Anne Jennifer Morton,, dikenal sebagai Jenny Morton, adalah seorang neurobiologi dan akademisi asal Selandia Baru yang mengkhususkan diri dalam penelitian penyakit neurodegeneratif. Ia telah menjadi Fellow di Newnham College, Cambridge sejak 1991 dan diangkat sebagai Profesor Neurobiologi di Universitas Cambridge pada tahun 2009. Penelitiannya saat ini berfokus pada Penyakit Huntington, dengan menggunakan domba sebagai model hewan besar untuk mempelajari penyakit tersebut. Penelitian ini membawanya pada temuan bahwa domba mampu mengenali wajah manusia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Maret 2025) |
| Jenny Morton | |
|---|---|
| Lahir | Anne Jennifer Morton Kaikohe, Selandia Baru |
| Kebangsaan | Selandia Baru |
| Almamater | |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | |
| Institusi | Newnham College, Cambridge |
Anne Jennifer Morton, , dikenal sebagai Jenny Morton, adalah seorang neurobiologi dan akademisi asal Selandia Baru yang mengkhususkan diri dalam penelitian penyakit neurodegeneratif. Ia telah menjadi Fellow di Newnham College, Cambridge sejak 1991 dan diangkat sebagai Profesor Neurobiologi di Universitas Cambridge pada tahun 2009. Penelitiannya saat ini berfokus pada Penyakit Huntington, dengan menggunakan domba sebagai model hewan besar untuk mempelajari penyakit tersebut. Penelitian ini membawanya pada temuan bahwa domba mampu mengenali wajah manusia.
Morton lahir di Kaikohe, Selandia Baru,[1] dan dibesarkan di wilayah Far North District.[2]
Ia menyelesaikan penelitian doktoralnya di bidang fisiologi di Universitas Otago, meraih gelar PhD pada tahun 1983.[3][4] Pada 21 Februari 2009, ia menerima gelar MA Cantab dari Universitas Cambridge.[5] Morton kemudian dianugerahi gelar Doctor of Science (ScD) dari universitas yang sama pada tahun 2014.[3]
Setelah menyelesaikan gelar doktoralnya, Morton pindah ke Inggris untuk bergabung dengan Departemen Farmakologi di Universitas Cambridge sebagai peneliti pascadoktoral.[3] Pada tahun 1991, ia diangkat sebagai dosen di universitas tersebut dan terpilih sebagai Fellow di Newnham College, Cambridge.[3] Sejak tahun 1995, ia menjabat sebagai direktur studi di bidang kedokteran dan kedokteran hewan di Newnham College.[3][6]
Pada tahun 2005, Morton mendapatkan jabatan sebagai Reader dalam bidang Neurobiologi Eksperimental di Departemen Farmakologi.[7] Kemudian, pada tahun 2009, ia diangkat menjadi Profesor Neurobiologi di Departemen Fisiologi, Perkembangan, dan Ilmu Saraf.[8]
Ia merupakan perempuan asal Selandia Baru pertama yang diangkat sebagai profesor di Cambridge.[9]
Antara Oktober 2009 hingga September 2010, Morton menerima Royal Society Leverhulme Trust Senior Research Fellowship, sebuah beasiswa bergengsi untuk peneliti senior.[10] Pada tahun 2015, ia diundang menjadi Visiting Seelye Fellow di Universitas Auckland.[2][11]
Penelitian Morton saat ini berfokus pada "memahami mekanisme yang mendasari neurodegenerasi serta mengembangkan strategi untuk menunda atau mencegah kematian neuron pada otak yang terluka atau mengalami degenerasi".[12]
Ia mulai meneliti penyakit Huntington sejak tahun 1993.[2][3] Morton awalnya menggunakan tikus transgenik dalam penelitiannya, tetapi kemudian beralih ke domba transgenik sebagai model hewan besar untuk penyakit Huntington.[10][11]
Penelitiannya dengan domba juga membawanya tertarik meneliti kemampuan kognisi hewan tersebut.[6] Timnya berhasil melatih domba agar dapat memilih wajah yang dikenal dibandingkan wajah asing saat diperlihatkan dua foto. Penemuan ini menunjukkan bahwa domba mampu melakukan pengenalan wajah manusia.[13][14]
Morton terpilih sebagai Fellow of the Royal Society of Biology (FRSB), sebuah penghargaan bergengsi bagi ilmuwan biologi.[3]