Pada 2010, seorang wanita Kristen Pakistan, Aasiya Noreen, atau lebih dikenal sebagai Asia Bibi atau Aasia Bibi, didakwa atas tuduhan penistaan agama oleh pengadilan Pakistan dan dihukum mati dengan cara digantung. Pada Oktober 2018, Mahkamah Agung Pakistan membebaskannya berdasarkan pada bukti tak memadai, meskipun ia tak diperkenankan untuk meninggalkan Pakistan sampai keputusan ditinjau ulang. Ia dijaga di bawah penjagaan bersenjata dan tak dapat meninggalkan negara tersebut sampai 7 Mei 2019; ia datang ke Kanada pada keesokan harinya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Asia Bibi v. Negara | |
|---|---|
| Pengadilan | Mahkamah Agung Pakistan |
| Nama lengkap perkara | Mst. Asia Bibi v. Negara dll. |
| Diputuskan | 31 Oktober 2018 |
| Transkrip | Judgement |
| Alur perkara | |
| Pengajuan banding dari | Pengadilan Sesi di Sheikhapura |
| Pengajuan banding ke | Mahkamah Tinggi Lahore (ditolak pada 16 Oktober 2014) |
| Tindakan seterusnya | Mahkamah Agung Pakistan Keputusan pengadilan rendah dikembalikan |
| Majelis hakim | |
| Anggota majelis | |
| Opini atas perkara | |
| Diputuskan oleh | Nisar |
| Pandangan bersepakat | Khosa |
| Kata kunci | |

Pada 2010, seorang wanita Kristen Pakistan, Aasiya Noreen (bahasa Urdu: آسیہ نورینcode: ur is deprecated , [ˈɑːsiɑː nɔːˈriːn]; kelahiran ca 1971[1]), atau lebih dikenal sebagai Asia Bibi (آسیہ بی بیcode: ur is deprecated ) atau Aasia Bibi, didakwa atas tuduhan penistaan agama oleh pengadilan Pakistan dan dihukum mati dengan cara digantung.[2] Pada Oktober 2018, Mahkamah Agung Pakistan membebaskannya berdasarkan pada bukti tak memadai,[3] meskipun ia tak diperkenankan untuk meninggalkan Pakistan sampai keputusan ditinjau ulang.[4][5][6] Ia dijaga di bawah penjagaan bersenjata dan tak dapat meninggalkan negara tersebut sampai 7 Mei 2019; ia datang ke Kanada pada keesokan harinya.[7]
Pada Juni 2009, Noreen dituduh melakukan penistaan agama setelah sebuah debat dengan sesama pekerja kala memanen beri.[8][9] Ia kemudian ditangkap dan ditahan. Pada November 2010, seorang hakim Sheikhupura memberikannya hukuman mati dengan cara digantung. Dakwaan tersebut dilayangkan oleh Mahkamah Tinggi Lahore dan meraih perhatian di seluruh dunia. Berbagai petisi untuk pembebasannya dibuat oleh organisasi-organisasi yang membantu umat Kristen yang ditindas seperti Voice of the Martyrs,[10][11] yang meliputi pihak yang menerima 400.000 tanda tangan; Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus menyerukan agar dakwaan tersebut dibatalkan.[12] Ia kurang meraih simpati dibandingkan di negara tersebut, tempat beberapa orang menyerukan agar ia dieksekusi. Menteri Minoritas Shahbaz Bhatti dan Gubernur Punjab Salmaan Taseer dibunuh karena mengadvokasikan keberpihakannya dan menentang hukum penistaan agama.[13][14] Keluarga Noreen bersembunyi setelah menerima ancaman kematian oleh fundamentalis Islam, beberapa di antaranya mengancam untuk membunuh Noreen jika dibebaskan dari penjara.[15] Ulama Muslim Maulana Yousaf Qureshi mengiming-imingi tebusan 500.000 dolar Amerika Serikat kepada siapapun yang akan membunuhnya.[16]
Pada 31 Oktober 2018, Mahkamah Agung Pakistan membebaskan Noreen,[3] dengan alasan "kontradiksi material dan pernyataan tak konsisten saksi mata" yang "menghimpun bayangan keraguan pada versi fakta dari pihak penuntut."[17] Keputusan tersebut memicu protes yang dipimpin oleh partai-partai Islamis di kota-kota besar negara tersebut,[18][19][20] tetapi dipuji oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pihak-pihak yang mengadvokasikan dukungannya terhadap minoritas Kristen, seperti International Christian Concern, Open Doors dan Aid to the Church in Need.[20][21] Namun, pada 2 November 2018, Pemerintahan Pakistan menandatangani perjanjian dengan partai politik Tehreek-e-Labbaik (TLP), yang memimpin protes tersebut; perjanjian tersebut melarang Noreen dari meninggalkan negara tersebut.[5][22][23][24][25] Hal tersebut berujung pada tuduhan bahwa eksekutif mengalah pada ekstrimis.[22][26][27] Italia, Kanada, serta negara Barat lainnya bekerja untuk membantunya meninggalkan Pakistan. Pada 7 November 2018, ia dibebaskan dari Penjara Baru khusus Wanita di Multan. Namun, saat Natal, ia dikabarkan menjalani Hari Natal dalam beberapa penahanan.[28][29]
Pada 29 Januari 2019, sebuah petisi meminta banding melawan keputusan pengadilan yang membebaskan Noreen ditolak, "mengangkat penanganan hukum terakhir kasus tersebut dan memberikan jalan baginya untuk meninggalkan negara tersebut."[6][30] Pada 11 April 2019, Perdana Menteri Imran Khan (yang sebelumnya menyerang orang-orang garis keras dengan meminta mereka untuk tenang)[31] menyatakan bahwa sebuah "komplikasi" telah menunda keberangkatannya dari negara tersebut.[32] Pada 8 Mei 2019, ia mendarat di Kanada dan dilaporkan dalam keadaan baik.[33]
Hukum penistaan agama di Pakistan sering kali diakhiri dengan pembunuhan di luar pengadilan yang dipicu oleh tuduhan, atas lebih dari 60 orang yang telah dipersalahkan untuk menindas agama minoritas atas dakwaan penistaan agama;[17][34][35] hukum tersebut telah dipakai oleh orang-orang sebagai alat untuk pembalasan dendam melawan orang lain.[36][37]
Noreen sendiri adalah wanita pertama di Pakistan yang dihukum mati atas dakwaan penistaan agama dan akan menjadi orang pertama di Pakistan yang dieksekusi atas dakwaan penistaan agama di bawah hukum saat ini.[38][39]
Chief Justice Saqib Nisar read out the ruling saying she was free to go, if not wanted in connection with any other case.
Ms. Bibi was being held in an undisclosed location in Pakistan with armed security protecting her since her release from prison last October. Mr. Malook said he didn't know why it had taken so long for her to be able to leave the country.
Bibi's alleged blasphemous comments were supposedly made after co-workers refused to share water that she had carried; they said it was unclean because she was a Christian (this is a hangover from the caste system, as most of those who converted to Christianity in pre-partition India were members of the lower castes).
The question of drinking order is a vestige of the Hindu caste system that has lingered in the area even after most of the population converted to Islam over a hundred years ago. Christians, believed to be converts from Dalits, continue to be treated as untouchables in parts of Pakistan. For high Brahmans, using the same utensils as someone from a lower caste represented contamination or impurity. It seems the women in the field with Asia Bibi on that ill-fated June day believed this as well.
In their final judgment, reviewed by CT, reversing Bibi's convictions by two lower courts and removing her death sentence, the panel of three judges ruled that Bibi was "wrongly" accused by two sisters with the help of a local cleric, based on "material contradictions and inconsistent statements of the witnesses" that "cast a shadow of doubt on the prosecution's version of facts." "Furthermore, the alleged extra-judicial confession was not voluntary but rather resulted out of coercion and undue pressure as the appellant was forcibly brought before the complainant in presence of a gathering, who were threatening to kill her; as such, it cannot be made the basis of a conviction," they wrote. "Therefore, the appellant being innocent deserves acquittal," the judges concluded. One even accused Bibi's accusers of violating a covenant made by Muhammad with Christians in the seventh century but still valid today. "Blasphemy is a serious offence," wrote justice Asif Saeed Khosa, "but the insult of the appellant's religion and religious sensibilities by the complainant party and then mixing truth with falsehood in the name of the Holy Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) was also not short of being blasphemous.
Islamists launched protests after the country's Supreme Court ruled to acquit Bibi of blasphemy in a widely publicized case.
Radical Islamists mounted rallies against the verdict, blocking roads and burning tyres in protest as they demanded she be executed.
Under the terms of the deal made on Friday night, prime minister Imran Khan's administration said it would begin legal proceedings to place Asia Bibi on the "exit control list" (ECL). ... "I am not surprised that Imran Khan's regime has caved in to extremists," said Wilson Chowdhry, chair of the British Pakistani Christian Association.
In Pakistan, 17 people are on death row for blasphemy, and dozens more have been extrajudicially murdered.
several hundred people have been charged,...No one has yet been executed. But more than 50 people accused of blasphemy have been murdered.
In Pakistan, blasphemy (insulting Islam or its prophet Muhammad) is a crime punishable by life imprisonment or death. The law is often abused by Muslims looking to settle scores with religious minorities. Bibi has denied the accusations. In response to the court's announcement that a three-judge panel reversed earlier court rulings against Bibi on grounds that evidence against her was insufficient, TLP supporters have reportedly staged street protests and have also blockaded major roadways.