Dalam kronologi sejarah Islam, dimulainya Islam di Kutub Utara, relatif terlambat yang disebabkan karena wilayah lingkaran Arktik berada pada jarak yang sangat jauh dari benteng-benteng kekuasaan dan pemukiman muslim tradisional. Bagi umat muslim yang tinggal di wilayah tersebut, terdapat pergeseran budaya yang unik, karena pengaruh kondisi iklim dan kota-kota di wilayah utara yang jauh terpencil, termasuk di antaranya kecenderungan umat menjadi plural, ketika Sunni dan Syiah tidak lagi memisahkan diri. Ketika Salat lima waktu tidak mungkin dilaksanakan di wilayah-wilayah tertentu karena bersamaan dengan waktu matahari terbenam dan fajar, yang disebabkan adanya fenomena matahari tengah malam atau malam kutub, para umat muslim di wilayah tersebut umumnya mengacu kepada waktu Salat wilayah bagian selatan, waktu kota suci Makkah atau waktu Salat di kampung halamannya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Dalam kronologi sejarah Islam, dimulainya Islam di Kutub Utara, relatif terlambat yang disebabkan karena wilayah lingkaran Arktik berada pada jarak yang sangat jauh dari benteng-benteng kekuasaan dan pemukiman muslim tradisional. Bagi umat muslim yang tinggal di wilayah tersebut, terdapat pergeseran budaya yang unik,[1] karena pengaruh kondisi iklim dan kota-kota di wilayah utara yang jauh terpencil, termasuk di antaranya kecenderungan umat menjadi plural, ketika Sunni dan Syiah tidak lagi memisahkan diri.[1] Ketika Salat lima waktu tidak mungkin dilaksanakan di wilayah-wilayah tertentu karena bersamaan dengan waktu matahari terbenam dan fajar, yang disebabkan adanya fenomena matahari tengah malam atau malam kutub, para umat muslim di wilayah tersebut umumnya mengacu kepada waktu Salat wilayah bagian selatan, waktu kota suci Makkah atau waktu Salat di kampung halamannya.[2]
Merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk berpuasa di bulan Ramadhan yang dimulai pada saat fajar dan berakhir ketika matahari terbenam.[3][4] Wilayah Arktik mengalami fenomena yang dikenal sebagai peristiwa matahari tengah malam, kira-kira ketika terjadinya titik balik matahari musim panas.[5] Selama kurun waktu tersebut, hanya sedikit atau tidak ada kegelapan dalam periode dua puluh empat jam. Di sisi lain, saat terjadinya titik balik matahari musim dingin di wilayah yang sama, hanya sedikit atau tidak ada cahaya matahari sama sekali. Oleh karenanya, metode konvesional penentuan periode puasa berdasarkan intensitas cahaya matahari, tidak dapat digunakan.
Kalender Islam berdasarkan bulan lunar dan tahun Islam selisih sekitar 10 atau 11 hari lebih pendek dari tahun matahari. Dengan demikian, bulan Ramadan jatuh lebih awal setiap tahun dibandingkan tahun sebelumnya dan terus maju setiap tahunnya, hingga kembali ke tanggal awal tahun matahari, setiap 33-34 tahun.[6] Pada tahun-tahun ketika bulan Ramadhan jatuh pada waktu tengah malam atau ketika jatuh pada periode tanpa siang hari, umat Islam yang tinggal di wilayah kutub harus memiliki cara untuk menentukan waktu puasa yang tepat.[7]
Di Kutub Utara, umat Islam secara umum dianjurkan oleh pihak otoritas agama untuk memilih salah satu solusi dari tiga pilihan. Pertama, apabila terdapat kendala kesehatan yang bersifat mayor terhadap praktik puasa mereka selama bulan yang ditentukan, mereka dapat mengganti hari-hari puasa Ramadan di lain waktu dalam periode satu tahun.[8][9] Kedua, mereka mungkin dapat merujuk kepada waktu masyarakat wilayah muslim terdekat yang tidak mengalami masalah dengan fenomena matahari tengah malam. Pendekatan ini diambil oleh mayoritas Muslim yang tinggal di wilayah Iqaluit, Kanada, yang memutuskan untuk mengikuti waktu Ottawa, sementara mereka yang tinggal di Inuvik memutuskan untuk mengikuti waktu di Edmonton.[9] Ketiga, mereka dapat mengikuti jadwal waktu shalat di kota suci Makkah, seperti yang dilakukan oleh komunitas Muslim di Tromsø, Norwegia, tahun 2013.[7] Meskipun demikian, walaupun sulit untuk menjalankan ibadah puasa selama hari-hari musim panas yang sangat panjang, banyak umat Muslim di wilayah utara memilih untuk mengikuti waktu setempat dan berpuasa dalam periode siang hari yang panjang selama matahari terbenam setidaknya beberapa waktu setiap hari.[10][11]
Keberadaan Islam di wilayah utara dan arktik, telah hadir lebih dari seribu tahun lampau. Dalam riwayat perjalanan Ahmad bin Fadlan ke Bulgaria Volga.[12][13]
Kemudian, para penulis Muslim abad pertengahan juga mengomentari malam-malam pendek di Bulgaria Volga selama musim panas. Bagaimanapun juga, meskipun isu terkait lingkungan yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban beribadah di wilayah utara telah diketahui oleh dunia Islam, topik mengenai hal ini cenderung diabaikan oleh para penulis dan cendekiawan Muslim.[13]
Negara Islam yang terletak paling utara adalah Kekhanan Sibir yang berpusat di Siberia. Teritorialnya meliputi sebagian pantai Samudra Arktik.[14]
Isu mengenai bagaimana pelaksanaan salat yang harus dilaksanakan di wilayah utara, mulai mengemuka pada abad ke-18, ketika reformis Muslim Rusia yang bernama Abu Nasr Qursawi berpendapat bahwa Salat Isya harus selalu dilaksanakan, sementara waktu khusus salat selama musim panas, harus ditentukan melalui ijtihad. Hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh sebagian besar ulama di Rusia yang berpendapat bahwa salat tidak boleh dilakukan pada bulan-bulan musim panas, karena kondisi matahari tidak terpenuhi.[13]

Sebuah studi tahun 2019 menggambarkan tentang perkembangan komunitas Muslim di Arktik Rusia telah 'berkembang pesat' dalam dua dekade terakhir. Upaya awal untuk membangun sebuah masjid di kota utama (Yakutsk, terletak 450 kilometer di selatan Lingkar Arktik) menemui kegagalan ketika pecah Perang Dunia I yang disusul dengan peristiwa Revolusi Oktober. Namun, pada 1996, tempat tersebut menjadi lokasi masjid terbesar di dunia yang berada di belahan bumi utara, yang dapat menampung hingga 3.000 jamaah.[1]

Sejak abad ke-19, para Mullah memiliki keraguan untuk mengakui otoritas jauh.[1] Pada era Uni Soviet, umat Islam dipayungi oleh lembaga Badan Spiritual untuk Muslim Rusia (CDUMES), sementara badan lain dibentuk untuk membawahi wilayah Kaukasus Utara, Azerbaijan dan Asia Tengah. Setelah runtuhnya Uni Soviet, CDUMES terpecah karena konflik internal dan terbagi menjadi dua lembaga keagamaan, di antaranya lembaga untuk wilayah Rusia di bagian Eropa (CDUMR) dan lembaga untuk wilayah Rusia itu sendiri (DUM AChR). Pada 1996, dibentuk lembaga ketiga, yakni Mufti yang berbasis di Moskwa,[1] yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan pemerintah.[1] Pada 1998, masjid pertama dibangun di kota industri Norilsk dan populasi umat Islam di kota tersebut diperkirakan mencapai 20% dari total jumlah penduduk hingga tahun 2007. Umumnya penduduk yang berasal dari Dagestan, Asia Tengah dan Azerbaijan.[15]
Pada 2019, hampir setiap kota Arktik di Rusia, memiliki populasi Muslim, dengan 59 masjid dan musala yang tersebar di seluruh Arktik, kecuali di Okrug Otonom Nenets dan Chukotka.[1] Bahkan sebuah jurnal yang bertajuk Islam di Yakutia, diterbitkan secara berkala di Neryungri.[1] Pada 2014, sejumlah besar etnis Rusia di Tyumen, yang wilayahnya memiliki 30 masjid di wilayah utara, tercatat masyarakatnya telah menjadi mualaf.[16]
Terdapat berbagai tantangan bagi keberadaan umat Muslim di wilayah Arktik, di antaranya kelompok masyarakat di kota Vorkuta yang terdiri dari kelompok skinhead dan kelompok nasionalis kulit putih yang mendominasi pada era 90-an dan 2000-an, serta kelompok nasionalis Rusia yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan masjid di sana.[1]
Amerika Serikat membangun Pusat Komunitas Islam Anchorage Alaska (ICCAA) di Anchorage yang dimulai pada 2010. ICCAA melayani sekitar 3.000 warga muslim setempat.[17][18] ICCAA menetapkan jadwal Salat sesuai dengan waktu di Makkah, karena terdapat perbedaan waktu siang dan malam pada musim dingin dan musim panas.[19]
Pada 1905, Ali Abouchadi bersama pamannya dan seorang teman, menjadi bagian dari Demam Emas Yukon. Mereka beremigrasi dari Lebanon untuk turut ambil bagian dalam mencari keberuntungan ke wilayah utara Kanada tersebut. Wilayah paling utara yang dapat mereka capai adalah sebuah kampung di Lac La Biche, Alberta, yang berjarak sekitar 220 kilometer arah timur laut kota Edmonton. Hal ini juga menyebabkan imigrasi penduduk Muslim Lebanon secara bertahap ke Lac La Biche.[20]
Setelah Perang Dunia I, Peter Baker, seorang Muslim Lebanon, memulai usahanya dalam mengirimkan pasokan barang-barang kebutuhan bagi para penambang minyak dari wilayah utara Edmonton ke Sungai Mackenzie. Peter memulai usahanya bersama John Morie.[21] Peter memiliki hubungan dekat dengan suku-suku asli di Kutub Utara, karena ia telah mempelajari bahasa setempat, yakni bahasa Dogrib dan Slavey. Hal ini membuat pesaing bisnisnya merasa jengkel. Ketika para penduduk asli diberikan hak untuk memilih pada 1960, Baker terpilih sebagai Anggota Majelis Legislatif untuk daerah pemilihan Mackenzie Utara pada 1964.[21]
Masjid barat pertama yang dibangun di Arktik adalah Masjid Matahari Tengah Malam pada 2010. Masjid tersebut dibangun oleh Zubaidah Tallab Foundation (ZTF) secara prafabrikasi jauh di wilayah selatan di Manitoba, kemudian dikirim ke lokasinya berada saat ini sejauh 4.000 km, untuk menghemat biaya pembangunan.[22][23]
Suku yang mendiami wilayah paling utara adalah suku Veps di Finlandia yang terkait dengan para pedagang muslim pada awal abad Islam oleh suku Azerbaijan yang memperdagangkan pedang dan bulu-bulu hewan.[24] Pada 2018, sebuah studi terhadap umat Muslim Finlandia yang mendiami Lingkaran Arktik, terdapat para imigran yang berasal dari Palestina, Irak, Persia, Turki, Bengali, Somalia, Pakistan dan Afganistan yang mempraktikkan ajaran Sunni.[25]