Kebon Pasinaon Living Museum adalah Museum hidup pertama di Jawa Tengah yang berada di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah merupakan museum. Museum ini didirikan tanggal 24 Agustus 2024 oleh pegiat kebudayaan yang berasal dari tanah Jawa Barat yaitu Gian Giarta. Terletak di desa pinggir Kali Putih yang berhulu di kaki Gunung Merapi, museum hidu pertama di Jawa Tengah ini mengajak para pengunjungnya untuk belajar tentang kehidupan, tentang lingkungan hidup, bercocok tanam, sampai belajar membuat jamu tradisional, pertunjukan Kuda lumping dan juga perpustakaan taman bacaan masyarakat. Setelah Bencara dan masa Pandemi, buku koleksinya tak tersentuh air. Ida penggiat literasi membaca realitas itu sebagai isyarat bahwa niat baik memberdayakan warga tidak boleh mandek. Kegiatan literasi dan kebudayaan di Kebon Pasinaon setelah terjangan lahar itu memang terhenti.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (Juni 2025) |
Kebon Pasinaon Living Museum adalah Museum hidup pertama di Jawa Tengah yang berada di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah merupakan museum. Museum ini didirikan tanggal 24 Agustus 2024 oleh pegiat kebudayaan yang berasal dari tanah Jawa Barat yaitu Gian Giarta. Terletak di desa pinggir Kali Putih yang berhulu di kaki Gunung Merapi, museum hidu pertama di Jawa Tengah ini mengajak para pengunjungnya untuk belajar tentang kehidupan, tentang lingkungan hidup, bercocok tanam, sampai belajar membuat jamu tradisional, pertunjukan Kuda lumping dan juga perpustakaan taman bacaan masyarakat. Setelah Bencara dan masa Pandemi, buku koleksinya tak tersentuh air. Ida penggiat literasi membaca realitas itu sebagai isyarat bahwa niat baik memberdayakan warga tidak boleh mandek. Kegiatan literasi dan kebudayaan di Kebon Pasinaon setelah terjangan lahar itu memang terhenti.
Orang dapat pula belajar menulis dan membaca geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa. Orang dapat berolah budaya mulai dari kesenian kuda lumping sampai ketoprak. Seluruh aktivitas dan kehidupan di sekitar Kebon Pasinaon menjadi bagian dari museum hidup. Pengunjung juga dapat belajar tentang kehidupan, terkhusus kehidupan warga Dusun Glagah dan sekitarnya, dengan segala dinamika dan pergulatan hidup warga desa.
Museum hidup, Pengunjung dapat merasakan pengalaman yang dilakukan warga desa dalam kehidupan keseharian. Kita dapat menyeberang atau mencebur ke Kali Putih. Menyentuh air beningnya, mendengar ricik air kali saat mengusap batu-batu, dan merasakan sejuknya air. Kita juga dapat merasakan pengalaman mencari air bening di sendang menggunakan kleting. Mencoba ngindit atau membawa kleting dengan meletakkannya di pinggang.
Sembari membenamkam kaki di kali, kita bisa merekonstruksi peristiwa ketika lahar Merapi melabrak sungai itu. Kita juga dapat merekonstruksi betapa sungai itu menjadi sumber kehidupan selama ratusan tahun silam. Ya, ratusan tahun lampau ketika orang belum mengenal kamar mandi berlantai keramik; ketika orang hanya mengenal siwur, bukan shower. Siwur adalah gayung dari batok kelapa. Sungai dengan segala kisah di balik beningnya merupakan bagian dari Kebon Pasinaon Living Museum yang disebut Kebon Ciblon. Dalam bahasa Jawa, ciblon berarti bermain air.
Sebagai museum hidup, Kebon Pasinaon Living Museum tidak menyuguhkan artefak statis. Di sana pengunjung dapat melihat elemen sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari dalam versi dinamis, nyata, dan partisipatif-interaktif. Artinya, pengunjung dapat merasakan pengalaman yang dilakukan warga desa dalam kehidupan keseharian.
Desa Sirahan berada di Kecamatan Salam, Magelang – Jawa Tengah, lokasinya berada di sebelah utara wilayah Yogyakarta. Penduduk Sirahan sebagian besar berprofesi sebagai petani di bidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan. Program pemberdayaan masyarakat ini bekerjasama dengan Taman Belajar Masyarakat (TBM) “Kebon Pasinaon” Desa Sirahan Salam Magelang. Program ini mengangkat topik pemberdayaan masyarakat melalui literasi kearifan lokal dan penerapan budidaya lebah klanceng dan hasil produksinya dalam rangka mendukung kelestarian alam dan penguatan ketahan pangan. Serangkaian kegiatan program pemberdayaan masyarakat ini telah dilaksanakan yaitu :
1. Literasi kelestarian alam dan kearifan lokal melalui budidaya lebah klanceng dan produknya yang bernilai ekonomis (madu, bee-polen dan propolis);
2. Pelatihan budidaya lebah stingless (meliponiculture) dan pemanenan produk. Inovasi eko-edukasi program ini masih diperlukan untuk memperkuat keberlangsungan pemberdayaan masyarakat memalui TBM “Kebon Pasinaon” sebagai wadah komunitas pembelajar masyarakat desa guna mendukung SDGs.[2]
TBM Ibnu Hajar (Kebon Pasinaon) Kabupaten Magelang menjadi tuan rumah pertemuan literasi nasional. TBM Ibnu Hajar menggagas Kebon Pasinaon yang dikenal sebagai Living Museum pertama di Indonesia. TBM yang digagas oleh ibu Ida Fitri ini memberikan edukasi budaya Jawa pada anak-anak sekolah dan pengunjung Taman Baca/Living Museum.[3]