Letnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot adalah Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Sebagai seorang Indo – keturunan Eurasia dari Indonesia dan Belanda – Berenschot adalah putra seorang perwira Belanda di KNIL.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gerardus Johannes Berenschot | |
|---|---|
![]() Jenderal Gerardus Johannes Berenschot | |
| Lahir | (1887-07-24)24 Juli 1887 Solok, Hindia Belanda |
| Meninggal | 13 Oktober 1941(1941-10-13) (umur 54) Batavia, Hindia Belanda |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) |
| Pangkat | |
| Komandan | Perang Aceh (1910-1915) |
| Pekerjaan lain | Profesor di Akademi Militer (1925-1930) |
Letnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot (24 Juli 1887 – 13 Oktober 1941) adalah Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger; KNIL). Sebagai seorang Indo – keturunan Eurasia dari Indonesia dan Belanda – Berenschot adalah putra seorang perwira Belanda di KNIL.
G. J. Berenschot adalah putra Gerrit Hendrik Berenschot dan Florence Mildred Rappa. Pada usia 15 tahun, ia dikirim ke Belanda dan mengikuti sekolah kadet di Alkmaar. Ia kemudian masuk Akademi Militer Kerajaan, dan lulus sebagai lulusan terbaik di kelasnya. Ia adalah satu-satunya komandan keturunan Indonesia (Indo) di Hindia Belanda.
Setelah lulus, ia kembali ke tanah kelahirannya Hindia Belanda, di mana ia menonjol sebagai perwira muda yang bertugas di KNIL selama kampanye berdarah di Aceh. Pada tahun 1911, ia dipindahkan ke Korps Marechaussee te voet.[1]
Pada tahun 1934, ia menjadi Kepala Staf Umum KNIL dan pada Juli 1939, ia dipromosikan menjadi Panglima Tertinggi.
Berenschot dianggap sebagai perwira berbakat dengan kemampuan organisasional dan mungkin Panglima Tertinggi terbaik yang pernah dimiliki KNIL. Tidak hanya sebagai prajurit yang terampil, Berenschot juga menunjukkan pemahaman yang mengesankan tentang politik dan diplomasi. Setelah jatuhnya Belanda pada tahun 1940, Berenschot ikut serta dalam konferensi yang melibatkan pemimpin Sekutu di Singapura, di mana ia disukai dan dihormati oleh rekan-rekannya dari Inggris dan Amerika Serikat.
Pada 13 Oktober 1941, pesawat yang membawa Bereschot kembali dari konferensi dengan Marsekal Udara Britania Robert Brooke-Popham jatuh di pinggiran Batavia. Tidak ada yang selamat. Atas perintah pemerintah kolonial, semua bendera di gedung-gedung publik dikibarkan setengah tiang. Jenazah Bereschot dimakamkan di Ereveld Pandu di Bandung.
Jabatan Bereschot sebagai Panglima Tertinggi KNIL diberikan kepada Letnan Jenderal Hein ter Poorten, yang memiliki tugas berat untuk mempersiapkan Hindia Belanda menghadapi perang yang akan datang dengan Jepang.

Berenschot telah menikah dan memiliki tiga anak. Saudaranya adalah Berend Willem Berenschot.
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Murk Boerstra |
Komandan KNIL 1939-1941 |
Diteruskan oleh: Hein ter Poorten |