Jadav “Molai” Payeng adalah seorang aktivis lingkungan dan pekerja kehutanan asal Majuli, India. Ia dihargai atas upayanya menanam dan memelihara ribuan pohon di gundukan pasir di Sungai Brahmaputra selama beberapa dekade, yang kemudian berkembang menjadi kawasan hutan lindung yang luas. Payeng berasal dari komunitas adat Mising di Assam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Jadav Payeng | |
|---|---|
Manusia Hutan India | |
| Lahir | Payeng 31 Oktober 1959 Jorhat, Assam, India |
| Nama lain | Molai |
| Kewarganegaraan | Indian |
| Pekerjaan | Aktivis Lingkungan |
| Tahun aktif | 1959 |
| Suami/istri | Binita |
| Anak | 3 |
| Penghargaan | Padma Shri (2015) |
| |
Jadav “Molai” Payeng (lahir 31 Oktober 1959) adalah seorang aktivis lingkungan dan pekerja kehutanan asal Majuli, India. Ia dihargai atas upayanya menanam dan memelihara ribuan pohon di gundukan pasir di Sungai Brahmaputra selama beberapa dekade, yang kemudian berkembang menjadi kawasan hutan lindung yang luas. Payeng berasal dari komunitas adat Mising di Assam.[1]
Jadav Payeng adalah seorang aktivis lingkungan asal Assam, India, yang dikenal karena keberhasilannya mengubah sebuah chapori atau gundukan pasir sungai di Sungai Brahmaputra menjadi kawasan hutan lindung. Upayanya dimulai pada tahun 1979, ketika ia masih berusia 16 tahun. Saat itu, ia menyaksikan ratusan ular mati akibat kekeringan di Pulau Majuli, pulau sungai terbesar di dunia. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mulai menanam pohon guna memulihkan ekosistem setempat. Payeng berasal dari keluarga sederhana di komunitas suku Mising dan merupakan putra seorang pedagang kerbau. Pada akhir 1970-an, Divisi Kehutanan Assam sempat merintis program penghijauan seluas 200 hektare di wilayah tersebut, tetapi program itu berhenti pada 1983. Sejak saat itu, Payeng merawat dan mengembangkan kawasan tersebut seorang diri selama lebih dari tiga dekade, dimulai dengan penanaman bambu dan dilanjutkan dengan berbagai spesies pohon lainnya. Hutan yang kemudian dikenal sebagai "Hutan Molai" ini terus meluas hingga melampaui ukuran Central Park di New York, dan kini menjadi habitat bagi harimau Bengal, badak India, rusa, kelinci, monyet, reptil, serta berbagai jenis burung, termasuk burung nasar. Atas dedikasi jangka panjangnya dalam konservasi, ia dijuluki sebagai "Manusia Hutan India". Kisahnya mulai dikenal luas pada tahun 2007 setelah seorang jurnalis foto mendokumentasikan hasil kerjanya. Publikasi tersebut menarik perhatian pemerintah India dan masyarakat internasional. Ia kemudian menerima berbagai penghargaan, memberikan ceramah TED (Technology, Entertainment, Design), dan memperkenalkan sejumlah solusi lingkungan, termasuk penanaman pohon kelapa untuk menanggulangi erosi tanah di Majuli. Selama lebih dari 40 tahun, ia secara konsisten menanam pohon setiap hari hingga hutan yang dibangunnya mencapai sekitar 1.390 hektare. Sebagai bentuk penghargaan, kawasan tersebut secara resmi dinamai Hutan Molai. Kisah hidupnya juga menginspirasi berbagai karya, termasuk buku anak-anak Jadav and the Tree Place serta sebuah film dokumenter pemenang penghargaan. Ceritanya bahkan dijadikan materi pembelajaran ekologi di beberapa sekolah di Amerika Serikat dan negara lain.[2][3][1]