Kain Bebali atau yang di Bali Utara lebih dikenal dengan nama wangsul dan di Bali Timur dikenal dengan nama gedogan, terdiri dari dua suku kata, yakni kain dan bebali. Kain, merupakan hasil tenunan yang dipergunakan untuk menutupi tubuh. Sedangkan Bebali pengertiannya upacara. Maka, kain Bebali merupakan suatu hasil tenunan yang dipergunakan untuk kepentingan upacara, sehingga kain Bebali mengandung nilai – nilai dalam kehidupan sosio kultur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kain Bebali atau yang di Bali Utara lebih dikenal dengan nama wangsul dan di Bali Timur dikenal dengan nama gedogan, terdiri dari dua suku kata, yakni kain dan bebali. Kain, merupakan hasil tenunan yang dipergunakan untuk menutupi tubuh. Sedangkan Bebali pengertiannya upacara. Maka, kain Bebali merupakan suatu hasil tenunan yang dipergunakan untuk kepentingan upacara, sehingga kain Bebali mengandung nilai – nilai dalam kehidupan sosio kultur.
Mengutip pendapat I Made Seraya, dinyatakan bahwa kain bebali mempunyai arti penting dalam masyarakat karena mempunyai nilai-nilai tertentu antara lain, nilai guna, nilai artistik termasuk nilai estetika di dalamnya. Lebih jauh lagi, Dr. URS Ramseyer, seorang antrolog budaya dari Swiss dan ketua Yayasan Basel dankt Bali, mengatakan bahwa tenun Bebali adalah sebuah contoh yang baik sekali untuk memperlihatkan bagaimana satuan-satuan budaya material memiliki fungsi sebagai pembawa pesan-pesan bagi komunikasi pengetahuan (kearifan) budaya[butuh rujukan].
Secara umum, hanya anggota dalam tiga kasta tertinggi atau triwangsa yang mengetahui dalam proses pembuatan kain suci yang akan digunakan dalam sebuah upacara ritual. Karena, erat hubungannya dengan ritual, tukang banten atau wanita yang mengatur komposisi sebuah sesajen yang nantinya akan digunakan bersamaan dengan kain Bebali, berasal dari kasta Brahmana, Ksatria atau Wesia. Selain itu, pola sebuah keberlangsung ritual juga hanya dapat ditentukan oleh orang-orang yang berasal dari kasta tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa hanya mereka yang dapat menentukan dimana dan kapan tepatnya kain bebali digunakan. Dalam pengerjaannya, kain bebali ditenun oleh tetua perempuan yang sudah tidak lagi menstruasi atau dalam bahasa Bali baki. Hal ini dikarenakan kain yang dihasilkan merupakan kain yang akan dipergunakan berhubungan dengan keagamaan, makapara perempuan di Bali yang masih menstruasi dilarang membuat kain ini. Inipulalah yang menyebabkan kain Bebali pada saat ini cukup jarang ditemukan.
Kain Bebali termasuk dalam jenis kain tenun ikat pakan. Alat yang digunakan untuk menenun dinamakan prabot tenun cag-cag. Proses penenunan secara umum terdiri dari lima tahap. Pertama, ngeliying atau membantangkan benang pada undar hingga benang dapat dibuka, digulung pada ulakan atau peleting. Kedua, ngayi. Lalu nyahsah yaitu bahan tenunan yang ada pada panynan dilepaskan dan dibentangkan memanjang. Proses selanjutnya lipatan benang dimasukkan pada serat dengan mempergunakan alat seperti jarum panjang yang kecil. Terakhir, barulah benang ditenun.
Khusus dalam tenun ikat jenis ini, hanya dipergunakan benang pakan saja. Caranya, benang pakan yang sudah selesai diikat, dicalup dan dilepas ikatannya, lalu digulung pada palet-palet. Kemudian benang pakan itu akan disilangkan dengan benang lungsi yang telah disiapkan, melalui proses penenunan. Sehingga benang lungsi yang dipakai hanya memakai satu jenis warna atau polos. Pola ragam hias yang akan dirancang, cukup dengan mengatur kedudukan benang pakannya saja pada saat menenun.
Dari bentuknya dikenal ada dua jenis kain bebali yaitu bentuk kain lembaran dan bentuk kain bundar. Dari segi pewarnaan, beberapa nama kain bebali contohnya,:
Dari segi ragam hias, terbagi atas lima macam.
Dari sekian kain gedogan yang ditemukan ternyata kain ini mempunyai sisi yang tidak simetris antara sisi kiri dan sisi kanan. Padahal kain ini mempunyai ragam hias geometris dengan motif sisi kiri dan sisi kanan yang sama. Tidak simetrisnya kain gedogan ini karena diisi pengurip sehingga terbagi menjadi dua bagian yang tidak simetris. Ini merupakan salah satu bentuk ekspresi rwa bhineda pada kain bebali.
Rwa bhineda sendiri merupakan pandangan yang berdasarkan pada sistem klasifikasi yang bersifat dualistis, apakah itu baik buruk, widya awidya, kanan-kiri, purusa-predana dan yang lainnya. Dalam pemaknaan Ajeg Bali, pengakuan inilah merupakan salah satu inner power yang setiap saat mesti digelorakan pada tataran individu manusia Bali. Misalnya kain Raine Wengi dan kain Uyah Sere, konsep rwa bhineda sangatlah kentara. Warna hitam dan putih dengan motif setengah hitam dan setengah putih yang mencerminkan siang (raine), malam (wengi), uyah yang berwarna putih dan sere yang berwarna hitam/gelap. Konsep rwa bhineda juga diakomodasi dalam ragam hias pada kain bebali, seperti adanya ragam hias manusia. Dalam hal ini digambarkan dua gambar manusia yaitu laki dan perempuan sebagai perwujudan Sang Hyang Semara Ratih. Ragam hias kutamesir, tapak dara atau tanda silang dapat melambangkan perputaran dari alam semesta ini dan simbol dari arah.
Pewarnaan kain juga memiliki makna. Misalnya kuning dan putih menggambarkan Mahadewa di barat dan Iawara di timur. Selain itu kedua warna tersebut juga menggambarkan komplemenatari dualisme Buddha dan Siwa. Sedangkan warna merah adalah warna untuk pencipta Brahma dan hitam, hijau atau biru menggambarkan warna dewa Wisnu sebagai penguasa utara.
Sesuai namanya, kain Bebali biasa digunakan dalam bebali atau upacara-upacara keagamaan. Secara umum, terdapat lima macam jenis upacara tradisional dalam masyarakat Bali. Manusia Yadya, meliputi upacara daur ulang hidup dari masa kehamilan sampai masa dewasa. Pitra Yadnya adalah upacara untuk roh leluhur baik berupa kematian maupun penyucian. Dewa Yadnya, merupakan upacara-upacara pada kuil keluarga. Sedangkan Resi Yadnya adalah upacara yang berhubungan dengan pentasbihan pendeta. Terakhir, upacara yang diadakan untuk bhuta dan kala atau roh pengganggu manusia disebut Bhuta Yadnya. Dua contoh upacara yang menggunakan kain Bebali sebagai unsur ritualnya adalah upacara nelu bulanan dan ngaben.
Di Selatan dan Tenggara Bali, khususnya ditempat-tempat dimana sihir, ramalan dan hal-hal gaib masih dipercayai, para orang tua dari bayi yang baru saja lahir akan membayar balian taksu untuk membuat kontak dengan nenek moyang dan mencari tahu jiwa siapa yang bereinkarnasi dalam tubuh bayi tersebut. Setelah itu, maka diadakanlah ritual dimana sang bayi harus menggunakan kain bebali dalam acara ritual nelu bulanan atau ritual 210 hari. Tujuan dari ritual ini untuk meningkatkan kebersihan rohaniah si bayi serta menegaskan pemeberian nama yang tetap baginya. Khusus untuk pemberian nama, upacara ini juga ada hubungannya dengan upacara “namadheya” yang dilakukan pada waktu bayi berumur 12 hari. Pemakaian kain bebali pada ritual suci ini, terutama pada saat setelah penyucian dan pengusiran bajang, maka bayi memakai kain kakancan bebali untuk upacara natab dan matirta serta untuk upacara mapetik dan mabakti. Kain bebali yang digunakan oleh pusuh dan baru kemudian dipakai oleh si bayi adalah warna kuning pisang, merah atau biru reddish. Pada saat ritual magogo-gogoan, bayi juga dipakaikan kain bebali. Selain dipakaikan kepada si bayi, kain bebali juga digunakan pada tatakan (tatakan wangsul) tempat menaruh rambut bayi yang baru dipotong dan untuk memisahakan antara yang suci dan tidak. Kain yang mungkin digunakan sepanjang ritual berupa kain bergaris yang terdiri dari sembilan warna dari sembilan klasifikasi pembedaan sistem (nawangsa) yang disimbolkan dengan bunga lotus atau padma dan sembilan senjata. Sembilan kain prembon bergaris disebut sebagai prembon nawangsa oleh kaum Brahmana. Dengan keanekaragaman warna, kain tersebut menyimbolkan totalitas dan kesatuan dimana setiap garis pada kein tersbut merepresentasikan keseluruhan kain bebali seperti sekordi, selutut, pageh tutuh atau nagasari. Selain bentuk kain bergaris, dipakai pula kain segiempat atau kakasang yang digunakan di atas rambut.
Dalam upacara ini, kain Bebali digunakan pada bagian atas sebagai penutup mayat. Adapaun hal-hal lain yang diletakkan pada beberapa bagian tubuh mayat yaitu daun ntaran (pada kening), pusuh menuh (pada lubang hidung), cermin (kedua mata), baja (pada gigi), dan pada kemaluan diletakkan dau tuwung atau terung bagi laki-laki serta bagi perempuan diletakkan dau tunjung atau teratai.