Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kebijakan asimilasi Ryukyu

Kebijakan asimilasi Ryukyu adalah serangkaian praktik yang menargetkan orang Ryukyu dengan maksud meleburkan mereka ke dalam budaya dan identitas Jepang yang dimulai sesaat sebelum Penghapusan Ryukyu pada tahun 1879 dan berlanjut hingga saat ini.

Wikipedia article
Diperbarui 9 Juli 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kebijakan asimilasi Ryukyu adalah serangkaian praktik yang menargetkan orang Ryukyu dengan maksud meleburkan mereka ke dalam budaya dan identitas Jepang yang dimulai sesaat sebelum Penghapusan Ryukyu pada tahun 1879 dan berlanjut hingga saat ini.

Latar belakang

Pada tahun 1879, Kekaisaran Jepang menghapuskan Domain Ryukyu, mengasingkan rajanya ke Tokyo. Prefektur Okinawa didirikan dari wilayah yang baru saja didapat tersebut. Kepulauan Amami sudah menjadi bagian dari Jepang setelah Invasi Ryukyu oleh Satsuma, dan dibuat menjadi bagian dari Prefektur Kagoshima pasca runtuhnya Domain Satsuma.

Sejarah

Bertahun-tahun pasca pencaplokan, Jepang mulai menerapkan berbagai kebijakan asimilasi di Kepulauan Ryukyu.[1][2][3] Contoh terkenal adalah kartu dialek (方言札, hōgen fuda), yang dibagikan kepada murid-murid yang berbicara bahasa Ryukyu di sekolah.[4][5] Hukuman bagi pemilik kartu sering kali hukuman fisik.

Orang Jepang dari daratan utama juga memandang budaya Ryukyu "rendahan", sehingga proses asimilasi bergerak semakin cepat.[6] Fenomena serupa juga terjadi di komunitas diaspora, salah satunya di Hawaii,[7] di mana orang asli Okinawa sering kali dicap negatif oleh imigran Nikkei lainnya.[8]

Diskriminasi meningkat semasa Perang Dunia II, di mana banyak orang Okinawa dibunuh karena berbicara bahasa Okinawa karena dicurigai sebagai mata-mata.[9]

Lihat juga

  • Penghapusan Ryukyu
  • Asimilasi budaya

Referensi

  1. ↑ Gillan, Matt (2016). "3". Songs from the Edge of Japan: Music-making in Yaeyama and Okinawa. Taylor & Francis.
  2. ↑ Karan, Pradyumna P. (2010). Japan in the 21st Century Environment, Economy, and Society. University Press of Kentucky.
  3. ↑ Kaori H. Okano; Ryoko Tsuneyoshi; Sarane Boocock (2010). "4". Minorities and Education in Multicultural Japan. Taylor & Francis.
  4. ↑ Sterling, Masako Kimura (2013). I Thought the Sun Was God The Spiritual Journey of a Descendant of the Last Satsuma Samurai Clan. FriesenPress. hlm. 17.
  5. ↑ Maher, John C. (2017). Multilingualism: A Very Short Introduction. OUP Oxford.
  6. ↑ Nakasone, Ronald Y. (2002). Okinawan Diaspora. University of Hawaii Press. hlm. 38.
  7. ↑ Patrick Heinrich; Mark Anderson (2015). Language Crisis in the Ryukyus. Cambridge Scholars Publisher. hlm. 63.
  8. ↑ Kimura, Yukiko (1992). Issei: Japanese Immigrants in Hawaii. University of Hawaii Press. hlm. 55.
  9. ↑ Setsu Shigematsu; Keith L. Camacho (2010). Militarized Currents Toward a Decolonized Future in Asia and the Pacific. University of Minnesota Press. hlm. 101.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Jepang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Sejarah
  3. Lihat juga
  4. Referensi

Artikel Terkait

Penghapusan Ryukyu

aneksasi Kerajaan Ryukyu oleh Jepang

Bahasa Jepang Okinawa

dialek

Konservatisme

Prinsip kehati-hatian dalam pelaporan keuangan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026