Kepudang-sungu belang adalah spesies burung pengicau endemik Indonesia yang termasuk dalam famili Campephagidae.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kepudang-sungu belang | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | C. bicolor |
| Nama binomial | |
| Coracina bicolor Temminck, 1824 | |
Kepudang-sungu belang (nama ilmiah: Coracina bicolor ; bahasa Inggris: Pied Cuckoo-shrike) adalah spesies burung pengicau endemik Indonesia yang termasuk dalam famili Campephagidae.[2]
Kepudang-sungu belang jantan dewasa memiliki dua warna utama pada bulunya. Bagian atas tubuhnya berwarna hitam mengilap, sedangkan bagian bawahnya putih dengan pola garis yang menjalar hingga sekitar telinga.[3] Warna ekor burung ini gelap, kontras dengan tubuh bagian bawahnya. Paruh kepudang sungu-belang tebal dan mencolok.[4]
Kepudang-sungu belang betina dewasa dicirikan matanya yang gelap dengan warna abu-abu pada tubuh bagian atas dan lehernya. Sementara itu, Kepudang-sungu belang remaja memiliki warna yang lebih cokelat dengan tepi bulu putih.[4]
Kepudang-sungu belang merupakan burung langka dengan persebaran yang terbatas. Spesies ini dapat ditemukan di pulau Sulawesi dan pulau-pulau lain di sekitarnya seperti Bangka, Buton, Mantehage, Muna, Togian, dan Kepulauan Sangihe-Talaud, Indonesia.[5] Di Sulawesi, spesies ini tergolong jarang dan memiliki sebaran yang tidak merata, dengan populasi yang lebih umum di wilayah utara, tetapi tidak ditemukan di sebagian besar wilayah tengah dan timur. Di Kabaena, satu individu kepudang-sungu belang ditemukan di kawasan perkebunan kelapa.[6]
Kepudang-sungu belang termasuk jenis burung non-migran yang ditemukan menghuni hutan dataran rendah maupun hutan perbukitan dengan sebaran hingga 900 meter.[2] Jenis burung ini juga sempat dijumpai pada semak-semak sekunder.[5]
Jenis burung ini diperkirakan mulai bereproduksi pada usia sekitar 4,2 tahun yang menjadi acuan dalam evaluasi populasi.[2]
Jenis burung ini dapat ditemukan hidup sendiri maupun berpasangan. Kicauan burung ini bernada "chew-chew-chew-chew” yang bergema disertai dengan nada serak yang lebih tenang.[4] Burung ini ditemukan pernah memakan buah.[7]
Burung kepudang-sungu belang tercatat dalam basis data Uni Internasional untuk Konservasi Alam sebagai spesies yang mendekati terancam (near threatened). Tren populasi jenis burung ini juga dicatat menurun. Jenis burung ini memiliki ketergantungan pada hutan, sehingga degradasi habitat tersebut yang dipicu oleh aktivitas pertanian dan industri kehutanan berdampak pada penurunan populasinya.[2][5]
Belum terdapat tindakan konservasi yang secara khusus ditujukan untuk spesies ini. Namun, keberadaannya telah tercatat di sejumlah kawasan yang memiliki status perlindungan.[2]