Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiKerajaan Zamfara
Artikel Wikipedia

Kerajaan Zamfara

Kerajaan Zamfara adalah sebuah kerajaan Hausa yang terletak di wilayah barat laut Nigeria saat ini. Dikenal karena tanahnya yang subur, Zamfara menjadi pemain penting dalam konflik dan aliansi regional yang mewarnai Hausaland pada abad ke-17 dan ke-18. Namun, ketidakstabilan regional yang terus-menerus dan peperangan, terutama dengan Gobir, secara bertahap melemahkan kerajaan ini, hingga akhirnya diserap oleh Kekhalifahan Sokoto pada abad ke-19.

Wikipedia article
Diperbarui 2 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Zamfara
Peta Hausaland pada abad ke-18

Kerajaan Zamfara (Hausa: Masarautar Zamfara) adalah sebuah kerajaan Hausa yang terletak di wilayah barat laut Nigeria saat ini. Dikenal karena tanahnya yang subur, Zamfara menjadi pemain penting dalam konflik dan aliansi regional yang mewarnai Hausaland pada abad ke-17 dan ke-18. Namun, ketidakstabilan regional yang terus-menerus dan peperangan, terutama dengan Gobir, secara bertahap melemahkan kerajaan ini, hingga akhirnya diserap oleh Kekhalifahan Sokoto pada abad ke-19.[1]

Sejarah

Asal-usul

Wilayah ini awalnya dihuni oleh kepemimpinan Dutsi, Togai, Kiyawa/Kiawa, dan Jata. Kerajaan Zamfara kemudian muncul dengan pusatnya di Dutsi, dengan sejarah awal sebelum tahun 1600 umumnya berupa konsolidasi wilayah tetangganya.[2]: 276–7 

Orang Zamfarawa (penduduk Zamfara) umumnya mengklaim keturunan dari pemburu Maguzawa yang dulu menempati wilayah yang kini menjadi Kano. Inilah yang diyakini menjadi asal-usul taubastaka (hubungan sepupu) antara Zamfarawa dan Kanawa (penduduk Kano). Mereka pertama kali menetap di Dutsi, yang sekarang menjadi sebuah kota di Zurmi. Setelah tujuh tahun tanpa seorang pemimpin, mereka menunjuk Dakka sebagai Sarkin Zamfara pertama (penguasa Zamfara).[1]

Lima pemimpin berikutnya menggantikan Dakka, semuanya laki-laki kecuali yang keenam, seorang wanita bernama Algoje. Menurut legenda, para pemimpin ini adalah raksasa (Samodawa), dengan Dakka dikatakan mampu memakan seekor sapi utuh dalam satu kali makan dan suaranya terdengar hingga Katsina. Enam gundukan besar tanah di Dutsi diyakini sebagai makam para pemimpin awal Zamfara, dengan total 23 orang.[1]

Dari Dutsi, Zamfarawa pindah beberapa mil ke utara, dekat Sungai Gagare, dekat Isa saat ini di Sokoto. Beberapa sumber menyebut pemindahan ini terjadi pada masa raja ketujuh mereka, Bakurukuru (memerintah sekitar 1300), tetapi kemungkinan besar terjadi lebih lambat,[1] dengan Mahdi Amadu dalam General History of Africa (1984) memperkirakan abad ke-16 awal.[2]: 277  Dari lokasi ini, mereka mulai membangun kota besar berpagar yang menjadi Birnin Zamfara. Tembok kota dikatakan memiliki panjang sebelas mil dengan lima puluh gerbang, dan sisa-sisa tembok ini masih dapat dilihat di sebelah timur Isa.[1] Pada pertengahan abad ke-16, Zamfara melakukan ekspedisi ke selatan hingga Yauri, tetapi mereka tidak mampu mendudukinya secara permanen.[2]: 277 

Menurut tradisi, asal-usul nama Zamfara terkait dengan seorang putri Gobir bernama Fara. Konon ia tersesat di hutan saat melarikan diri dari suaminya dan diselamatkan oleh para pemburu yang membawanya ke desa mereka, Unguwar Maza, dekat Dutsi. Para pemburu merawatnya, dan ia kemudian hamil oleh salah satu yang termuda di antara mereka. Fara kemudian merindukan kampung halamannya dan meminta diantar kembali ke Gobir. Tak lama setelah kembali, ia melahirkan seorang anak. Sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada putrinya, raja Gobir memberikan kepada para pemburu seluruh tanah antara Unguwar Maza dan Sungai Niger. Mereka menamakannya Zamfara, bentuk singkat dari mazan Fara (“orang-orang Fara”), dan Birnin Zamfara dibangun di tempat para pemburu pertama kali menemuinya.[1]

Tradisi lain mengenai asal-usul nama Zamfara dicatat oleh cendekiawan Hausa, Alhaji Umaru al-Kanawi (1858–1934), dalam sebuah naskah Ajami. Menurutnya, seorang “pria baru” (mazan fara) datang dari “hutan” (daji) sebagai pemburu yang menjual daging buruannya. Pemukimannya kemudian berkembang, dan wilayah itu disebut “Kasar Mazan Fara” (“Tanah Pria Baru”) yang kemudian juga dikenal sebagai Zanfara.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Hogben, S. J.; Kirk-Greene, A. H. M. (1966). The Emirates Of Northern Nigeria A Preliminary Survey Of Their Historical Traditions. Internet Archive. hlm. 370–375.
  2. 1 2 3 Amadu, Mahdi (1984). "The Hausa and their neighbours in central Sudan". General History of Africa: Volume 4. UNESCO Publishing.
  3. ↑ Zehnle, Stephanie (2020-01-20), "A Geography of Jihad: Sokoto Jihadism and the Islamic Frontier in West Africa", A Geography of Jihad (dalam bahasa Inggris), De Gruyter, hlm. 180, doi:10.1515/9783110675276, ISBN 978-3-11-067527-6, diakses tanggal 2024-10-25

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Asal-usul
  3. Referensi

Artikel Terkait

Pemancungan

hukuman mati dengan pemenggalan kepala

Kampanye Alwassa–Gwandu

Fodio, Ali Jedo, dan Muhammad Bello, melawan koalisi luas Gobir, Kebbi, Zamfara, serta kelompok Tuareg sekutu yang dipimpin Yunfa, Muhammadu Hodi, dan

Kerajaan-kerajaan Hausa

Kerajaan-kerajaan Hausa (Masarautun Hausa), juga dikenal sebagai Kasar Hausa, adalah kumpulan negara yang diperintah oleh suku Hausa sebelum jihad Fulani

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026