Jong Batak Bond, atau terkadang disebut sebagai Jong Batak saja, dulu adalah sebuah organisasi intelektual Batak yang didirikan di Batavia, Hindia Belanda pada bulan Desember 1925. Seperti Budi Utomo, Jong Java, dan organisasi kesukuan lainnya, organisasi ini beranggotakan mahasiswa asli Indonesia yang berkuliah di universitas berbahasa Belanda dan berminat untuk memajukan sukunya dan nasionalisme Indonesia. Anggota terkenal dari organisasi ini meliputi Amir Sjarifoeddin, Todung Sutan Gunung Mulia, Sanusi Pane, Saleh Said Harahap, dan Arifin Harahap.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Jong Batak Bond (Bahasa Belanda untuk "asosiasi pemuda Batak"), atau terkadang disebut sebagai Jong Batak saja, dulu adalah sebuah organisasi intelektual Batak yang didirikan di Batavia, Hindia Belanda (kini Jakarta) pada bulan Desember 1925.[1][2] Seperti Budi Utomo, Jong Java, dan organisasi kesukuan lainnya, organisasi ini beranggotakan mahasiswa asli Indonesia yang berkuliah di universitas berbahasa Belanda dan berminat untuk memajukan sukunya dan nasionalisme Indonesia.[3][4][5] Anggota terkenal dari organisasi ini meliputi Amir Sjarifoeddin, Todung Sutan Gunung Mulia, Sanusi Pane, Saleh Said Harahap, dan Arifin Harahap.
Dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, organisasi ini diwakili oleh Amir Sjarifoeddin.[6] Pada tahun 1930, Jong Batak, dan sebagian besar organisasi kesukuan lainnya, telah bergabung ke dalam organisasi yang dibentuk oleh Sukarno, yakni Indonesia Muda.
Jong Batak didirikan dalam sebuah rapat di Batavia pada tanggal 6 Desember 1925 oleh sekelompok mahasiswa Batak. Rapat tersebut dipimpin oleh anggota Volksraad, Todung Sutan Gunung Mulia.[7] Ide pendirian organisasi ini berasal dari anggota Jong Sumatranen Bond berdarah Batak yang merasa bahwa organisasi tersebut terlalu didominasi oleh anggota berdarah Minangkabau.[8][9][10][11][12] Dipimpin oleh Djabangoen Harahap, Ferdinand Lumban Tobing, dan Sanusi Pane, organisasi ini pun berniat untuk mendiskusikan, mempelajari, dan memodernisasi budaya Batak, yang saat itu masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat Hindia Belanda.[12][7] Namun, organisasi ini terutama populer di kalangan Suku Batak Tobadan Suku Angkola karena kalangan Suku Karo dan Suku Mandailing saat itu tidak menggunakan label Batak dan tidak tertarik dengan organisasi ini.[12]
Organisasi ini terutama bergerak di bidang sosial. Mahasiswa berdarah Batak di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra pun menggunakan organisasi ini untuk mengadakan kompetisi sepak bola, kompetisi catur, perkumpulan sosial, dan jalan santai.[12][13] Organisasi ini juga menerbitkan koran di Weltevreden mulai bulan Januari 1926 dengan judul Jong Batak: orgaan van den Bataks Bond.[14][15][7] Koran tersebut kemungkinan terbit hingga tahun 1929.
Mulai tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926, delegasi dari Jong Batak berpartisipasi dalam Kongres Pemuda I di Weltevreden yang dipimpin oleh Mohammad Tabrani.[1][16][17] Salah satu proposal penting dalam kongres tersebut adalah menggabungkan semua organisasi kesukuan ke dalam satu organisasi, tetapi proposal tersebut tidak mendapat dukungan.[18][19] Pertemuan-pertemuan lanjutan kemudian kembali diadakan selama tahun 1927 untuk mengupayakan pembentukan organisasi tunggal, termasuk sebuah konferensi yang digelar oleh Sukarno di Bandung pada bulan Desember, di mana ia menyerukan pembentukan organisasi Indonesia Muda.[20][21] Pada Kongres Pemuda II yang diadakan pada tanggal 26–28 Oktober 1928, Amir Sjarifoeddin mewakili Jong Batak dan berpartisipasi dalam Sumpah Pemuda, yang dianggap sebagai momen penting dalam pengembangan pergerakan nasional Indonesia.[22][23][16][1] Partisipasi dari organisasi ini dalam kongres tersebut pun menandai kerja sama yang lebih erat di antara organisasi pemuda.[24]
Seiring dengan makin meningkatnya nasionalisme Indonesia, pada tahun 1930–1931, organisasi ini resmi dibubarkan bersama Jong Java dan organisasi lain yang serupa, dengan para anggotanya bergabung ke Indonesia Muda.[25][26]
Klub catur dari organisasi ini tetap eksis selama beberapa tahun setelah organisasi ini dibubarkan.

Walaupun organisasi ini berumur pendek, sejumlah anggota dari organisasi ini kemudian menjadi tokoh penting dalam pergerakan nasional Indonesia, serta dalam dunia politik setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Sanusi Pane menjadi salah satu penulis paling terkenal di Indonesia.[27] Amir Sjarifoeddin menjadi Menteri Pertahanan pada tahun 1945, dan Perdana Menteri mulai bulan Juni 1947 hingga Januari 1948. Todung Sutan Gunung Mulia, sepupu dari Sjarifuddin, menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 1945 hingga 1946 dan juga terlibat dalam pendirian Partai Kristen Indonesia. Arifin Harahap menjadi Menteri Perdagangan mulai tahun 1959 hingga 1962.
Sejak tahun 2014, diadakan festival seni tahunan di Medan, Sumatera Utara yang terinspirasi dari organisasi ini, yakni Jong Batak Art Festival.[28][29][30]
Retrieved from Delpher on 11-11-2021