Katedral Tallinn atau yang bernama resmi Katedral Santo Petrus dan Paulus adalah sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di Tallinn, ibu kota Estonia. Katedral ini merupakan pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Tallinn.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Katedral Tallinn | |
|---|---|
| Katedral Santo Petrus dan Paulus | |
Katedral Tallinn | |
Koordinat: 59°26′17″N 24°44′55″E / 59.43806°N 24.74861°E / 59.43806; 24.74861Lihat peta diperbesar Koordinat: 59°26′17″N 24°44′55″E / 59.43806°N 24.74861°E / 59.43806; 24.74861Lihat peta diperkecil | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Tallinn |
| Negara | Estonia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Sejarah | |
| Didirikan | 1841 |
| Tanggal konsekrasi | 26 Desember 1845 |
| Arsitektur | |
| Status | Katedral dan gereja paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Arsitek | Carlo Rossi (arsitek), Erich Jacoby, Franz de Vries |
| Tipe arsitektur | Basilika |
| Gaya | Neo-Klasik dan Neo-Gotik |
| Selesai | 1844 |
| Administrasi | |
| Paroki | Katedral |
| Keuskupan | Tallinn |
| Provinsi | Estonia |
| Klerus | |
| Uskup | Philippe Jean-Charles Jourdan |
| Rektor | Romo Alfonso Di Giovanni |
| Vikaris | Romo Igor Gavrilchik, Romo Ain Peetrus Leetma |
Katedral Tallinn atau yang bernama resmi Katedral Santo Petrus dan Paulus (bahasa Estonia: Püha Peetruse ja Pauluse katedraalcode: et is deprecated ) adalah sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di Tallinn, ibu kota Estonia. Katedral ini merupakan pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Tallinn.
Agama Katolik disebarkan ke Estonia oleh Tentara Salib Utara dan mendominasi kehidupan keagamaan pada abad pertengahan. Namun, setelah pergerakan Reformasi pada abad ke-16, agama Lutheranisme menjadi agama mayoritas, dan pada masa kekuasaan Swedia, agama Katolik dilarang.[1]
Setelah Estonia direbut oleh Kekaisaran Rusia selama Perang Utara Bebas, kebebasan beragama kembali ditegakkan. Pada tahun 1799, paroki Katolik telah menjadi cukup besar sehingga mereka memperoleh gedung bekas ruang makan Biara Santa Katarian yang sudah ditutup. Gedung ini lalu menjadi tempat ibadah baru. Pada tahun 1841, gereja ini sudah terlalu kecil untuk menampung jemaat, sehingga mulai dibuat rancangan untuk membuat gereja yang baru. Perancangnya adalah Carlo Rossi. Ia membuat basilika bergaya Neo-Gotik dengan eksterior bergaya Neo-Klasik. Dari tahun 1920 hingga 1924, tampak baratnya menjadi terlihat seperti sekarang, dan ini merupakan karya arsitek Erich Jacoby dan Franz de Vries yang agak menyimpang dari rancangan Rossi. Walaupun begitu, bagian dalam gereja ini masih menunjukkan rancangan Rossi, walaupun dekorasi kayu bergaya Neo-Goth sudah diturunkan.
Di katedral ini terdapat beberapa karya seni, termasuk karya seniman Jerman Baltik Carl Friedrich Sigismund Walther, Robert Johann Salemann, serta salinan lukisan Guido Reni.
Katedral ini telah beberapa kali direnovasi, seperti yang dilakukan pada tahun 2002–2003.[1][2][3]