genus: | Rafflesia |
| Spesies: | R. hasseltii |
| Nama binomial | |
| Rafflesia hasseltii | |
Rafflesia hasseltii atau dikenal dengan nama umum kerubut, ambai-ambai,[1] adalah spesies tumbuhan parasit dari genus Rafflesia yang dapat ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatra, Indonesia.[2]
Selain Kerinci Seblat, laporan terbaru menyebutkan keberadaan spesies ini di beberapa lokasi hutan primer di Sumatra Barat dan Sumatera Selatan, termasuk Muratara, berdasarkan temuan warga saat patroli hutan.[3] Tanaman ini sepenuhnya bergantung pada inang dari genus Tetrastigma.
Pada November 2025, Rafflesia hasseltii dilaporkan kembali mekar di hutan Hiring Batang Somi, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.[4]. Spesies di Sijunjung ini ditemukan oleh tim riset gabungan antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Bengkulu, dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu, yang didanai oleh BRIN dan Universitas Oxford. Tim tersebut terdiri dari Joko Witono (BRIN), Chris Thorogood (Universitas Oxford), Septian Andriki (panggilan Deki; Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu)[5][6], dipandu oleh Iswandi (ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari; LPHN)[7]. Temuan ini menyoroti populasi liar spesies yang sangat terbatas serta kondisi habitatnya yang terfragmentasi.[8]
Populasi per lokasi sangat kecil, umumnya hanya beberapa kuncup, dan banyak kuncup mati sebelum mencapai tahap mekar. R. hasseltii berstatus dilindungi menurut peraturan Indonesia dan memerlukan pelestarian habitat hutan primer untuk mempertahankan populasinya.[9]
Beberapa fauna seperti babi hutan, rusa, tupai, dan semut tercatat berperan dalam menjaga keberlangsungan kuncup dan potensi penyebaran melalui aktivitas mereka di lantai hutan.[10]
Kuncup R. hasseltii dapat memerlukan waktu hingga sembilan bulan sebelum mekar, sementara fase mekarnya hanya berlangsung sekitar tujuh hari. Siklus hidup yang panjang dan rentan membuat monitoring lapangan menjadi penting.[11]
Pada percobaan terhadap tikus laboratorium, ekstrak tunas dari tanaman ini menunjukkan potensi mempercepat penyembuhan luka.[12]