Keratuan Balaw adalah entitas politik tradisional masyarakat Lampung yang keberadaannya direkonstruksi melalui tradisi lisan serta temuan arkeologis di kawasan Kedamaian, Bandar Lampung. Dalam tradisi lokal, keratuan ini dipandang sebagai salah satu pusat kekuasaan tua di Lampung yang sezaman dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Tulang Bawang, dan Skala Brak, meskipun bukti tertulis eksternal masih sangat terbatas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Keratuan Balaw | |
|---|---|
| sekitar abad VII–VIII (tradisi lisan)–abad XVI–XVIII (disintegrasi) | |
| Status | Entitas politik tradisional Lampung |
| Ibu kota | Kawasan Balaw (Kedamaian, Bandar Lampung) |
| Bahasa yang umum digunakan | Bahasa Lampung, Melayu |
| Agama | Animisme, Hindu-Siwa, kemudian Islam |
| Pemerintahan | Monarki adat |
| Ratu | |
| Sejarah | |
• Pendirian oleh Raden Kunyanyan | sekitar abad VII–VIII (tradisi lisan) |
• Kehancuran dan diaspora keturunan | abad XVI–XVIII (disintegrasi) |
| Sekarang bagian dari | |
Keratuan Balaw adalah entitas politik tradisional masyarakat Lampung yang keberadaannya direkonstruksi melalui tradisi lisan serta temuan arkeologis di kawasan Kedamaian, Bandar Lampung. Dalam tradisi lokal, keratuan ini dipandang sebagai salah satu pusat kekuasaan tua di Lampung yang sezaman dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Tulang Bawang, dan Skala Brak, meskipun bukti tertulis eksternal masih sangat terbatas.[1]
Menurut tradisi genealogis masyarakat Buai Kuning, Keratuan Balaw didirikan oleh Raden Kunyanyan bersama istrinya Putri Kuning dari wilayah Skala Brak. Setelah mendirikan kekuasaan, ia bergelar Ratu Sai Ngaji Saka.[1]
Pusat awal keratuan berada di Krui (muara Way Balaw), kemudian berpindah ke wilayah Kedamaian (Bandar Lampung). Lokasi ini memiliki karakter strategis karena diapit oleh Way Balaw dan Way Awi yang bermuara ke Way Lunik serta Teluk Lampung.
Tradisi lokal mencatat garis penguasa:
Ratu Mungkuk dimakamkan di Balaw, sedangkan Ratu Lengkara dalam kepercayaan lokal mengalami ngahiyang dan meninggalkan petilasan.
Pada abad ke-16, Keratuan Balaw disebut mencapai puncak kejayaan di bawah Ratu Lengkara. Tradisi menyebut adanya kegiatan canggot bara, yaitu pertemuan sosial budaya pada malam purnama yang diisi dengan tarian dan pantun.
Kehidupan yang makmur ini dalam tradisi lokal dikatakan dikenal hingga wilayah Semenanjung Malaka dan Patani.[1]
Kehancuran Keratuan Balaw diceritakan dalam beberapa versi tradisi:[1]
Keratuan diserang oleh kekuatan dari Palembang dengan taktik pengacauan pertahanan menggunakan tembakan meriam berisi logam dan benda berharga sehingga pertahanan bambu rusak dan memicu kekacauan.
Dalam tradisi Tulang Bawang, tokoh Minak Patih Pejurit datang untuk mempersunting putri Balaw, yang kemudian memicu konflik antar pangeran dan pertempuran di muara Way Lunik.
Tradisi lain mengaitkan Balaw dengan Kesultanan Banten, di mana penguasa Lampung disebut masuk Islam dan terlibat dalam ekspedisi melawan Pakuan Pajajaran.
Perbedaan versi ini menunjukkan keragaman tradisi historiografi lokal.
Setelah kehancuran, keturunan Balaw berpencar ke berbagai wilayah:
Pada abad ke-19, terjadi konsolidasi kembali yang melahirkan pemukiman Tiyuh Kedamaian.
Situs Keratuan Balaw terletak di Kedamaian, Bandar Lampung pada koordinat sekitar 5°25' LS dan 105°17' BT.
Kawasan ini diapit oleh Way Balaw dan Way Awi serta dikelilingi perbukitan seperti Gunung Camang dan Gunung Pemancar.[1]
Hasil survei dan ekskavasi menemukan berbagai tinggalan:
Selain itu ditemukan batu besar yang diduga menhir atau dolmen, meskipun interpretasinya belum pasti.[1]
Temuan arkeologis menunjukkan adanya:
Ekskavasi dilakukan dengan metode:
Dibuka lima lubang uji (LU I–V) dengan temuan hingga kedalaman sekitar 79 cm. Konsentrasi artefak ditemukan pada lapisan tanah berwarna gelap yang mengindikasikan aktivitas manusia intensif.
Keratuan Balaw memiliki karakter historiografi:
Karena itu, keberadaannya dikategorikan sebagai rekonstruksi sejarah berbasis tradisi lokal yang diperkuat data material.[1]
Keratuan Balaw menunjukkan lapisan budaya:
Tradisi penting meliputi: