KRI Bung Hatta (370) adalah kapal kedua dari korvet kelas Bung Karno milik TNI Angkatan Laut. Kapal tersebut dinamai setelah Wakil Presiden Pertama Indonesia Mohammad Hatta.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

KRI Bung Hatta di slipway | |
| Sejarah | |
|---|---|
| Nama | KRI Bung Hatta |
| Asal nama | Mohammad Hatta |
| Dipesan | 25 Januari 2024 |
| Pembangun | PT Karimun Anugrah Sejati, Batam |
| Pasang lunas | 25 Januari 2024 |
| Diluncurkan | 27 Februari 2025 |
| Mulai berlayar | 17 April 2025 |
| Pelabuhan daftar | Surabaya |
| Identifikasi | Nomor lambung: 370 |
| Status | Aktif |
| Ciri-ciri umum | |
| Jenis | Korvet kelas Bung Karno |
| Panjang | 80,3 m (263 ft 5 in) |
| Lebar | 12,6 m (41 ft 4 in) |
| Kecepatan | 25 knot (46 km/h) |
| Daya tahan | 5 days |
| Awak kapal | 82 |
| Senjata |
|
| Pesawat yang diangkut | 1 × helikopter (AS565 Panther) |
| Fasilitas penerbangan | Dek penerbangan |
KRI Bung Hatta (370) adalah kapal kedua dari korvet kelas Bung Karno milik TNI Angkatan Laut. Kapal tersebut dinamai setelah Wakil Presiden Pertama Indonesia Mohammad Hatta.
Selama acara peresmian KRI Bung Karno pada tanggal 1 Juni 2023, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengumumkan bahwa kapal saudari Bung Karno yang ditingkatkan akan dibangun. Laksamana Ali juga menyatakan bahwa kapal tersebut kemungkinan akan diberi nama Mohammad Hatta, salah satu pendiri bangsa Indonesia dan wakil presiden pertama Indonesia[1] Kontrak untuk korvet tersebut ditandatangani pada tanggal 25 Januari 2024 di galangan kapal PT Karimun Anugrah Sejati di Batam. Pada hari yang sama, upacara pemotongan baja dan peletakan lunas pertama juga dilaksanakan.[2]
Korvet tersebut diluncurkan pada tanggal 27 Februari 2025 dan secara resmi dinamai sebagai KRI Bung Hatta, disponsori oleh istri dari KSAL Ibu Fera Muhammad Ali.[3] Kapal tersebut direncanakan akan ditempatkan di Satuan Kapal Eskorta Komando Armada II di Surabaya.[4] Bung Hatta kemudian diserahkan kepada TNI Angkatan Laut dan mulai ditugaskan pada tanggal 17 April 2025.[5][6]
Untuk menghargai jasa-jasa perjuangan beliau, TNI AL mengabadikan nama beliau sebagai kapal perang KRI Bung Hatta (370) di bawah jajaran Koarmada II TNI AL yaitu Satkor Koarmada II, dimana kapal jenis Korvet ini dibutuhkan untuk memperkuat jajaran unsur kombatan yang siap beroperasi dalam rangka menjaga kedaulatan di wilayah kerja Koarmada II khususnya dalam mengatasi eskalasi mendesak dari kejahatan di laut.
Bung Hatta direncanakan sebagai varian yang ditingkatkan dari KRI Bung Karno dengan ukuran yang sedikit lebih besar dan persenjataan yang lebih baik.[7][1] Kapal tersebut sendiri memiliki panjang 80,3 m (263 ft) dan lebar 12,6 m (41 ft). Korvet tersebut memiliki kecepatan tinggi 25 knot (46 km/h), kecepatan jelajah 18 knot (33 km/h), kecepatan ekonomis 14 knot (26 km/h), dan mampu bertahan hingga 5 hari di laut. Bung Hatta memiliki awak kapal sebanyak 82 personel.[3]
Kapal tersebut direncanakan akan dipersenjatai dengan satu meriam Super Rapid OTO Melara 76 mm Leonardo Super, dua meriam otomatis 20 mm, torpedo, dua peluncur ganda rudal anti-kapal, dan rudal darat-ke-udara.[8] Seperti yang dibangun, kapal tersebut dipersenjatai dengan satu meriam Bofors 57 mm L/70 Mk 1 di haluan dan dua meriam Yugoimport M71/08 20 mm di setiap sisi di belakang struktur. Meriam Bofors 57 mm berfungsi sebagai meriam utama sementara korvet hingga meriam Super Rapid OTO Melara 76 mm dapat diperoleh dan dipasang.[3]
Korvet tersebut rencananya akan dilengkapi dengan rangkaian peperangan elektronik, seperti radar penanggulangan elektronik (R-ECM) dan tindakan dukungan elektronik radar (R-ESM).[3]
Bung Hatta juga mampu membawa helikopter Eurocopter AS565 Panther[9] dan memiliki sebuah dek penerbangan.[10] Kapal tersebut membawa dua perahu karet berlambung kaku (RHIB) dan memiliki jalur buritan untuk perahu, yang dapat mendukung misi infiltrasi, eksfiltrasi, pencarian dan penyelamatan (SAR), dan kunjungan, naik, pencarian, dan penyitaan (VBSS).[3][8]
Pada tanggal 25 November 2025, KRI Bung Hatta menangkap dua kapal pengangkut biji nikel ilegal di Laut Konawe Utara, Sulawesi Utara.[11] Dua kapal milik PT Prima Mulia Jaya itu tidak membawa dokumen kapal dan muatan yang sah, dan selanjutnya dikawal menuju Lanal Kendari untuk diperiksa lebih lanjut.[12]
Media terkait KRI Bung Hatta (370) di Wikimedia Commons