Kewartawanan digital, atau jurnalisme digital, adalah segala bentuk penyajian berita dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi elektronik yang tersedia. Kata kewartawanan berarti upaya untuk mencari, mengumpulkan dan menyebarkan informasi yang mengandung nilai penting dan memiliki dampak berarti bagi publik. Sedangkan digital berarti sistem yang terkait penggunaan komputer dan internet. Dengan demikian, kewartawanan digital adalah sebuah metode baru penyajian informasi dan fakta dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi internet. Salah satu contoh perwujudan kewartawanan digital adalah bertumbuhnya media berita daring, blog atau situs web seperti Project Multatuli, Tirto.id dan lain-lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Februari 2024)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Kewartawanan digital, atau jurnalisme digital, adalah segala bentuk penyajian berita dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi elektronik yang tersedia. Kata kewartawanan berarti upaya untuk mencari, mengumpulkan dan menyebarkan informasi yang mengandung nilai penting dan memiliki dampak berarti bagi publik. Sedangkan digital berarti sistem yang terkait penggunaan komputer dan internet. Dengan demikian, kewartawanan digital adalah sebuah metode baru penyajian informasi dan fakta dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi internet. Salah satu contoh perwujudan kewartawanan digital adalah bertumbuhnya media berita daring, blog atau situs web seperti Project Multatuli, Tirto.id dan lain-lainnya.
Kewartawanan digital adalah semua bentuk kewartawanan yang menggunakan sumber daya digital. Tidak hanya sumber yang ada di internet saja, melainkan juga di televisi maupun radio digital. Penerapan kewartawanan digital ini banyak dilakukan oleh para wartawanan. Kewartawanan digital juga dilihat sebagai sebuah bentuk praktik lama dalam konteks yang baru. Kewartawanan digital juga dapat dipahami dalam penggunaan teknologi digital guna memproduksi konten untuk publik. Misalnya, situs web, perekam audio digital, dan blog.[1]
Kewartawanan digital juga memiliki kaitan erat dengan penggunaan media sosial. Media sosial dapat difungsikan sebagai sarana mengumpulkan dan memverifikasi sumber informasi. Gabungan pemanfaatan perangkat keras dan perangkat lunak ternyata bisa berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan informasi dengan menceritakan.[2] Terbitan kewartawanan melalui media sosial telah menjadi penanda adanya kewartawanan digital. Saat ini, perusahaan media telah bergerak ke arah diseminasi informasi secara multiplatform dengan memanfaatkan internet. Situs multimedia saat ini meliputi berbagai macam format, mulai dari blog, video digital, siniar, dan foto.
Awal keterlibatan media komputer dalam dunia warta dimulai sejak masa 1970-1980, yaitu masa ketika teknologi sedang berkembang sangat pesat. Metode penyimpanan data serta fitur salin dan tempel juga sudah digunakan, yang berdampak pada pemunduran tenggat waktu atau [deadline] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan). Proses pencetakan berita dalam format media cetak pun menjadi lebih mudah sehingga memungkinkan produksi secara besar-besaran. Ini membawa masyarakat pada masa 1990-an, di mana teknologi internet mulai dikembangkan. Teknologi nirkabel (wirelesscode: en is deprecated pada laptop pun diciptakan, yang pada akhirnya memudahkan proses-prosea kewartawanan.[butuh rujukan] Pada 19 Januari 1998, Mark Drudge menerbitkan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, dengan Monica Lewinsky,[butuh rujukan] yang kemudian disebut sebagai tanggal lahir kewartawanan daring, hingga akhirnya berkembang di berbagai negara. Barulah pada tahun 2000-an, muncul situs-situs pribadi yang menampilkan laporan warta pemiliknya, yang kemudian dikenal sebagai weblog atau blog.[butuh rujukan]
Paul Bradshaw menyebutkan bahwa ada lima prinsip dasar kewartawanan digital, yang terdiri dari akronim bahasa Inggris B-A-S-I-C, yakni:
Berita dituntut untuk bersifat ringkas guna menyesuaikan kehidupan manusia dan tingkat kesibukannya yang semakin tinggi. Ini sesuai dengan istilah umum komunikasi ‘KISS’, yakni [Keep It Short and Simple] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan).
Para wartawan daring dituntut agar mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik. Dengan adanya kemajuan teknologi, wartawan dapat menyajikan berita dengan cara membuat berbagai keragaman cara, seperti penyediaan format suara, video, gambar, dan lain-lain dalam suatu berita.
Untuk memudahkan khalayak, situs-situs berpangkalkan kewartawanan daring hendaknya memiliki sifat dapat dipindai, agar pembaca tidak perlu merasa terpaksa dalam membaca informasi atau berita.
Komunikasi dari publik kepada wartawan dalam kewartawanan daring sangat dimungkinkan dengan adanya akses yang semakin luas. Pemirsa dibiarkan untuk menjadi pengguna. Hal ini sangat penting karena semakin khalayak merasa dirinya dilibatkan, mereka akan merasa semakin dihargai dan senang membaca berita yang ada.[3]
Media daring memiliki peran yang lebih besar daripada media cetak atau media konvensional lainnya, yakni sebagai penjaring komunitas. Wartawan juga harus memberi jawaban atau umpan balik kepada publik sebagai sebuah balasan atas interaksi atau tanggapan yang mereka berikan.[4]
Kewartawanan digital dapat dibedakan dari dua domain. Domain pertama adalah rentangan dari situs-situs yang fokus pada konten penyuntingan hingga situs-situs yang berbasis ketersambungan publik. Domain kedua dilihat berdasarkan tingkat partisipas yang ditawarkan oleh situs berita yang bersangkutan. Adapun empat jenis wartawan daring adalah:[5]
Terdapat beberapa pola yang dapat dilihat dari adanya kewartawanan digital saat ini, yaitu adanya keterlibatan yang interaktif dan kolaboratif antara wartawan dan penulisnya. Ini dapat dilihat karena terdapat kesatuan terbitan sebagai dampak dari multimedia itu sendiri. Dampak tersebut sangat terasa ketika pola penyebaran konten kian meluas dan jangkauan yang lebih sejagat akibat tersambungnya jaringan internet.[6]
Pengecekan fakta dan verifikasi data dapat dilakukan lebih kompleks sejak berkembangnya kewartawanan digital. Banyaknya data yang tersebar dan mampu diolah melalui media digital, sering kali membuat informasi menjadi bias. Akan tetapi, pada dasarnya, kegiatan pengecekan fakta selalu berpegang pada nilai-nilai kewartawanan yang bertujuan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat.[7]
Konsep kewartawanan digital sering kali disamakan dengan kewartawanan daring, jurnalisme konvergensi, dan jurnalisme multimedia. Konsep-konsep tersebut merujuk pada pemanfaatan media digital dalam proses produksi, pengedaran, dan konsumsi informasi yang bertujuan untuk meningkatkan melek informasi. Pengertian ini lebih menekankan pada peran kewartawanan dalam kerakyatan dan bagaimana teknologi digital mendukung dalam hal kinerja redaksi, wartawanan, dan pengedaran berita.
Kegiatan kewartawanan untuk mencari, mengolah dan mengirimkan informasi atau berita sebagai suatu bentuk produk kewartawanan. Kini, masyarakat menyebutnya dengan kewartawan digital yang merupakan produk kewartawanan yang disebarkan sedunia melalui internet. Selain itu, sejak munculnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, orang-orang yang bekerja sebagai wartawan ataupun suatu media besar telah melakukan tindakan [high-wire] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan) atau kebutuhan dalam menggunakan media sosial untuk melibatkan layak dengan cara-cara yang baru dan inovatif; sementara khalayak mempunyai kekuatan untuk melakukan pengawasan, memberi pendapat, bahkan sebagai pembuat konten.
Keuntungan kewartawanan daring adalah:[8]
Konsekuensi kewartawanan daring adalah:[butuh rujukan]
Perkembangan internet yang semakin besar memaksa kewartawanan sebagai sebuah bentuk industri dan profesi mengalami perubahan dan berdampak dalam berbagai segi. Selain itu, cara kerja dari seorang wartawan pada era digital ini adalah mencari, mengolah dan menyiarkan berita. Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi kewartawanan digital adalah saat media mulai menuju pada proses konvergensi multiketerampilan, penyatuan konten warta ke dalam kewartawanan digital dan juga hubungan antara produsen dan konsumen Selain wartawan secara profesional, pada era kewartawanan digital ini juga memungkin masyarakat atau warga mempunyai peran sebagai seorang wartawan. Terdapat dua cara untuk mengumpulkan berita, yaitu: