Karang boma merupakan salah satu jenis karang atau ornamen tradisional Bali yang berupa lukisan atau ukiran wajah raksasa. Karang boma biasanya diukir pada bagian atas gerbang suatu pura atau puri di Bali. Ukiran ini sepadan dengan wajah kala pada sejumlah candi di Jawa, dan merupakan pengembangan dari ukiran kirtimuka di Asia Selatan. Selain dibuat demi fungsi dekorasi, ukiran ini diyakini sebagai ukiran sakral yang memancarkan energi positif dan melindungi suatu kawasan dari kekuatan jahat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Karang boma (aksara Bali: ᬓᬭᬂᬪᭁᬫ) merupakan salah satu jenis karang atau ornamen tradisional Bali yang berupa lukisan atau ukiran wajah raksasa. Karang boma biasanya diukir pada bagian atas gerbang (paduraksa atau candi kurung) suatu pura atau puri di Bali. Ukiran ini sepadan dengan wajah kala pada sejumlah candi di Jawa,[1] dan merupakan pengembangan dari ukiran kirtimuka di Asia Selatan.[2] Selain dibuat demi fungsi dekorasi, ukiran ini diyakini sebagai ukiran sakral yang memancarkan energi positif dan melindungi suatu kawasan dari kekuatan jahat.[2][3]

Kisah Boma sebagai tokoh dapat ditemukan dalam sastra kakawin, tradisi pewayangan, dan mitologi di pulau Jawa dan Bali. Dikisahkan bahwa Boma―dengan nama panjang "Boma Narakasura"―merupakan putra Dewa Wisnu dan Dewi Pertiwi (Dewi Bumi atau Basundari). Nama "Boma" (Dewanagari: भौम; ,IAST: Bhauma, भौम) merupakan kata Sanskerta yang berarti "putra Bumi", dan merupakan nama lain dari Narakasura.[4][5]
Kelahiran Boma memiliki beberapa versi. Dalam versi Linggodbhawa dikisahkan bahwa Dewa Brahma dan Wisnu berdebat tentang siapa yang paling hebat di antara keduanya. Tiba-tiba Siwa muncul di tengah-tengah mereka dalam wujud lingga bercahaya (jyotirlingam) yang tidak tampak puncak dan dasarnya[6] (versi lain menyatakan bahwa Siwa muncul dalam wujud manik [permata], yang berubah menjadi lingga saat Wisnu hendak meraihnya).[7] Brahma terbang untuk menemukan puncaknya, sementara Wisnu turun menggali Bumi untuk menemukan dasarnya, dengan berubah wujud menjadi Waraha (babi hutan). Setibanya di dasar Bumi, Waraha berjumpa dengan Dewi Bumi (juga disebut Basundari atau Pertiwi) dan berniat menikahinya. Karena berwujud babi hutan, Dewi Bumi menolaknya sehingga Wisnu pun terpaksa memperkosanya. Dari hubungan paksa tersebut, lahirlah sosok raksasa bernama Boma atau Naraka.[7]
Kitab Bhagawatapurana memiliki kisah kelahiran Boma dalam versi yang berbeda. Dikisahkan bahwa Wisnu menjelma sebagai Waraha (babi hutan) untuk menolong Dewi Bumi yang ditenggelamkan raksasa Hiranyaksa ke dalam suatu lautan kosmik. Waraha berhasil mengembalikan Bumi ke dalam orbitnya setelah membunuh Hiranyaksa. Setelah peristiwa tersebut, Waraha menikahi Dewi Bumi.[8] Dari perkawinan itu, lahirlah Boma yang secara harfiah berarti "anak Bumi". Boma dalam versi ini menjadi salah satu Nawagraha, dan lebih dikenal dengan nama Manggala (artinya "pembawa keberuntungan")[9] alias Anggaraka (artinya "si badan merah").[10]
Menurut kitab Kalikapurana, Naraka alias Boma merupakan anak angkat dari Waraha.[11] Pada mulanya Naraka bersifat baik, tapi perlahan-lahan menjadi jahat karena persahabatannya dengan seorang asura bernama Banasura, dan sejak saat itu gelar asura ditambahkan ke namanya.[12]
Kakawin Bhomântaka (abad ke-12 M) mengisahkan bahwa Boma alias Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Boma menyerang Kerajaan Dwarawati (kediaman Kresna). Dikisahkan bahwa sebagai putra Bumi, maka Boma akan selalu hidup asalkan tubuhnya menyentuh tanah. Hal itu menjadikannya momok bagi para kesatria dan dewa yang memusuhinya. Dalam pertempuran sengit, Boma berhasil dikalahkan oleh Kresna. Kemudian Kresna menghancurkan kepala Boma, sementara seluruh korban jiwa akibat perang melawan Boma akhirnya dihidupkan kembali.[13] Kepala Boma diabadikan dalam bentuk ragam hias di pintu gerbang atau paduraksa dengan tujuan agar orang yang berniat jahat dihalangi oleh kekuatan raksasa tersebut, sedangkan yang berniat baik akan memperoleh perlindungan darinya.[14]

Dalam arsitektur Bali, ukiran karang boma pada candi atau bangunan lainnya seringkali diliputi dengan aneka sulur daun dan bunga. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, Sang Boma merupakan perpaduan dari unsur air (Wisnu)[a] dengan unsur tanah (Pertiwi). Perpaduan tersebut menciptakan kesuburan yang menghasilkan aneka macam tumbuhan.[15] Boma juga melambangkan hutan atau dunia tumbuhan,[16] serta suatu kesuburan yang masih asri atau belum pernah digarap.[17] Sebagai penguasa hutan (aneka tumbuhan, bahasa Sanskerta: वनस्पति vanaspati), maka Boma disebut pula "Banaspati",[16] dan wajahnya identik dengan Barong.[18][19]
Sebagaimana ukiran kala dan kirtimuka, karang boma pada paduraksa dan arsitektur Bali diyakini oleh umat Hindu Bali sebagai penolak bala. Ciri khas wajah kala dan karang boma yang sangar juga dimaknai sebagai penghancur segala rintangan.[1] Sebagai keturunan Dewi Bumi, Sang Boma diyakini sangat kuat serta mampu meniadakan berbagai macam rintangan yang ada di Bumi, baik rintangan fisik maupun gaib. Maka dari itu ia ditempatkan di belakang bade (menara kremasi) masyarakat Triwangsa[b] di Bali, sebagai penolak bala dalam perjalanan dari rumah duka menuju tempat kremasi.[3]
Menurut budayawan Hildred Geertz, bentuk karang boma yang menyeramkan memang dimaksudkan untuk menampilkan kesan menakutkan, tapi dapat disalahpahami sebagai setan atau personifikasi kekuatan jahat, terutama bagi kepercayaan yang membentuk dikotomi antara kebaikan dan kejahatan.[7] Bagi kepercayaan masyarakat Bali, Boma memang seram―sebagaimana wujud Barong[20]―tapi bukan merupakan sosok jahat, melainkan sekutu bagi para dewa.[7] Seperti halnya pelbagai makhluk gaib dalam kepercayaan masyarakat Bali, Boma dapat bersikap damai dan menentramkan, atau bersikap tidak ramah apabila ada tindakan yang tidak menyenangkan.[c] Bagi umat Hindu Bali, wujud menyeramkan tersebut tidak menjadi simbol kejahatan sebab filosofi yang menyatakan adanya sesuatu yang lebih mulia di balik penampilan luar yang seram dan menakutkan.[20]