Kelas KDDX adalah kelas kapal perusak siluman generasi terbaru yang sedang dikembangkan untuk Angkatan Laut Republik Korea. Kapal ini merupakan kelanjutan dari Program KDX setelah Kelas Sejong the Great (KDX-III).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kelas KDDX (KDX-IV) | |
|---|---|
Model proposal DSME untuk kapal perusak kelas KDDX (2014) | |
| Jenis | Kapal perusak siluman (guided-missile destroyer) |
| Negara asal | |
| Sejarah pemakaian | |
| Masa penggunaan | 2032 (direncanakan) |
| Digunakan oleh | Angkatan Laut Republik Korea (direncanakan) |
| Sejarah produksi | |
| Tahun | 2018–2023 |
| Produsen | HD Hyundai Heavy Industries atau Hanwha Ocean (kompetisi) |
| Diproduksi | 2027–2032 (direncanakan) |
| Jumlah produksi | 6 (direncanakan) |
| Spesifikasi | |
| Berat | 7.100 ton (ringan) 8.000 ton (muatan penuh) |
| Panjang | 155 m (509 ft) |
| Lebar | 18,8 m (61 ft 8 in) |
| Awak | 180–200 orang |
| Senjata utama |
* 1 × 5"/62-caliber Mk 45 Mod 4 naval gun
|
| Jenis Mesin | * Integrated Electric Propulsion System (IEPS)
|
| Kecepatan | 30+ knot (56+ km/jam) |
Kelas KDDX (Korean Next-Generation Destroyer, KDX-IV) adalah kelas kapal perusak siluman generasi terbaru yang sedang dikembangkan untuk Angkatan Laut Republik Korea. Kapal ini merupakan kelanjutan dari Program KDX (Korean Destroyer eXperimental) setelah Kelas Sejong the Great (KDX-III).[1][2]
Program KDDX pertama kali diumumkan pada tahun 2009 sebagai bagian dari rencana modernisasi Angkatan Laut Korea Selatan. Pada awalnya, program ini dikenal sebagai KDX-IIA yang diproyeksikan sebagai pengembangan dari Kelas Chungmugong Yi Sun-sin (KDX-II).[3]
Pada tahun 2018, Komite Promosi Program Pertahanan ke-118 menyetujui Strategi Dasar Promosi Program KDDX.[3] Pada tahun 2019, pekerjaan desain awal dimulai. Dalam pameran MADEX 2019, kedua calon kontraktor utama—HD Hyundai Heavy Industries dan Hanwha Ocean (saat itu masih bernama Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering)—memamerkan proposal mereka.[4]
Setelah mengalami penundaan lebih dari dua tahun akibat sengketa antara kedua perusahaan galangan kapal, program KDDX akhirnya memasuki tahap tender resmi. Pada 23 Maret 2026, Badan Administrasi Pengadaan Pertahanan (DAPA) mengumumkan tender untuk program ini, dan pada 26 Maret 2026, dokumen permintaan proposal (RFP) didistribusikan kepada HD Hyundai Heavy Industries dan Hanwha Ocean.[5]
Total anggaran program untuk enam kapal diperkirakan mencapai 7,04 triliun won (sekitar 4,9 miliar dolar AS). Kapal utama dijadwalkan selesai dan diserahkan kepada Angkatan Laut Korea Selatan pada akhir tahun 2032.[5]
Kelas KDDX memiliki bobot ringan 7.100 ton dan bobot penuh sekitar 8.000 ton, dengan panjang 155 meter dan lebar 18,8 meter.[2] Kapal ini akan lebih ringan dari Kelas Sejong the Great (KDX-III) yang berbobot 10.000 ton muatan penuh, namun dilengkapi dengan sensor yang lebih canggih dan karakteristik siluman yang lebih baik.[2]
KDDX akan menjadi kapal perusak Korea Selatan pertama yang menggunakan sistem propulsi listrik terintegrasi (Integrated Electric Propulsion System/IEPS).[6] Sistem ini didukung oleh empat turbin gas General Electric LM2500-30 yang menghasilkan 100.000 shp, memungkinkan kecepatan melebihi 30 knot.[2]
KDDX akan dilengkapi dengan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan Hanwha Systems, yang merupakan radar buatan dalam negeri pertama Korea Selatan untuk kapal perang.[4] Radar ini menggunakan empat panel array yang dipasang di setiap sisi tiang terintegrasi (Integrated Mast/I-MAST), memungkinkan deteksi dan pemantauan hingga 4.000 target secara simultan.[4]
Korea Selatan menjadi negara ke-12 di dunia yang berhasil mengembangkan teknologi AESA secara mandiri, setelah Amerika Serikat sempat menolak transfer teknologi terkait.[7]
KDDX akan dipersenjatai dengan sistem peluncur vertikal (VLS) kombinasi:[2]
Senjata lainnya meliputi:[2]
Program KDDX sempat tertunda lebih dari dua tahun akibat persaingan antara HD Hyundai Heavy Industries (HHI) dan Hanwha Ocean. HHI telah menyelesaikan tahap desain dasar, namun DAPA memutuskan untuk membuka tender kompetitif untuk tahap desain detail dan pembangunan kapal utama, yang biasanya dilakukan secara kontrak langsung dengan perancang desain dasar.[5]
Pada Maret 2026, HHI mengajukan gugatan hukum ke pengadilan untuk mencegah 12 item data desain inti mereka dibagikan kepada pesaing, dengan alasan bahwa informasi tersebut merupakan rahasia dagang dan dapat mengungkap strategi penawaran mereka.[8] DAPA menargetkan pemilihan kontraktor pada Juli 2026, meskipun hasil gugatan hukum dapat mempengaruhi jadwal tersebut.[5]