Jatenggar Siregar adalah seorang tokoh militer dari fraksi Kaum Padri di tanah Batak pada abad ke-19. Namanya dikenal dalam historiografi yang ditulis oleh Mangaradja Onggang Parlindungan sebagai sosok yang menewaskan Sisingamangaraja X dalam Pertempuran Bakkara tahun 1819.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jatenggar Siregar | |
|---|---|
| Lahir | ca 1791 |
| Meninggal | Sipirok, Tapanuli Selatan |
| Pekerjaan | Tokoh militer Kaum Padri |
| Dikenal atas | Duel melawan Sisingamangaraja X |
Jatenggar Siregar (diperkirakan lahir sekitar tahun 1791) adalah seorang tokoh militer dari fraksi Kaum Padri di tanah Batak pada abad ke-19. Namanya dikenal dalam historiografi yang ditulis oleh Mangaradja Onggang Parlindungan sebagai sosok yang menewaskan Sisingamangaraja X dalam Pertempuran Bakkara tahun 1819.[1]
Menurut catatan dalam buku Tuanku Rao, Jatenggar Siregar merupakan salah satu panglima perang yang terlibat dalam invasi pasukan Padri ke wilayah Bakkara, yang merupakan pusat kekuasaan dinasti Sisingamangaraja.
Pada tahun 1819, terjadi pertempuran sengit di Bakkara. Dalam pertempuran tersebut, dikisahkan terjadi duel pedang satu lawan satu antara Jatenggar Siregar melawan Raja Sisingamangaraja X. Duel tersebut berakhir dengan tewasnya Sisingamangaraja X di tangan Jatenggar Siregar. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik penting dalam ekspansi pengaruh Padri di wilayah Toba.[1]
Informasi mengenai detail kehidupan Jatenggar Siregar, terutama keterlibatannya dalam perang, baru terungkap jauh setelah perang usai. Pada tahun 1871, tokoh pendidikan Mandailing, Willem Iskander, berhasil menemui Jatenggar Siregar yang saat itu tinggal di Bagaslombang, Sipirok.[1]
Saat wawancara tersebut terjadi, Jatenggar diperkirakan telah berusia sekitar 80 tahun.
Willem Iskander mencatat bahwa Jatenggar Siregar dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup (very tight lipped) mengenai masa lalunya di pasukan Padri. Sikap diam ini dipicu oleh trauma atas nasib sahabatnya, Jagorga Harahap (gelar Tuanku Daulat). Jagorga tewas akibat penyiksaan saat diinterogasi oleh Tentara Belanda yang mencari keberadaan harta karun peninggalan Tuanku Lelo. Harta tersebut konon disembunyikan di lokasi bawah tanah di sekitar pasar Padangsidimpuan.[1]
Meskipun demikian, Willem Iskander menggunakan pendekatan persuasif yang berhasil membuat Jatenggar membuka suara. Dari wawancara di rumahnya tersebut, diperoleh petunjuk-petunjuk taktis dan historis mengenai pergerakan pasukan Padri dan detail Pertempuran Bakkara 1819.