Kaisar Hongzhi adalah kaisar Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1487 sampai 1505. Terlahir dengan nama Zhu Youtang (朱祐樘), adalah anak dari Kaisar Chenghua dari selirnya yang bermarga Ji. Ia adalah kaisar masa pertengahan Ming yang bijaksana dan cinta damai, selama masa pemerintahannya Tiongkok stabil dan makmur sehingga masa ini disebut abad perak Hongzhi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Nama dalam bahasa asli | (zh-cn) 朱祐樘 |
|---|---|
| Temple name (en) | 孝宗 |
| Posthumous name (en) | 達天明道純識中正聖文神武至仁大德敬皇帝 |
| Biografi | |
| Kelahiran | 30 Juli 1470 Beijing |
| Kematian | 8 Juni 1505 Beijing |
| Tempat pemakaman | Tailing Mausoleum (Ming dynasty) (en) |
| Kaisar Tiongkok | |
| 9 September 1487 – 8 Juni 1505 (meninggal saat menjabat) ← Kaisar Chenghua – Kaisar Zhengde → | |
| Putra mahkota | |
| 1475 – 9 September 1487 | |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | pelukis, penyair |
| Keluarga | |
| Keluarga | Dinasti Ming |
| Pasangan nikah | Empress Xiaochengjing (en) |
| Anak | Kaisar Zhengde, Zhu Houwei (en) |
| Orang tua | Kaisar Chenghua |
| Saudara | Princess Deqing (en) |
Kaisar Hongzhi (Hanzi: 弘治, 30 Juli 1470-8 Juni 1505) adalah kaisar Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1487 sampai 1505. Terlahir dengan nama Zhu Youtang (朱祐樘), adalah anak dari Kaisar Chenghua dari selirnya yang bermarga Ji. Ia adalah kaisar masa pertengahan Ming yang bijaksana dan cinta damai, selama masa pemerintahannya Tiongkok stabil dan makmur sehingga masa ini disebut abad perak Hongzhi.
Hongzhi lahir dan dibesarkan di bawah penganiayaan Selir Wan dan kroni-kroninya yang memburu putra-putra yang dilahirkan bagi Kaisar Chenghua. Beberapa kali ia lolos dari usaha pembunuhan. Ia dibesarkan secara diam-diam di lingkungan istana oleh permaisuri dari kakeknya. Di bawah perlindungan ibusuri, Selir Wan tidak berani bertindak gegabah padanya. Walaupun begitu, niatnya untuk membunuh sang pangeran tidak pernah pupus, tetapi sampai kematiannya tahun 1487 niat ini tidak pernah terlaksana.
Pada tahun 1475, ketika usianya yang kelima, barulah ia berkumpul kembali dengan ayahnya dan dianugerahi gelar putra mahkota. Ia sudah menunjukkan kecemerlangannya sejak dini dan dididik dengan baik di bawah pengawasan permaisuri. Ia menguasai ajaran-ajaran Konfusius dan hasil belajarnya sangat memuaskan.
Pada tahun 1487, ayahnya mangkat dan ia mewarisi tahta kerajaan. Tahun berikutnya ia menamai rezimnya Hongzhi. Begitu menjadi kaisar, ia tidak membuang-buang waktu menyingkirkan kroni-kroni Selir Wan dari pemerintahan. Sekitar seribu orang termasuk kasim-kasim dan kerabat Selir Wan dinyatakan bersalah dan diberikan hukuman setimpal.
Pada saat yang sama, ia menunjuk orang-orang jujur seperti Qiu Jun, Xie Qian, Liu Jian, Wang Pu, Xu Pu, Li Dongyang, dan lainnya mengisi posisi penting dalam pemerintahannya. Selain itu, ia juga mendorong mentri-mentrinya untuk berterus terang mengenai segala masalah, bahkan kritik-kritik terhadap dirinya pun diterima dengan terbuka. Dengan demikian pemerintah lebih transparan dan makin banyak orang-orang berbakat bekerja padanya.
Pernah suatu kali pada awal pemerintahannya, Hongzhi berencana membangun sebuah paviliun yang indah di bukit Wansui sehingga ia bisa menikmati pemandangan dari sana. Seorang sarjana kerajaan bernama Hu Chen mengirim surat keberatan padanya agar mengurungkan niatnya dengan alasan pemborosan. Semua orang khawatir akan nasib Hu akibat ‘kelancangannya’. Namun setelah Hongzhi membaca surat Hu dan merasa alasan yang dikemukakan Hu masuk akal, ia bukannya menghukum Hu, malah sebaliknya mengangkatnya sebagai pejabat distrik di Yunnan.
Hongzhi juga pernah terobsesi dengan takhayul karena pengaruh seorang kasimnya yang bernama Li Guang. Setelah Li meninggal, ia memerintahkan rumah Li digeledah untuk mencari sebuah buku mistik seperti yang didesas-desuskan. Namun yang ditemukan adalah setumpuk catatan pembukuan yang berisi hasil korupsi dan kolusi yang dilakukan Li. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa ia harus menjaga jarak dari pejabat-pejabat korup dan dekat pada mereka yang jujur.
Hongzhi melandaskan sistem pemerintahannya berdasarkan ideologi Konfusius yang mengispirasikannya menjadi seorang pemimpin yang pekerja keras dan rajin. Ia mengawasi dengan ketat masalah-masalah kenegaraan, menurunkan pajak, mengurangi pengeluaran pemerintah, dan mempekerjakan orang-orang yang pantas sebagai bawahannya. Dalam masa pemerintahannya kekuasaan para kasim dibatasi dan intrik dalam istana yang sudah menjadi hal biasa semasa rezim-rezim sebelumnya berkurang drastis. Rakyat pun hidup damai dan sejahtera. Hongzhi pantas dibandingkan dengan dua pendahulunya, Kaisar Hongwu dan Yongle sebagai salah satu kaisar Ming yang cemerlang.
Tidak seperti para pendahulunya yang mempunyai banyak selir dan melahirkan banyak anak. Hongzhi hanya mempunyai seorang permaisuri seumur hidupnya. Permaisurinya memberi dua putra baginya, yang satu meninggal ketika masih bayi, maka ia hanya mempunyai satu orang yang dinominasikan mewarisi tahtanya, yaitu Zhu Houzhao yang kelak menjadi Kaisar Zhengde.
Ketika ia sakit berat tahun 1505, dipanggilnya mentri-mentrinya ke ranjang kematiannya. Kepada mereka ia mengumumkan bahwa putra mahkota Zhu Houzhao akan menggantikannya menjadi kaisar. Ia berpesan untuk terakhir kalinya pada mereka, “Pangeran adalah anak yang cerdas, tetapi dia masih terlalu muda dan terlalu banyak bermain, aku berharap kalian mendampinginya dalam menjalankan pemerintahan sehingga pada saatnya nanti dia menjadi kaisar yang baik. Berjanjilah kalian untuk melakukannya, dengan begitu aku dapat mati dengan tenang”
Cheng Qinhua, Tales of the Forbidden City, Bejing: Foreign Languages Press, 1997.
Kaisar Hongzhi | ||
| Didahului oleh: Kaisar Chenghua |
Kaisar Tiongkok (Dinasti Ming) 1487–1505 |
Diteruskan oleh: Kaisar Zhengde |