Kawin tembak adalah sebuah perkawinan yang diadakan untuk menghindari keresahan karena hubungan di luar nikah yang berujung pada kehamilan yang tak diinginkan, di luar keinginan orang-orang terkait. Frasa tersebut adalah sebuah sindiran Amerika, meskipun istilah tersebut juga digunakan di belahan dunia lainnya, berdasarkan pada keadaan saat ayah mempelai harus melakukan bujukan agar pria yang diyakini menghamilinya mau mengawininya.
Kawin tembak adalah sebuah perkawinan yang diadakan untuk menghindari keresahan karena hubungan di luar nikah yang berujung pada kehamilan yang tak diinginkan, di luar keinginan orang-orang terkait. Frasa tersebut adalah sebuah sindiran Amerika,[1] meskipun istilah tersebut juga digunakan di belahan dunia lainnya, berdasarkan pada keadaan saat ayah mempelai harus melakukan bujukan (seperti diancam dengan pistol) agar pria yang diyakini menghamilinya mau mengawininya.
Konsep perkawinan tersebut diadakan untuk menghindari ancaman kematian pada bermilenium tahun yang lalu; kitab Deuteronomika menyinggung hukum di luar nikah di mana jika seorang pria memerkosa seorang perawan yang tidak dinikahinya, pei itu harus membayar mahar (50 shekel), mengambilnya sebagai istrinya, dan tidak boleh menceraikannya atau akan dirajam sampai mati.[2]
Di Asia Timur
Di Jepang, istilah slang Dekichatta kekkon (出来ちゃった結婚code: ja is deprecated ), atau pendeknya Dekikon (デキコンcode: ja is deprecated ), muncul pada akhir 1990an. Istilah tersebut dapat secara literal diterjemahkan menjadi "ups, kami harus menikah," yang menandakan sebuah kehamilan yng tak diinginkan. Selebritas terkenal dengan pernikahan tersebut meliputi Namie Amuro, Yōko Oginome, Hitomi Furuya, Ami Suzuki, Kaori Iida, Nozomi Tsuji, Anna Tsuchiya, Meisa Kuroki, Leah Dizon, Melody Miyuki Ishikawa, dan Riisa Naka.[3][4] Seperempat mempelai Jepang hamil pada masa pernikahan mereka, menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Buruh,[5] dan kehamilan merupakan salah satu motivasi paling umum untuk pernikahan tersebut.[6] Kehamilan yang tak direncanakan adalah hal umum karena penggunaan rendah dari obat kontrasepsi oleh wanita.[7] Pengaruh dan profil selebritas dekichatta-kon telah menginspirasi industri pernikahan Jepang untuk memperkenalkan sebuah frasa terkait, sazukari-kon (授かり婚code: ja is deprecated , perkawinan yang diberkati).[8]
Di Tiongkok, istilah 奉子成婚 (Pinyin:Fèngzǐchénghūn; harfiah: 'menikah atas perintah anak') mengartikan bahwa sebuah pasangan menikah karena hubungan yang terjadi di luar nikah. Ini adalah sebuah plesetan dari frasa 奉旨成婚, yang dibaca Fengzhichenghun dan menandakan bahwa sebuah pernikahan disetujui oleh maklumat kekaisaran. Ini menjadi makin umum pada generasi termuda di Tiongkok. Namun, dalam kelompok usia yang sama, terdapat kehati-hatian dan pengecaman terhadap praktik semacam itu.[9][10]
Di Korea, istilah slang 속도위반 "Sokdowebaan" (artinya "kelewatan batas") merujuk kepada kadaan di mana kehamilan terjadi mendahului pernikahan.
Di Vietnam, istilah "Bác sĩ bảo cưới" (artinya "karena dokter berkata begitu") sering digunakan dengan tujuan humor.
↑National Institute of Population and Social Security Research, The Fourteenth Japanese National Fertility Survey in 2010 (October 2011). "Marriage Process and Fertility of Japanese Married Couples"(PDF). Diakses tanggal 13 January 2016. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)