Kerajaan Hasyimiyah Hijaz adalah sebuah negara di wilayah Hijaz, Asia Barat, yang mencakup bagian barat Semenanjung Arab yang diperintah oleh dinasti Hasyimiyah. Kerajaan ini memproklamirkan diri sebagai sebuah negara pada bulan Juni 1916 selama Perang Dunia Pertama, dan memerdekakan diri dari Kesultanan Utsmaniyah, bermodalkan aliansi dengan Britania Raya untuk mengusir Tentara Utsmaniyah dari Jazirah Arab selama Pemberontakan Arab.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Hasyimiyah Hijaz المملكة الحجازية الهاشميةcode: ar is deprecated al-Mamlakah al-Ḥijāziyah al-Hāsyimiyyah | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1916–1925 | |||||||||||
Lambang
(1920–1925) | |||||||||||
Kerajaan Hijaz (merah) di Arab Saudi dan Yordania modern | |||||||||||
| Ibu kota | Makkah (1916–1924) Jeddah (1924–1925)[1] | ||||||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Arab | ||||||||||
| Kelompok etnik | Arab | ||||||||||
| Agama | Islam (Sunni) | ||||||||||
| Pemerintahan | Monarki absolut | ||||||||||
| Raja | |||||||||||
• 1916–1924 | Hussein bin Ali | ||||||||||
• 1924–1925 | Ali bin Hussein | ||||||||||
| Era Sejarah | Perang Dunia I Periode antarperang | ||||||||||
| 10 Juni 1916 | |||||||||||
• Diakui | 10 Agustus 1920 | ||||||||||
• Pendirian Kekhalifahan Syarifiyah | 3 Maret 1924 | ||||||||||
| 19 Desember 1925 | |||||||||||
| 8 Januari 1926 | |||||||||||
| Populasi | |||||||||||
• 1920 | 850,000 | ||||||||||
• 1925[1] | 900,000 | ||||||||||
| Mata uang | Riyal Hijaz | ||||||||||
| |||||||||||
| Sekarang bagian dari | |||||||||||
Kerajaan Hasyimiyah Hijaz (bahasa Arab: المملكة الحجازية الهاشميةcode: ar is deprecated , translit. al-Mamlakah al-Ḥijāziyah al-Hāsyimiyyah) adalah sebuah negara di wilayah Hijaz, Asia Barat, yang mencakup bagian barat Semenanjung Arab yang diperintah oleh dinasti Hasyimiyah. Kerajaan ini memproklamirkan diri sebagai sebuah negara pada bulan Juni 1916 selama Perang Dunia Pertama, dan memerdekakan diri dari Kesultanan Utsmaniyah, bermodalkan aliansi dengan Britania Raya untuk mengusir Tentara Utsmaniyah dari Jazirah Arab selama Pemberontakan Arab.
Pemerintah Britania waktu itu menjanjikan Syarif Husain sebuah negara independen Arab yang akan mencakup wilayah Hijaz, Yordania, Irak, dan sebagian besar Suriah, namun wilayah Palestina (Israel dan Palestina) disebutkan secara ambigu dalam perjanjian tersebut. Namun pada akhir Perang Dunia Pertama, Perjanjian Versailles membuat Suriah dan Irak menjadi mandat Prancis, sementara itu Palestina dan Transyordania menjadi mandat Britania. Kerajaan Britania Raya kemudian mengangkat pangeran Hasyimiyah sebagai raja wilayah Transyordania dan Irak di bawah mandat Britania; yang kemudian dikenal sebagai peristiwa solusi Syarif yang memperburuk hubungan Kerajaan Hijaz dengan imperium Britania.
Hubungan Kerajaan Hijaz dengan Imperium Britania semakin memburuk ketika orang Yahudi dipindahkan ke Palestina. Raja Hussein menolak untuk meratifikasi Perjanjian Versailles tahun 1919. Ia juga memberi tanggapan keras terhadap tawaran Britania tahun 1921 untuk menandatangani perjanjian yang menerima sistem Mandat. Hussein menyatakan bahwa dia tidak bersedia untuk "mencantumkan namanya pada dokumen yang menyerahkan Palestina kepada Zionis dan Suriah kepada orang asing".[2] Upaya lanjutan Britania untuk mencapai perjanjian gagal pada tahun 1923–24 dan negosiasi dihentikan pada bulan Maret 1924.[3]
Pada bulan September 1924, Britania menarik dukungan mereka terhadap Kerajaan Hijaz dan beralih mendukung sekutu mereka dari Kesultanan Najd, (yaitu Raja Abdulaziz Ibnu Saud), yang kemudian menaklukkan Kerajaan Hijaz dan mengambil alih kuasa atas dua kota suci (Mekkah dan Madinah).[4][5] Abdulaziz Ibnu Saud kemudian memahkotai dirinya sebagai raja pertama dari Kerajaan Nejd dan Hijaz di Masjidil Haram pada tanggal 8 Januari 1926.[6]
Pada tanggal 23 September 1932, Kerajaan Nejd dan Hijaz disatukan dengan wilayah kekuasaan Saudi lainnya, menandai peristiwa unifikasi Arab Saudi.[7][8]
Pada tahun 1908, Kelompok Turki Muda mengambil alih Kesultanan Utsmaniyah, dan pada tahun 1909 ketika kudeta balasan gagal, Kaum Muda Turki "mensekulerkan" pemerintah. Hussein bin Ali, Syarif Makkah, diangkat oleh Sultan Utsmaniyah sebelumnya dan tidak menyukai Turki Muda, penentangannya terhadap Kesultanan semakin berkembang seiring berjalannya waktu, yang berpuncak pada Pemberontakan Arab.
Pada bulan Juni 1916, Hussein bin Ali, Syarif Makkah, mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Hijaz. Tentara Syarif berpartisipasi dengan pasukan Arab lainnya dan Kerajaan Inggris dalam mengusir Utsmaniyah dari Semenanjung Arab.