Kelebihan populasi manusia adalah gagasan bahwa populasi manusia dapat tumbuh sedemikian besar sehingga tidak lagi mampu bertahan secara lestari oleh lingkungan atau sumber daya yang mendukungnya dalam jangka panjang. Topik ini umumnya dibahas dalam konteks populasi dunia, meskipun juga dapat merujuk pada kondisi di tingkat negara, kawasan, atau kota tertentu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kelebihan populasi manusia (atau lonjakan populasi manusia) adalah gagasan bahwa populasi manusia dapat tumbuh sedemikian besar sehingga tidak lagi mampu bertahan secara lestari oleh lingkungan atau sumber daya yang mendukungnya dalam jangka panjang. Topik ini umumnya dibahas dalam konteks populasi dunia, meskipun juga dapat merujuk pada kondisi di tingkat negara, kawasan, atau kota tertentu.
Sejak tahun 1804, jumlah manusia yang hidup di dunia telah meningkat dari 1 miliar menjadi 8 miliar berkat kemajuan pengobatan modern dan peningkatan produktivitas pertanian. Pertumbuhan populasi dunia mencapai puncaknya pada tahun 1968 sebesar 2,1% per tahun, dan sejak itu menurun menjadi 1,1%.[1] Menurut proyeksi terkini dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, populasi manusia global diperkirakan akan mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050 dan memuncak sekitar 10,4 miliar pada dekade 2080-an sebelum menurun, seiring dengan turunnya angka fertilitas di seluruh dunia.[2]:14-30 Sejumlah model lain memperkirakan bahwa populasi akan menstabilkan diri sebelum atau sesudah tahun 2100.[3][4][5]
Sebaliknya, beberapa peneliti yang menganalisis data registrasi kelahiran nasional tahun 2022 dan 2023—mewakili separuh populasi dunia—menyatakan bahwa proyeksi PBB 2022 telah melebihkan tingkat fertilitas global sebesar 10–20% dan menjadi usang pada 2024. Mereka berpendapat bahwa tingkat fertilitas global mungkin telah turun di bawah ambang fertilitas pengganti untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, dan populasi dunia akan mencapai puncaknya sekitar 9,5 miliar jiwa pada tahun 2061.[6] Laporan proyeksi PBB tahun 2024 memperkirakan bahwa populasi dunia akan mencapai puncaknya pada 10,29 miliar jiwa pada 2084 dan menurun menjadi 10,18 miliar pada 2100—sekitar 6% lebih rendah dari estimasi PBB tahun 2014.[7][8][9]
Pembahasan awal mengenai kelebihan penduduk dalam bahasa Inggris dipelopori oleh karya Thomas Malthus. Diskursus tentang kelebihan penduduk mengikuti alur pemikiran Malthusianisme dan bencana Malthusian,[10][11] yakni suatu peristiwa hipotetis ketika jumlah penduduk melampaui kapasitas pertanian, menimbulkan kelaparan atau perang perebutan sumber daya, yang berujung pada kemiskinan dan keruntuhan lingkungan. Pembahasan modern tentang kelebihan penduduk kemudian dipopulerkan oleh Paul Ehrlich melalui bukunya tahun 1968, The Population Bomb, beserta karya-karya lanjutannya.[12][13]
Ehrlich memandang kelebihan penduduk sebagai fungsi dari konsumsi berlebih,[14] dengan berpendapat bahwa kelebihan penduduk terjadi ketika suatu populasi tidak dapat mempertahankan diri tanpa menguras sumber daya tak terbarukan.[15][16][17]
Keyakinan bahwa populasi global akan tumbuh melampaui kemampuan bumi untuk menopangnya merupakan topik perdebatan yang panjang. Pihak yang menganggap kelebihan penduduk manusia sebagai masalah nyata berpendapat bahwa meningkatnya konsumsi sumber daya dan polusi telah melampaui daya dukung lingkungan, sehingga menyebabkan lonjakan populasi.[18] Hipotesis ini sering dikaitkan dengan isu-isu lain seperti momentum populasi, kehilangan keanekaragaman hayati,[19][20] kelaparan dan malnutrisi,[21] penipisan sumber daya, serta dampak keseluruhan dari jejak ekologis manusia.[22]
Para pengkritik pandangan ini menegaskan bahwa pertumbuhan penduduk global kini sedang melambat, dan kemungkinan akan mencapai puncaknya—bahkan mungkin menurun—sebelum abad ini berakhir.[23]:27 Mereka berpendapat bahwa kekhawatiran terhadap ledakan populasi telah dilebih-lebihkan, mengingat penurunan angka kelahiran yang cepat serta inovasi teknologi memungkinkan populasi tetap lestari pada tingkat yang diproyeksikan. Kritikus lain menilai bahwa kekhawatiran terhadap kelebihan penduduk mengabaikan persoalan yang lebih mendesak, seperti kemiskinan atau konsumsi berlebih, serta sering kali dilatarbelakangi oleh bias rasial atau menempatkan beban tidak proporsional pada Selatan Global, wilayah yang menyumbang pertumbuhan penduduk terbesar.[24][25]
When is an area overpopulated? When its population cannot be maintained without rapidly depleting nonrenewable resources [39] (or converting renewable resources into nonrenewable ones) and without decreasing the capacity of the environment to support the population. In short, if the long-term carrying capacity of an area is clearly being degraded by its current human occupants, that area is overpopulated.