Jembatan Shiratal Mustaqim adalah film horor triler Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Bounty Umbara, berdasarkan skenario yang ditulis Erwanto Alphadullah. Film ini dibintangi oleh Imelda Therinne, Raihan Khan, Agus Kuncoro, Mike Lucock dan Eduward Manalu, dengan alur cerita yang berfokus pada Arya, seorang mahasiswa yang sering dihantui oleh penglihatan tentang jembatan Shiratal Mustaqim setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan mobil.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Jembatan Shiratal Mustaqim | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Bounty Umbara |
| Produser | Dheeraj Kalwani |
| Ditulis oleh | Erwanto Alphadullah |
| Pemeran |
|
| Penata musik | AL |
| Sinematografer | Dicky R. Maland |
| Penyunting | Kelvin Nugroho |
Perusahaan produksi | |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 96 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Indonesia |
Jembatan Shiratal Mustaqim adalah film horor triler Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Bounty Umbara, berdasarkan skenario yang ditulis Erwanto Alphadullah. Film ini dibintangi oleh Imelda Therinne, Raihan Khan, Agus Kuncoro, Mike Lucock dan Eduward Manalu, dengan alur cerita yang berfokus pada Arya, seorang mahasiswa yang sering dihantui oleh penglihatan tentang jembatan Shiratal Mustaqim setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan mobil.
Jembatan Shiratal Mustaqim ditayangkan di bioskop pada 9 Oktober 2025, dan ditayangkan di Netflix pada 19 Februari 2026.[1]
Sebuah tsunami besar menghancurkan sebuah wilayah pesisir. Banyak warga meninggal, desa hancur, dan para penyintas hidup dalam trauma mendalam. Mengikuti jejak ayahnya (Malik), seorang wakil menteri yang aktif dalam menangani bantuan kemanusiaan, Arya, seorang mahasiswa memberikan presentasi di hadapan para mahasiswa demi mengumpulkan dana untuk bantuan kepada korban bencana yang terdampak. Malam harinya, ketika ayahnya pulang, Arya menunjukkan gambar-gambar masa kecil yang ditemukannya. Setelah menyalin data dari handphone ke flashdisk, Malik memutuskan untuk keluar rumah lagi. Tetapi karena pengawalnya ngotot untuk mengawalnya keluar, Malik batal pergi. Tidak lama, Malik meminta bantuan Arya untuk mengantarkannya ke rumah lama mereka agar bisa secara diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan pengawalnya. Di tol, mobil mereka tertabrak sebuah truk yang melaju kencang, sehingga menyebabkan Malik meninggal seketika, sementara Arya berhasil selamat. Saat tak sadarkan diri, Arya mendapatkan penglihatan orang-orang yang jatuh pada saat melintasi jembatan Shiratal Mustaqim.
Mengingat bahwa rencana ayahnya pada saat sebelum meninggal adalah mengunjungi rumah lamanya, Arya beserta ibunya (Laras) pergi menuju ke rumah lama mereka. Di sana mereka menemukan sejumlah besar uang yang ditaruh di dalam kotak-kotak di sebuah lemari. Mereka kemudian mendengarkan rekaman percakapan antara Malik dan Alim (seorang menteri, yang menjadi atasan Malik) yang sedang membahas tentang sebuah video mengenai korban bencana di desa Asah yang terupload di media sosial. Alim menyuruh bawahannya untuk segera menghapus video tersebut dan mencegah video-video sejenis terupload di media sosial. Laras menyadari bahwa Malik dan Alim telah membuat laporan palsu agar dapat mengkorupsi dana bantuan yang seharusnya digunakan untuk bencana. Arya menolak untuk percaya bahwa ayahnya secara sengaja melakukan korupsi.
Arya mendatangi Alim dan meminta kebenaran mengenai semua laporan palsu yang ditemukannya. Alim mengakui tindakan korupsi tersebut dan menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan segala tindakan tersebut bila semua itu dilakukan demi kebahagiaan keluarga masing-masing. Arya merasa kecewa dengan ayahnya yang selama ini selalu dipandangnya sebagai orang yang jujur. Malamnya, baik Laras maupun Arya sama-sama bermimpi mengenai Malik. Dalam mimpi, Malik meminta tolong kepada Arya untuk bisa menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqim. Keesokan harinya, mereka mendapatkan sebuah paket yang berisi ancaman dan meminta mereka untuk tutup mulut, serta menikmati uang hasil korupsi tersebut. Laras menolak untuk tunduk dan memutuskan untuk menjual kalung pemberian suaminya dan mobil pribadinya untuk ditambahkan pada uang-uang yang mereka temukan sebagai dana bantuan untuk desa Asah. Mereka langsung menuju ke salah satu posko bencana dari salah satu teman Laras, Panji, yang merupakan salah satu petugas tim penanganan bencana. Laras menceritakan kasus korupsi tersebut kepada Panji dan menuju ke desa Asah. Dalam perjalanan, mereka melihat seorang pria tergeletak di tengah jalan, di mana ternyata pria tersebut hanya berpura-pura menjadi korban dan merupakan pelaku tabrakan mobil yang membunuh Malik dan orang yang sama yang mengirimkan paket ancaman kepada keluarga Arya. Dia menembak Panji yang mencoba menolongnya, di mana peluru mengenai telinganya. Mereka bertiga berhasil meloloskan diri dan sampai di desa Asah. Pria tersebut berhasil menyusul dan mencoba membunuh mereka semua. Panji sempat menyergap pria tersebut, tapi pada akhirnya terbunuh. Setelah sempat terjadi pergulatan, Arya dan Laras diselamatkan reruntuhan bangunan yang menimpa pria tersebut hingga tewas.
Beberapa saat setelah itu, ada sebuah akun X yang melaporkan mengenai dugaan korupsi yang dilakukan oleh Alim terhadap dana bantuan kepada desa Asah. Alim pada akhirnya bebas karena tidak ditemukan cukup bukti mengenai korupsi yang dilakukannya. Setelah menelpon Arya, Alim tidur di sofanya dan masuk ke akhirat. Di sana, dia menyeberangi jembatan yang terbuat dari uang dan terjatuh ke bawah, serta dihancurkan oleh tentakel neraka. Tidak lama kemudian, pembunuh bayaran dikirim untuk membunuh Laras dan Arya di rumah mereka. Di akhirat, Laras dan Arya berhasil menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqim dan mencapai surga. Mereka kemudian melihat Malik yang gagal saat mencoba menyeberangi jembatan dan terjatuh ke api neraka.
Merupakan prekuel dari Siksa Neraka (2023),[2] produksi film ini disebut oleh produser Dheeraj Kalwani memiliki tantangan dalam hal visualisasi latar belakangnya, khususnya penggambaran dunia akhirat. Kalwani menjelaskan bahwa penggarapan CGI untuk film ini memakan waktu satu tahun untuk mencapai hasil maksimal.[2][3]