Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kakawin Banawa Sekar

Kakawin Banawa Sĕkar adalah kakawin pendek 21 bait karangan Mpu Tanakung yang diperkirakan ditulis pada tahun 1351 Masehi. Kakawin ini melukiskan tentang upacara pesta srāddha yang diadakan oleh Jīwanendrādhipa 'maharaja Jīwana', khususnya persembahan-persembahan yang dihaturkan oleh berbagai raja śrī nātheng Kŗtabhūmi, naranātha ring Mataram, sang nŗpati Pamotan, śrī parameśwareng Lasĕm, dan naranātha ring Kahuripan. Banawa Sekar berarti "perahu yang terbuat bunga". Kakawin ini ditulis tatkala Raja Hayam Wuruk melakukan sebuah korban suci besar (Sraddha) yang ditujukan kepada mendiang neneknya, Dyah Rajapatni Gayatri, di alun-alun istana Majapahit.

manuskrip lontara
Diperbarui 6 Juni 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kakawin Banawa Sekar" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Kakawin Banawa Sekar

Kakawin Banawa Sĕkar (Bahtera Bunga) adalah kakawin pendek 21 bait karangan Mpu Tanakung yang diperkirakan ditulis pada tahun 1351 Masehi. Kakawin ini melukiskan tentang upacara pesta srāddha yang diadakan oleh Jīwanendrādhipa 'maharaja Jīwana', khususnya persembahan-persembahan yang dihaturkan oleh berbagai raja śrī nātheng Kŗtabhūmi, naranātha ring Mataram, sang nŗpati Pamotan, śrī parameśwareng Lasĕm, dan naranātha ring Kahuripan. Banawa Sekar berarti "perahu yang terbuat bunga". Kakawin ini ditulis tatkala Raja Hayam Wuruk melakukan sebuah korban suci besar (Sraddha) yang ditujukan kepada mendiang neneknya, Dyah Rajapatni Gayatri, di alun-alun istana Majapahit.

Kakawin ini terdiri dari 12 bait dan tiga bab. Bab pertama adalah tentang megahnya upacara sraddha yang dilakukan oleh Raja Hayam Wuruk. Banyak pendeta, keluarga kerajaan, para bangsawan dan semua pejabat Majapahit hadir untuk melakukan persembahyangan dan penghormatan kepada arca Rajapatni Gayatri yang diistanakan di sebuah singgasana putih. Bab kedua menjelaskan tentang beraneka macam persembahan dari banyak keturunan bangsawan Majapahit. Ada persembahan berupa puisi, tarian dan sebagainya. Persembahan terakhir adalah persembahan berupa perahu bunga oleh Raja Hayam Wuruk. Beliau mempersembahkan sebuah perahu yang terbuat dari bermacam-macam bunga berwarna-warni. Ada bunga gadung, teratai, pohon mas, sanggalangit, melati, magnolia dan sebagainya. Perahu itu sangat indah. Bab terakhir menyatakan penyesalan penulis kakawin karena tidak dapat menjelaskan kemegahan upacara itu sebagaimana yang diharapkan baginda raja. Dia berharap agar kakawin itu diterima oleh raja dan membuar beliau senang sebelum kakawin itu disalin dalam bentuk lontar.

Persembahan-persembahan itu berbentuk indah aneka warna dan bergaya seni serta berupa ilustrasi mengenai gita dan kidung yang digubah oleh raja-raja sendiri. Rupanya sajak-sajak itu dipersembahkan pada waktu yang sama, tertulis di atas karas (papan tulis) atau daun-daun lontar. Persembahan yang paling indah ialah persembahan yang dibawa oleh raja yang menghaturkan sraddha berbentuk sebuah perahu yang dibuat dari bunga-bunga. Upacara sraddha ialah upacara untuk mengenang arwah seseorang yang meninggal.

Pada tahun 1983, Zoetmulder kemudian menyalin kakawin ini ke dalam aksara Latin dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda dan Indonesia.

Sumber

  • P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, halaman 460, 616.

Lihat pula

  • Sastra Jawa Kuno
  • l
  • b
  • s
Kakawin
  • Sastra Jawa Kuno
  • Sastra Jawa-Bali
Kitab
  • Arjunawijaya
  • Arjunawiwaha
  • Banawa Sekar
  • Bharatayuddha
  • Bhomantaka
  • Hariwangsa
  • Kresnayana
  • Kunjarakarna
  • Nagarakretagama
  • Nirarthaprakerta
  • Nitisastra
  • Parthayadnya
  • Ramayana
  • Siwaratrikalpa
  • Smaradahana
  • Sumanastaka
  • Sutasoma
  • Wrettasancaya
Penulis
  • Dharmaja
  • Dusun
  • Kanwa
  • Monaguna
  • Panuluh
  • Prapanca
  • Sedah
  • Tanakung
  • Tantular
  • Triguna
  • Artikel terkait: Bahasa Jawa Kuno
  • Lontar
Ikon rintisan

Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sumber
  2. Lihat pula

Artikel Terkait

Aksara Lontara

aksara tradisional yang digunakan untuk bahasa Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi di Indonesia

Colliq Pujié

bangsawan Bugis Melayu yang menjadi pengarang, penulis, penyunting naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris istana Kerajaan Tanete (sekarang

Meong Palo Karellae

dalam sejumlah manuskrip lontara di Sulawesi Selatan, termasuk naskah dari Kabupaten Soppeng yang ditulis menggunakan aksara Lontara dan bahasa Bugis

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026