Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Karang boma

Karang boma merupakan salah satu jenis karang atau ornamen tradisional Bali yang berupa lukisan atau ukiran wajah raksasa. Karang boma biasanya diukir pada bagian atas gerbang suatu pura atau puri di Bali. Ukiran ini sepadan dengan wajah kala pada sejumlah candi di Jawa, dan merupakan pengembangan dari ukiran kirtimuka di Asia Selatan. Selain dibuat demi fungsi dekorasi, ukiran ini diyakini sebagai ukiran sakral yang memancarkan energi positif dan melindungi suatu kawasan dari kekuatan jahat.

ukiran tradisional Bali berwujud wajah raksasa
Diperbarui 18 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Karang boma
Karang boma di Balai Banjar Ubud Kelod, Gianyar, Bali.

Karang boma (aksara Bali: ᬓᬭᬂᬪᭁᬫ) merupakan salah satu jenis karang atau ornamen tradisional Bali yang berupa lukisan atau ukiran wajah raksasa. Karang boma biasanya diukir pada bagian atas gerbang (paduraksa atau candi kurung) suatu pura atau puri di Bali. Ukiran ini sepadan dengan wajah kala pada sejumlah candi di Jawa,[1] dan merupakan pengembangan dari ukiran kirtimuka di Asia Selatan.[2] Selain dibuat demi fungsi dekorasi, ukiran ini diyakini sebagai ukiran sakral yang memancarkan energi positif dan melindungi suatu kawasan dari kekuatan jahat.[2][3]

Mitologi

Karang boma pada bagian atas paduraksa Pura Puseh Lan Desa Singapadu, Gianyar, Bali.

Kisah Boma sebagai tokoh dapat ditemukan dalam sastra kakawin, tradisi pewayangan, dan mitologi di pulau Jawa dan Bali. Dikisahkan bahwa Boma―dengan nama panjang "Boma Narakasura"―merupakan putra Dewa Wisnu dan Dewi Pertiwi (Dewi Bumi atau Basundari). Nama "Boma" (Dewanagari: भौम; ,IAST: Bhauma, भौम) merupakan kata Sanskerta yang berarti "putra Bumi", dan merupakan nama lain dari Narakasura.[4][5]

Kelahiran Boma memiliki beberapa versi. Dalam versi Linggodbhawa dikisahkan bahwa Dewa Brahma dan Wisnu berdebat tentang siapa yang paling hebat di antara keduanya. Tiba-tiba Siwa muncul di tengah-tengah mereka dalam wujud lingga bercahaya (jyotirlingam) yang tidak tampak puncak dan dasarnya[6] (versi lain menyatakan bahwa Siwa muncul dalam wujud manik [permata], yang berubah menjadi lingga saat Wisnu hendak meraihnya).[7] Brahma terbang untuk menemukan puncaknya, sementara Wisnu turun menggali Bumi untuk menemukan dasarnya, dengan berubah wujud menjadi Waraha (babi hutan). Setibanya di dasar Bumi, Waraha berjumpa dengan Dewi Bumi (juga disebut Basundari atau Pertiwi) dan berniat menikahinya. Karena berwujud babi hutan, Dewi Bumi menolaknya sehingga Wisnu pun terpaksa memperkosanya. Dari hubungan paksa tersebut, lahirlah sosok raksasa bernama Boma atau Naraka.[7]

Kitab Bhagawatapurana memiliki kisah kelahiran Boma dalam versi yang berbeda. Dikisahkan bahwa Wisnu menjelma sebagai Waraha (babi hutan) untuk menolong Dewi Bumi yang ditenggelamkan raksasa Hiranyaksa ke dalam suatu lautan kosmik. Waraha berhasil mengembalikan Bumi ke dalam orbitnya setelah membunuh Hiranyaksa. Setelah peristiwa tersebut, Waraha menikahi Dewi Bumi.[8] Dari perkawinan itu, lahirlah Boma yang secara harfiah berarti "anak Bumi". Boma dalam versi ini menjadi salah satu Nawagraha, dan lebih dikenal dengan nama Manggala (artinya "pembawa keberuntungan")[9] alias Anggaraka (artinya "si badan merah").[10]

Menurut kitab Kalikapurana, Naraka alias Boma merupakan anak angkat dari Waraha.[11] Pada mulanya Naraka bersifat baik, tapi perlahan-lahan menjadi jahat karena persahabatannya dengan seorang asura bernama Banasura, dan sejak saat itu gelar asura ditambahkan ke namanya.[12]

Kakawin Bhomântaka (abad ke-12 M) mengisahkan bahwa Boma alias Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Boma menyerang Kerajaan Dwarawati (kediaman Kresna). Dikisahkan bahwa sebagai putra Bumi, maka Boma akan selalu hidup asalkan tubuhnya menyentuh tanah. Hal itu menjadikannya momok bagi para kesatria dan dewa yang memusuhinya. Dalam pertempuran sengit, Boma berhasil dikalahkan oleh Kresna. Kemudian Kresna menghancurkan kepala Boma, sementara seluruh korban jiwa akibat perang melawan Boma akhirnya dihidupkan kembali.[13] Kepala Boma diabadikan dalam bentuk ragam hias di pintu gerbang atau paduraksa dengan tujuan agar orang yang berniat jahat dihalangi oleh kekuatan raksasa tersebut, sedangkan yang berniat baik akan memperoleh perlindungan darinya.[14]

Makna

Suatu bade awin, yaitu menara usungan jenazah dengan meru dan karang boma, dalam upacara pelebon (kremasi bangsawan) di Ubud, Bali (2008).

Dalam arsitektur Bali, ukiran karang boma pada candi atau bangunan lainnya seringkali diliputi dengan aneka sulur daun dan bunga. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, Sang Boma merupakan perpaduan dari unsur air (Wisnu)[a] dengan unsur tanah (Pertiwi). Perpaduan tersebut menciptakan kesuburan yang menghasilkan aneka macam tumbuhan.[15] Boma juga melambangkan hutan atau dunia tumbuhan,[16] serta suatu kesuburan yang masih asri atau belum pernah digarap.[17] Sebagai penguasa hutan (aneka tumbuhan, bahasa Sanskerta: वनस्पति vanaspati), maka Boma disebut pula "Banaspati",[16] dan wajahnya identik dengan Barong.[18][19]

Sebagaimana ukiran kala dan kirtimuka, karang boma pada paduraksa dan arsitektur Bali diyakini oleh umat Hindu Bali sebagai penolak bala. Ciri khas wajah kala dan karang boma yang sangar juga dimaknai sebagai penghancur segala rintangan.[1] Sebagai keturunan Dewi Bumi, Sang Boma diyakini sangat kuat serta mampu meniadakan berbagai macam rintangan yang ada di Bumi, baik rintangan fisik maupun gaib. Maka dari itu ia ditempatkan di belakang bade (menara kremasi) masyarakat Triwangsa[b] di Bali, sebagai penolak bala dalam perjalanan dari rumah duka menuju tempat kremasi.[3]

Menurut budayawan Hildred Geertz, bentuk karang boma yang menyeramkan memang dimaksudkan untuk menampilkan kesan menakutkan, tapi dapat disalahpahami sebagai setan atau personifikasi kekuatan jahat, terutama bagi kepercayaan yang membentuk dikotomi antara kebaikan dan kejahatan.[7] Bagi kepercayaan masyarakat Bali, Boma memang seram―sebagaimana wujud Barong[20]―tapi bukan merupakan sosok jahat, melainkan sekutu bagi para dewa.[7] Seperti halnya pelbagai makhluk gaib dalam kepercayaan masyarakat Bali, Boma dapat bersikap damai dan menentramkan, atau bersikap tidak ramah apabila ada tindakan yang tidak menyenangkan.[c] Bagi umat Hindu Bali, wujud menyeramkan tersebut tidak menjadi simbol kejahatan sebab filosofi yang menyatakan adanya sesuatu yang lebih mulia di balik penampilan luar yang seram dan menakutkan.[20]

Lihat pula

  • Anggaraka (Bhauma)
  • Boma Narakasura
  • Kirtimuka

Catatan

  1. ↑ Dalam kepercayaan Hindu Bali, Batara Wisnu juga diyakini sebagai dewa penguasa air.
  2. ↑ Triwangsa secara harfiah berarti 'Tiga Wangsa', mengacu kepada 3 warna (strata sosial) masyarakat Bali selain sudra (rakyat jelata), yaitu: brahmana (rohaniwan), kesatria (bangsawan), dan waisya (saudagar atau pengusaha).
  3. ↑ Tindakan tidak menyenangkan ini dapat berupa penodaan benda/kawasan suci tempat karang boma berada. Berdasarkan kepercayaan Bali, segala benda yang berkaitan dengan alam gaib itu bersifat tenget atau keramat sehingga wajib dihormati.[7]

Referensi

  1. 1 2 Organizing Committee (2002), Mask – The Other Face of Humanity: Various Visions on the Role of the Mask in Human Society, Rex Book Store, ISBN 9789712333569
  2. 1 2 Bagus Suryada, I Gusti Agung. "Ornamen-ornamen Bermotif Kedok Wajah dalam Seni Arsitektur Tradisional Bali" (PDF): 7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2024-02-18. Diakses tanggal 2024-02-18. ;
  3. 1 2 H. I. R. Hinzler (1986), Catalogue of Balinese Manuscripts: In the Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands, vol. 1, Leiden: Leiden University Press, ISBN 9789004072343
  4. ↑ Definitions of Bhauma, Wisdom Library, diarsipkan dari asli tanggal 7 Agustus 2025, diakses tanggal 5 Oktober 2025
  5. ↑ Mani, Vettam (1975), Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary with Special Reference to the Epic and Puranic Literature, Delhi: Motilal Banarsidass
  6. ↑ "Tiruvannamali Historical moments". Tiruvannamalai Municipality. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Oktober 2013. Diakses tanggal 6 September 2012.
  7. 1 2 3 4 5 Hildred Geertz (2004), The Life of a Balinese Temple: Artistry, Imagination, and History in a Peasant Village, Hawaii: University of Hawaii Press, ISBN 9780824825331
  8. ↑ Misra, Munindra; मिश्रा, मुनीन्द्र (2015-08-04). Lord Vishnu & Goddess Lakshmi (dalam bahasa Hindi). Osmora Incorporated. hlm. 108. ISBN 978-2-7659-1672-7.
  9. ↑ Arumugam, Nesa (2020-09-27). Myths and Legends of the Navagraha: The Nine Movers of Destiny in Indian Astrology (dalam bahasa Inggris). Partridge Publishing Singapore. hlm. 45. ISBN 978-1-5437-6002-6.
  10. ↑ Turner, Sir Ralph Lilley (1962). "aṅgāraka 126". A comparative dictionary of the Indo-Aryan languages. London: Oxford University Press. Digital Dictionaries of South Asia, University of Chicago. hlm. 7. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Agustus 2011. Diakses tanggal 21 Februari 2010. ;
  11. ↑ Dalal, Roshen (2010). Hinduism: An Alphabetical Guide (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-14-341421-6.
  12. ↑ Chandra Dhar Tripathi (2008), Kāmarūpa-Kaliga-Mithilā: a politico-cultural alignment in Eastern India : history, art, traditions, p.98, p.p 197
  13. ↑ A. Teeuw, S.O. Robson, ed. (2021), Bhomantaka: The Death of Bhoma, ISBN 9789004486751
  14. ↑ Ida Bagus Subrahmaniam Saitya Hari Harsananda; I Made Dwi Rama Dhani (2024), I Komang Suastika Arimbawa (ed.), Pura Dalem Sakenan: Sinkretisme Ajaran Siwa-Buddha, Denpasar: Dharma Pustaka Utama, ISBN 9786231020352 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  15. ↑ Nanik Mirna Agung (2013), Pawon Bali, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, ISBN 9786020362830
  16. 1 2 I Nyoman Singgin Wikarman (1997), Ngaben Sarat Sawa Prateka, Sawa Wedana, Yayasan Wikarman, ISBN 9789799044600
  17. ↑ Insight Guides (2014), Insight Guides Bali & Lombok (Travel Guide EBook), Apa Publications, ISBN 9781780058092
  18. ↑ A. David Napier (1986), Masks, Transformation, and Paradox, University of California Press, ISBN 9780520045330
  19. ↑ Paul Alexander, ed. (1989), Creating Indonesian Cultures, Australia: Oceania Publications–University of Sydney
  20. 1 2 Komang Indra Wirawan (2021), Keberadaan Barong dan Rangda Dalam Dinamika Religius Masyarakat Hindu Bali, PT Japa Widya Duta, ISBN 9786239543006

Pranala luar

  • Media terkait Karang Boma di Wikimedia Commons

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Mitologi
  2. Makna
  3. Lihat pula
  4. Catatan
  5. Referensi
  6. Pranala luar

Artikel Terkait

Keris

senjata tradisional khas asal Jawa

Dewi Sri

Dewi Sri adalah dewi padi di Pulau Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi. Pemujaan terhadapnya berawal dari perkembangan dan penyebaran penanaman padi di Asia

Borobudur

Bangunan kuil di Jawa Tengah Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026