Jalan Ahmad Yani adalah nama salah satu jalan utama di Kota Banjarmasin dan merupakan pusat aktivitas ekonomi dan bisnis di kota ini. Nama jalan ini diambil dari nama seorang pahlawan revolusi Indonesia, yaitu Jenderal Ahmad Yani.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
|
Jalan Layang Gatot Subroto, jalan layang pertama di Banjarmasin yang berada di Jalan Ahmad Yani. | |||
| Nama sebelumnya | Jalan Ulin | ||
|---|---|---|---|
| Panjang | 6 km (4 mi) | ||
| Lokasi | Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Timur, dan Banjarmasin Selatan | ||
| Dari | Jembatan Dewi | ||
| Menuju | Gerbang Batas Kota Banjarmasin | ||
Jalan Ahmad Yani adalah nama salah satu jalan utama di Kota Banjarmasin dan merupakan pusat aktivitas ekonomi dan bisnis di kota ini. Nama jalan ini diambil dari nama seorang pahlawan revolusi Indonesia, yaitu Jenderal Ahmad Yani.[1] [2]
Sejarah Jalan Ahmad Yani di Banjarmasin berawal pada era Hindia Belanda ketika pemerintah kolonial mulai membangun infrastruktur jalan darat pada awal dekade 1930-an sebagai pelengkap jalur sungai yang telah lama menjadi rute utama transportasi.
Jalur sungai pada masa itu dinilai semakin tidak memadai karena rawan longsor, terlalu sempit, dan sulit dipelihara sehingga diperlukan alternatif yang lebih stabil. Sebagai tanggapan atas kondisi tersebut, dibangunlah sebuah jalan penghubung antara Banjarmasin, Martapura, dan kawasan Hulu Sungai.
Jalan ini dikenal dengan nama Jalan Ulin atau Oelinweg yang kemudian berkembang dan berubah nama menjadi Jalan Ahmad Yani. Di sisi kiri dan kanan jalan turut dibangun kanal air untuk memperlancar drainase serta membantu pergerakan logistik sehingga kemudian dikenal sebagai Kanal Ulin.
Pada awal pengerjaannya, jalan ini masih berupa jalan pos yang kasar dan belum beraspal, tetapi pada 1938–1939 mulai dilakukan pelebaran dan perbaikan besar-besaran hingga mencapai tahap pengaspalan menyeluruh. Pengerjaan tersebut menandai perubahan besar dalam sistem transportasi Banjarmasin dari jaringan sungai menuju jaringan darat.
Jalan ini dinamakan Jalan Ulin sebagai jalan baru. Jalan ini adalah jalan alternatif selain Jalan Martapura Lama (jalan lama) yang sudah ada sebelumnya. Diperkirakan jalur lama yang dimaksud adalah rute darat yang mengikuti tepian Sungai Martapura, yakni jalur yang ditempuh dari Banjarmasin melalui Sungai Tabuk menuju Martapura. Jalan lama tersebut dianggap terlalu sempit serta sepenuhnya mengikuti liku aliran sungai sehingga penuh tikungan.
Di beberapa titik terdapat bukit yang rawan longsor sehingga jalan kerap tertutup material. Kondisi ini membuat jalur tersebut dipandang berisiko karena sangat dipengaruhi keadaan geografis Sungai Martapura. Setiap tahun pemerintah harus mengeluarkan dana besar untuk membangun dan memperkuat tanggul. Pada tahun yang sama, pelebaran mulai dilakukan di sisi darat dengan penambahan lebar sekitar satu meter.
Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan batang pohon galam sebagai fondasi dasar terutama pada kawasan rawa yang labil karena teknik lokal ini dinilai efektif pada masa itu mengingat kayu galam tahan terhadap genangan air dan mampu memperkuat struktur jalan.
Setelah Indonesia merdeka, nama Jalan Ulin tetap digunakan hingga memasuki masa Orde Baru. Pada 1970-an, dalam rangka pelaksanaan rencana induk Pelita I, nama Jalan Ulin resmi diganti menjadi Jalan Jenderal Ahmad Yani sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia. Seiring perubahan nama tersebut, kawasan di sepanjang jalan ini mulai mengalami peningkatan pembangunan yang membawa perubahan signifikan bagi struktur kota serta pola pergerakan masyarakat di Banjarmasin dan wilayah sekitar. [2]
Jalan Ahmad Yani memiliki banyak persimpangan, yaitu: